Pernahkah mendengar kalimat ini, “Perbedaan adalah rahmat”? Ya, tiap diri kita berbeda. Bahkan dua orang kembar identik pun memiliki sisi-sisi perbedaan. Banyak di antara kita yang sadar sepenuhnya akan hal ini. Namun, seberapa besarkah dari kita yang mengikuti kesadaran itu dengan langkah nyata? Langkah nyata? Semacam apa? Seperti yang akan Phie kupas dalam tulisan ini, satu di antaranya adalah dengan belajar menjadi dewasa. Setiap orang pasti pernah berselisih, berani jamin, meskipun hanya dalam hati kadang kita merasa tidak sreg, tidak klop, tidak klik dengan cara orang lain. Cara berbicara, cara berpakaian, cara berpikir, dan masih banyak lagi cara di luar sana. Dalam berinteraksi kadang kita mengalaminya. Entah karena perbedaan latar belakang pendidikan dan wawasan atau juga karena berbeda pergaulan, bisa saja menjadi alasan terjadinya kesenjangan, ketimpangan bila kita tidak dapat menyikapinya dengan dewasa.
Idealnya, kedewasaan seseorang berbanding lurus dengan umurnya. Makin tua seseorang akan semakin banyak pengalamannya, semakin banyak perjalanan yang ditempuh, makin banyak ilmu yang diserap. Sekali lagi, idealnya; seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Namun rupanya, tidak selamanya umur itu pantas dijadikan patokan seberapa dewasa seseorang mampu menyikapi sesuatu masalah dengan bijak. Kadang Phie menjumpai beberapa orang yang jauh lebih tua tetapi belum mampu bersikap dewasa. Kalau diingat-ingat rasanya jadi geli sendiri saat berurusan dengan orang semacam ini. Ada yang usianya sudah gaek, kok ya pikirannya masih kekanakan? Lalu, misal yang lain lagi.. Sudah tahu bahwa dirinya egois dan sikap seperti itu tidak baik, tapi kok ya masih saja belum mau berubah? Ck..ck..ck.. (geleng-kepala.com). Ya, benar kata orang, “Menjadi tua itu keniscayaan, tetapi menjadi dewasa itu pilihan”.
Nah, bila keadaannya semacam itu lalu bagaimana semestinya kita mengambil sikap agar anak kita kelak tidak TELAT mendewasa? Tentu diperlukan pembiasaan diri sejak dini agar anak mendewasa tepat pada waktunya. Satu cara adalah mengajarkan anak menghargai dan menjadi pendengar yang baik. CARANYA? Kita bisa memulainya dengan kebiasaan-kebiasaan kecil. Mulai dari cara berbicara. Ada tiga kata yang kadang terlupa: TOLONG, TERIMA KASIH, dan MAAF.
- Biasakan mengatakan TOLONG pada si kecil ketika kita meminta ia membantu.
- Seringan apa pun pekerjaan yang telah ia selesaikan, katakan TERIMA KASIH.
- Biasakan anak mengakui kesalahannya dan meminta MAAF segera setelah ia berbuat salah. Tidak perlu menunda apalagi menunggu hingga Lebaran datang!
STOP PRESS!
Penting untuk menjaga SENYUM dan INTONASI KALIMAT tiap kali kita berbicara pada anak. Biarkan informasi “pentingnya menghargai” itu tersampaikan dengan baik dan terekam dalam ingatan mereka.
Bagaimana dengan membiasakan anak mendengar? DONGENG dan DISKUSI KELUARGA bisa dijadikan jalan.
- Dongeng sebelum tidur. Membiasakan membacakan dongeng sebelum tidur berarti mengkondisi anak untuk berkonsentrasi pada cerita yang kita bacakan. Selain membiasakan mereka menjadi pendengar, saat menjelang tidur adalah kesempatan yang baik untuk menyisipkan sugesti positif ke dalam alam bawah sadar anak; maka penting bagi kita memilih dongeng yang baik.
- Diskusi Keluarga. Penting untuk meluangkan waktu berdiskusi di sela kesibukan kita. Manfaatkan waktu makan malam untuk berbagi dan bercerita segala hal yang terjadi selama sehari. Bila anak masih malu, kita bisa menanyai lebih dulu. Bila anak sudah terbiasa berbicara kita pun sebaiknya memberinya waktu untuk mendengar mereka. Semakin besar anak, libatkan anak lebih sering dalam diskusi agar komunikasi dan keterbukaan terjaga.
INGAT!Sebagai orang yang lebih tua kita dijadikan panutan, jadi penting menjaga KONSISTENSI dan KOMITMEN.
Kalau kita menekankan anak untuk menghargai dan menjadi pendengar yang baik, kita pun harus melakukan hal yang sama.
So, mari memulai hari dengan hal-hal baik . Yang kecil-kecil dahulu tak masalah, ibarat kata: sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Have a nice learning time to be a cool parent, Everybody.. 🙂
-Karang,17 April 2011-
*diinspirasi oleh Dara – Tiga Kata Ajaib.mp3
Tengkyu remindernya. Masih belajar untuk menjadi orang tua favorit anak… Nice post!
Tulisan ini dalam rangka memperdalam jalan saya Pak hehe 🙂
Terima kasih kembali, Pak
waah,pie.keren ulasannya.
kalo mau ngajarin orang yang lebih tua tapi pemikiraannya kaya anak kecil gimana ya..?hhehhehe
dewasa, sepertinya saya masih belajar, bahkan dgn umur yg sekarang, hiks jad malu
Wah Blognya bagus banget nih
Boleh ajarin cara bikinnya ?
😀
and nice info ^^