Rachel Carson: When the Spring’s Silent

Siapa yang tak kenal dengan tokoh perempuan yang satu ini? Ia adalah satu di antara sekian banyak perempuan cemerlang di dunia. Hmm, bolehlah kita tak mengenal sosoknya karena hidup di zaman yang berbeda, tapi dari jejak tulisannya setidaknya kita bisa jauh lebih paham tentang manusia sebagai pemulia, pemakmur sekaligus pencetus kehancuran alam sekitar. Awalnya, saya juga tak pernah mengenal sosok ilmuwan cantik ini. Baru ketika untuk kali pertama saya mendengar namanya dalam sebuah kuliah semester 4, Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan.. hmm, saya mulai mengerti siapa perempuan hebat berkebangsaan Amerika Serikat ini.

Baiklah, sedikit lebih dekat dengan beliau. Rachel Carson, lengkapnya Rachel Louise Carson, dilahirkan 27 Mei 1907 di Springdale, Pennsylvania. Anak bungsu dari tiga bersaudara putri pasangan Robert dan Maris Carson ini bersekolah di sekolah negeri Springdale. Sangat tertarik pada kepenulisan, pada usia mudanya beliau pernah mengirimkan cerita, puisi, dan esai, serta memenangkan beberapa hadiah dari St. Nicholas Magazine atas kontribusinya.

Setelah diterima di Pennsylvania College for Women (sekarang menjadi Chatham College), minat beliau terhadap biologi berkembang pesat. Di sana, beliau pun pernah terpilih menjadi ketua kelompok ilmiah, dan lulus dengan menyandang magna cumlaude pada tahun 1929. Setelah memutuskan untuk melanjutkan karinya dalam bidang yang sama, beliau pun melanjutkan studi di Johns Hopkins University tahun 1930. Di sanalah, Rachel muda mempelajari genetika di bawah bimbingan H.S. Jennings dan Raymond Pearl. Setelah mendapat gelar M.S. pada tahun 1932, beliau mendapat posisi sebagai pengajar paruh waktu di Johns Hopkins dan University of Maryland hingga tahun 1936.

Beliau kemudian bergabung dengan U.S. Fish and Wildlife Service di Washington DC sebagai ilmuwan biologi perairan dan memulai aktivitas penerbitannya dengan seri artikel yang bertema kelautan untuk Baltimore Sun. Publikasi perdananya, sebuah artikel bertajuk “Undersea,” diterbitkan pada bulan September 1937 mengangkat tema The Atlantic Monthly. Beliau dipercaya menjadi ketua editor publikasi Fish and Wildlife Service sejak tahun 1949 hingga 1952, saat itulah beliau memutuskan berhenti dan mencurahkan waktu untuk menulis. Untuk kontribusinya ini, beliau dianugerahi The Distinguished Service Award oleh Department of the Interior.

***

Carson dan Karya-karyanya

Buku pertama Rachel Carson, Under the Sea Wind. Kemunculannya pada tahun 1941 hanya sedikit menarik perhatian, meskipun masuk dalam buku pilihan klub buku sains. Namun demikian, buku keduanya, The Sea Around Us (1951), masuk dalam daftar buku terlaris selama 66 minggu, diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dan menerima banyak penghargaan, di antaranya The National Book Award tahun 1952, The John Burroughs Medal, dan medali emas dari The Geographical Society of Philadelphia dan The New York Zoological Society.

Penerbitan kembali buku Under the Sea Wind pada tahun 1952 mampu diterima dengan baik. Buku ketiganya, The Edge of the Sea (1955), yang berfokus pada lautan hingga tepiannya, hampir menyamai popularitas The Sea Around Us, sehingga kembali membawa nama Carson sebagai penulis ilmiah populer terbaik di Amerika Serikat.

Ketertarikannya terhadap keseimbangan hubungan alam-manusia menginspirasi buku keempatnya. Carson pun mengkritisi akibat kurangnya kehati-hatian dalam penggunaan pestisida terhadap kerusakan lingkungan. Silent Spring (1962) boleh jadi merupakan buku paling kontroversial di Amerika sepanjang abad keduapuluh. Kehadiran pertamanya dalam format serial The New Yorker menyulut amarah pihak industri kimia dan asosiasinya. Kontroversi yang terus berlangsung meletupkan investigasi terhadap penyalahgunaan pestisida hingga menghasilkan rapat dengar pendapat pada tahun 1963.

Di antara berbagai penghargaan terhadap Silent Spring antara lain The Audubon Medal dari The National Audubon Society, The Cullum Geographical Medal dariΒ The American Geographical Society, The Spirit of Achievement Award dari The Albert Einstein College of Medicine, dan A Carey-Thomas Honorable Mention untuk publikasi terkemuka sepanjang tahun 1962.

Setelah perjuangan panjang melawan kanker, Carson yang masih lajang pun meninggal dunia pada tanggal 14 April 1964. Sebagai penghormatan atas pengabdian Carson, pada Juni 1964 didirikanlah The Rachel Carson National Wildlife Refuge di Maine coast dan The founding of a Rachel Carson Memorial Fund oleh The National Audubon Society.

***

Lebih Dekat dengan Silent Spring

Silent Spring
Buku keempat Rachel Carson: Silent Spring (credit: Wikipedia)

Silent Spring adalah buku yang ditulis oleh Rachel Carson dan dipublikasikan oleh Houghton Mifflin pada September 1962. Buku ini secara luas memacu timbulnya pergerakan sadar lingkungan.

Saat Silent Spring dipublikasikan, Rachel Carson telah menjadi penulis terkenal, tetapi belum menjadi sumber kritik sosial. Buku tersebut dibaca oleh berbagai kalangan (terutama setelah menjadi buku pilihan bulanan klub pecinta buku dan tampil di sebuah endorsement oleh Supreme Court Justice William O. Douglas), tercatat dalam daftar the New York Times best-sellers, serta menginspirasi pembacanya terhadap pestisida dan polusi lingkungan. Silent Spring pun akhirnya memfasilitasi pelarangan pestisida DDT pada tahun 1972 di Amerika Serikat.

Buku ini mendokumentasikan tentang efek buruk pestisida terhadap lingkungan, khususnya unggas. Carson menuliskan bahwa penggunaan DDT telah mengakibatkan penipisan cangkang telur, gangguan reproduksi, bahkan kematian. Ia juga menuding pihak industri kimia dan pemerintah yang kurang kritis menyikapi hal ini.

Hmm, sebentar.. DDT? Apa itu? DDT (diklorodifeniltrikloroetana) adalah senyawa hidrokarbon terklorinasi. DDT diproduksi secara massal pada tahun 1939, berkat penemuan seorang ahli kimia, Paul Herman Moller. Moller menemukan bahwa DDT dapat membunuh hampir semua jenis serangga dengan cara mengganggu sistem sarafnya. Penemuan ini mendapat anugerah nobel pada tahun 1948. Saat itu, DDT dianggap sebagai insektisida alternatif yang murah dan aman dibandingkan dengan senyawa lain yang berbahan arsenik dan raksa.

Penggunaan DDT meningkat drastis setelah Perang Dunia II, terutama karena efektivitasnya membasmi nyamuk malaria dan lipas vektor tipus. Organisasi kesehatan dunia WHO memperkirakan selama masa itu setidaknya 25 juta nyawa terselamatkan. Seperti kita tahu, malaria timbul di 90 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan menjadi penyebab kematian dalam jumlah besar terutama daerah ekuatorial Afrika. Sayangnya, tidak seorangpun yang menyadari kerusakan lingkungan yang meluas akibat pemakaian DDT. Masalah baru timbul pada akhir tahun 1940-an. Banyak spesies serangga yang resisten terhadap DDT. Selain itu, DDT juga diketahui sangat beracun bagi ikan.

Sebagai senyawa persisten, DDT sulit terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana di alam. DDT memiliki waktu paruh hingga delapan tahun, berarti saat DDT memasuki rantai makanan, setengah dari dosis DDT yang terkonsumsi baru akan terurai setelah delapan tahun. Saat tercerna oleh hewan, DDT akan terakumulasi di dalam jaringan lemak dan hati. Konsentrasi DDT meningkat setiap kali DDT tercerna oleh hewan/makhluk yang berada pada taraf tropi lebih tinggi. Ingat, konsep makan dimakan dalam rantai makanan!

Tumbuhan -> herbivora -> karnivora -> omnivora.

Itu berarti semakin ke kanan atau semakin tinggi posisi dalam piramida makanan, maka makin tinggi pula jumlah DDT yang terakumulasi dalam jaringan tubuh. Kasus pada bangsa burung terlihat pada populasi bald eagle dan elang peregrine yang menurun drastis karena DDT menyebabkan betina burung ini menghasilkan telur bercangkang tipis. Telur tersebut tidak akan mampu bertahan pada masa inkubasi. Dan, kita tahu apa yang selanjutnya terjadi.. Extinction! Hmm.. menyedihkan πŸ™

Sementara itu, contoh kasus pada mamalia dapat dijumpai pada singa laut di lepas pantai California yang mengalami keguguran janin setelah memakan ikan yang terkontaminasi DDT. Kasus yang sama bahkan dijumpai pada manusia! Ya, ini mengerikan tapi fakta ilmiah telah bicara. DDT ditemukan pula pada air susu ibu (ASI). Bagaimana mungkin? Tentu bisa terjadi. People said, NOTHING IMPOSSIBLE. Aplikasi pestisida jenis apa pun tidak selamanya efisien. Barang 1% (bahkan lebih) senyawa tersebut tetap mengenai sasaran non-target dan akhirnya terbuang ke tanah, mengalir bersama air, dan BUUUMM… mencemari lingkungan!! Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada kehidupan kita bila penggunaan DDT terus menerus diperbolehkan.

Nah, itulah yang menyebabkan Carson si ilmuwan biologi terketuk hatinya dan melakukan perjuangan. Hingga akhirnya Silent Spring pun telah tercatat dalam daftar the best nonfiction books of the twentieth century. Bahkan dicatat sebagai satu dari 25 buku ilmiah terbaik sepanjang masa oleh editor Discover Magazine. Buku penerusnya, Beyond Silent Spring, ditulis bersama H.F. van Emden dan David Peakall, diterbitkan tahun 1986.

Itulah Rachel Carson, satu di antara sekian banyak perempuan cemerlang di dunia yang selayaknya mampu menginspirasi kita dan mengetuk pintu kecil di kedalaman kalbu. Perjuangan Carson mengingatkan kita bahwa sudah sepantasnya kita perlu menengok banyak hal yang terjadi di luar sana. Kehidupan yang bukan saja milik manusia, tetapi juga makhluk lain yang dikodratkan untuk hidup bersama dalam harmoni. Mari membuka mata, hati, telinga, dan membiarkan rasa kita menemukan jalannya.

-diselesaikan di Bulaksumur, 6 Agustus 2010-

Sumber pustaka:
http://id.wikipedia.org/
http://www.chem-is-try.org/
http://webtext.library.yale.edu/
http://www.3dchem.com/

Sumber foto:
http://naturalpatriot.org/

15 thoughts on “Rachel Carson: When the Spring’s Silent

    1. Makasih Fik! Postingan di blogmu juga bagus-bagus πŸ™‚
      Hmm..para ahli dengan penelitiannya masih mengusahakan alternatif terbaik, Fik.
      DDT hanya salah satu contoh saja dari pestisida golongan hidrokarbon berkhlor. Kemarin pas ada rapat redaksi, kebetulan aku sempat dengar pembicaraan antara 2 tokoh Lab Toksikologi. Beliau mengatakan bahwa saat ini DDT sudah tidak digunakan lagi. hanya saja, jenis lain (thiodane) yang masuk juga dalam golongan hidrokarbon berkhlor masih ada yang menggunakannya, terutama di bawang merah. Makanya, hati-hatilah mengkonsumsi sayuran mentah.. apalagi di kaki lima. Kita ga tahu kapan dicucinya, tahu2 saja sudah dihidangkan bersama sate, hikss.. πŸ™

      Kalau soal bahan alami.. hmm, bahan-bahan alami banyak yang telah diteliti & berpotensi digunakan sebagai pestisida, terutama insektisida. Fik bisa googling kalau masih penasaran. Soal keampuhannya itu tergantung pada sasaran. Misalnya jenis tumbuhan A dengan kandungan zat a yang AMPUH diujikan pada serangga jenis Lepidoptera (jenis ngengat/kupu2) belum tentu akan AMPUH digunakan untuk jenis Coleoptera (kumbang).. begitu seterusnya. Bahan alami lebih ramah lingkungan dibandingkan yang sintetis. Hanya saja, kami di HPT dikenalkan dengan konsep Integrated Pest management (IPM) atau PHT (Pengendalian Hama Terpadu).. yang salah satu butirnya menyebutkan bahwa pengendalian kimiawi adalah ALTERNATIF TERAKHIR.

    1. Hai, Ari..!! Wah, tiba-tiba muncul membuatku kaget πŸ™‚
      Ah masa, kelihatan pinter? Ngga juga ah..tulisan yg model begini memang biasanya terlihat beda, ada sumber pustakanya gitu, hehehe πŸ˜€

        1. Hehehe, iya.. lha lagi sibuk bener. Ndak bisa rutin seminggu sekali upload 2 tulisan sekaligus. Gmn Ri? jadi liburan ke Jogjanya πŸ˜€

      1. jangan, mending satu satu aja, nanti nggak kebaca deh…mending satu-satu tapi jaraknya nggak lama. kan bisa nulis dulu, ehehe..
        eh, mbak phie kok tau fb ku?

        1. Iya, memang maunya begitu.. tapi kalau terpaksa sedang ga ada kesempatan buat nulis gara2 hampir tiap hari pulang malam.. pfiuh.. itu sih lain perkara lagi, hehe πŸ™‚

          Hm, fb? Lha siapa yang add duluan ya? Sepertinya beberapa waktu lalu notifikasi fb-ku bilang
          “Ari Seti Muhardian wants to be your friend”

          Nah lho, ketahuan! Ini dia si empunya Tunsa Blog πŸ˜€

    1. Dua-duanya! Belajar kimia sambil melihat sejarah & kenal biografi ahli ekologi khan asyik tu, Puji πŸ˜‰
      Nah, gmn nih calon apoteker? Tambah wawasan? Alhamdulillah deh.. bisa bermanfaat πŸ™‚

    1. Masih jauh dari baik, Pak.. tapi semoga seiring waktu jadi semakin baik lagi. Lalat buah? Nanti Pak insya Allah, saya sertakan sekalian si Fopius arisanus.. copy paste dari naskah skripsi, hehehe πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *