deSista – PRAS

Liburan lebaran kemarin rasanya makin lengkap ketika bisa kembali bersamanya, walau hanya hitungan jam. Tidak terbayangkan bisa bertemu kembali setelah setelah hampir satu tahun berpisah dengannya. Dia? Sista, demikian kami biasa saling sapa. Siapa sangka persahabatan yang bermula sedari bangku sekolah menengah umum berlanjut hingga detik ini. Itu berarti telah 13 tahun kami menjalaninya, sama

Pilih Bertengkar atau Diam?

Berkomunikasi itu ada seninya. Setidaknya begitulah yang saya rasa selama ini. Apa lagi kalau sudah berurusan dengan orang tua, dengan ibu dan bapak. Di zaman saya kecil saya anak yang manja. Apa-apa mau dituruti, kalau orang Jawa bilang sak dheg sak nyet, seketika itu pokoknya. Seiring dengan bertambahnya usia, pengalaman, dan kemampuan berpikir; ada yang

Especially for You

Dearest you, my beloved Captain Cartenz.. Menemukan engkau tersenyum seperti malam itu adalah sebuah anugerah Tuhan untukku. Selepas perjalanan panjang yang kau tempuh, yang bahkan tak bisa kubayangkan hingga detik ini, engkau masih bisa menemaniku berjalan menikmati keramaian pusat kota. Di sana, ya, Jogja nol km. Masih ingatkah engkau pada nasi uduk yang kita nikmati

Yang Tak Terkatakan

Dearest Ibu, Salam takzimku untukmu. Untuk engkau, sesosok perempuan yang menjadi penghubung antara dunia gelap dalam rahim hingga ke kehidupanku sekarang. Tiada lain kesyukuran kuhaturkan ke hadirat-Nya, Allahu Rabb yang telah sudi memberi karunia seseorang seperti engkau, Ibu. Rabb tak pernah memberiku pengertian sebelumnya tentang siapa dirimu sebelum dilahirkan, tentu itu semua ada tujuannya. Agar