Sabtu, 22 Januari 2011
Hari masih pagi saat kami berjalan beriring menuju ke Jl. Agro. Seperti biasa, selepas latihan teater bersama teman-teman TanpaNama di kampus kami biasa berkumpul untuk makan pagi di sebuah warung makan, Bubur Ayam Gadjah Mada. Hari itu meski arloji saya sudah menunjukkan pukul 09.00, tetapi menu bubur di warung tersebut masih ada, Alhamdulillaah. Setelah memesan menu makan pagi (yang telat), kami duduk sambil ngobrol.
“Pik, hari ini ada acara?” tanya Mbak Vira.
“Habis ini? Pulang.. ga ada acara weekend, kaya ga tahu aku aja hehe..” jawab saya asal.
“Temani ke atas, yuk!” sahut Mbak Vira
“Ngapain, Mbak?” tanya saya masih dengan sedikit cuek.
“Survei lokasi buat Masalah Khusus..”
“Oh..”
“Bisa?”
“Boleh..” jawab saya sambil nyengir
“tapi bentar ya, aku tanya rute ke atas yang aman, katanya banyak jembatan yang ambrol pasca erupsi”
Tangan saya sibuk memencet keypad ponsel. Beberapa SMS berlontaran keluar-masuk inbox. Untunglah info berhasil didapat setelah acara makan bubur kelar. Asyik!
***
Sekitar pukul 10.30 waktu Karang
Kami tiba di rumah. Sebelum ke Cangkringan, kami mampir untuk mengambil peralatan survei, bukan barang rumit kok, hanya plastik dan sekop. Saya menggonceng Mbak Vira. Ezy saya parkir di rumah. Rute yang kami tempuh untuk mencapai daerah Cangkringan bukan rute sembarangan. Kalau biasanya kami bisa melewati jalan utama, kali ini tidak. Pasca erupsi Merapi, beberapa akses jalan dan jembatan tidak memungkinkan untuk dilalui karena terputus dan/atau ditutup.
Rute yang kami ambil hari itu adalah jalur ke arah Manisrenggo, Klaten. Berangkat dari Jl. Kaliurang km 12,5 kami melaju ke utara hingga Jl. Kaliurang km 12,8 (pertigaan Indomaret, Besi) ke kiri lalu lurus hingga daerah Pasar Jangkang, Ngemplak. Pertigaan Jangkang ke utara lalu ke timur menyusuri jalan tengah perkampungan yang telah diaspal. Setelah melintasi SMU 1 Ngemplak kami mengambil jalur sebelah utara Puskesmas Koro Ulon setelah itu menyeberang jalan aspal lagi terus ke timur. Sebenarnya dalam kondisi normal, daerah Cangkringan bisa diakses juga tanpa menyeberang, tetapi karena jalur ke utara (menuju daerah Bronggang, pembibitan ikan) masih diblokir karena belum cukup aman; alhasil kami pun mengambil arah Manisrenggo. Begitu menyeberang dari arah Koro Ulon, kami melaju mengikuti jalan hingga Pasar Jambon. Sebelum sampai di pasar kami melewati sebuah check dam kecil ramai dengan penambang pasir. Pasir Merapi benar-benar melimpahi penduduk di sekitar gunung. Dalam sejarah sepanjang usia, saya belum pernah melihat pasir Merapi melimpah dengan volum ekstra besar seperti itu. Subhanallaah.. Luar biasa!

***
Perjalanan pun diteruskan. Sesaat kemudian kami sampai di pasar, lalu? Kami mulai bingung.
“Habis lewat pasar trus ke mana ya?” tanya saya.
“Coba, Pi dibaca lagi SMS dari temanmu itu..” kata Mbak Vira menghibur.
Sayangnya, kalau sudah nyasar beginilah saya.. peta menjadi andalan kedua setelah..
Saya berlari menghampiri seorang ibu yang baru saja turun dari sepeda onthel-nya.
“Bu, nuwun sewu.. menawi badhe dhateng Cangkringan menika medal pundi nggih?” tanya saya pada ibu tersebut.
“Oh, taksih mrika, Mbak. Mangke njenengan ngetan mriku, kepanggih SD. Nah, sebelah SD mangke wonten margi pas prapatan.. njenengan ngaler teras..” jelas beliau.
Saya manggut-manggut mengerti. Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun permisi dan berlari menghampiri Mbakyu Vira.
“Piye, Jeng?” Mbak Vira terlihat penasaran.
“Masih ke sana sedikit lagi, nanti kita ketemu SD sebelahnya ada perempatan, kita ambil jalur ke utara terus saja..” jawabku sambil bergegas nangkring di goncengan.
Kami pun menyusuri jalan satu-satunya itu. Melewati perkampungan dan beberapa kali persawahan. Tik..tik..tik.. beberapa butir air terjatuh mengenai kaca helm. Saya mendongak dan menengadahkan tangan ke awang-awang.
“Lho.. hujan nih, Mbak!” seruku.
“Aduh.. gimana dong, Pi?”
Langit sebelah utara memang digelayuti mendung kelabu. Sangat tidak disarankan memang melakukan perjalanan ke arah Merapi bila hujan turun, takutnya banjir lahar dingin. Tapi, karena hujan juga masih rintik, maka kami pun tetap melanjutkan perjalanan setelah memakai “seragam kosmonot”, mantel maksudnya 😀 Di tengah perjalanan, kami sempat tersenyum heran melihat sepasang suami istri bergoncengan. Bukan apa-apa, kagum saja dengan beliau berdua. Si suami menyetir motor, sementara istri menggonceng dengan nyaman (sepenglihatan saya sih, tapi entahlah..) di atas tumpukan jerami setinggi lebih kurang 1 meter.
“Beeeuuuh!! Romantisme ala kaki Merapi..” komentar saya setelah motor yang membawa mereka melintasi kami.
Terkekehlah kami! 😆
“Jupii.. Jupiii..!!” Mbak Vira berteriak gemas.
Saya hanya bisa terus tertawa melihat reaksi Mbak Vira.
“Ayo, Mbak.. lanjut!”
“Yoo… SEMANGAAT!!” sahut Mbak Vira.
***
Jalanan setelah pemberhentian kami itu berkelok-kelok. Berteman rinai hujan kami melaju. Untunglah hujan urung menderas dan akhirnya berhenti sama sekali. Sekitar pk. 11.10 kami pun sampai di depan shelter Glagaharjo yang terdapat bersebelahan dengan SD.
“Udah dekat ini kayanya, Mbak..”
“Oh ya..?”
“Lha itu shelter-nya di situ..”
Yang kami tuju bukan shelter memang, tapi daerah yang cukup luas untuk di-observasi kondisi tanahnya selepas letusan Merapi. Kami pun melanjutkan perjalanan ke utara. Selama masih ada jalan dan motor masih bisa tembus, begitulah tekad Mbak Vira. Wah, kadang nekad itu dibutuhkan ya.. Ok deh! 
Sekitar sepuluh menit kemudian kami melihat perubahan kondisi yang luar biasa mengherankan. Di hadapn kami tertera tulisan “LAVA TOUR” Rupanya kami telah mencapai daerah tepi Kali Gendol. Dari kejauhan kami bisa melihat imbas awan panas dari pepohonan di sepanjang aliran lahar. Materialnya menyembul keluar, seperti yang banyak diomongkan orang. Subhanallaah.. Normalnya permukaan kali lebh rendah dibandingkan pemukiman, tetapi akibat tertumpuknya material vulkanik Merapi, pasir dan bebatuan menyembul melebihi ketinggian dinding kali! Kami sempat berhenti di tepi jalan, mencopot mantel, dan mengabadikan pemandangan tersebut di foto berikut:

***
Berhenti di sini? Belum! Setelahnya kami masih menuju ke utara. Terus dan terus hingga kami bisa menemukan lokasi survei untuk Mbak Vira. Sekitar 200-300 meter kemudian, kami bertemu dengan warga. Hmm, inilah saatnya untuk merapat karena akses jalan sudah tidak lagi bisa ditembus.
“Parkir, Mbak!” kata salah seorang pria yang mencegat kami. Usianya sekitar 40 tahun.
“Nggih.. Hmm.. Nuwun sewu, Pak.. menika mlebet daerah pundi nggih?” tanya saya.
“Mriki Dusun Ngancar, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan..” jawab beliau.
“Ooh.. ngaler malih sampun boten saged nggih, Pak?” lanjut saya.
“Taksih wonten, Mbak.. mung boten saged ditrabas malih. Risak-risakan..” sahut beliau lagi.
Saya berbisik pada Mbak Vira bahwa kami tidak bisa naik lagi,
“Ini udah mentok, Mbak. Parkir sini saja ya?”
“Ya wis, sini saja..” jawabnya.
Kami pun masuk ke sebuah areal parkir yang dijaga oleh beberapa orang penduduk Ngancar. Ala kadarnya, karena ya semua serba habis-habisan.

***
Ngancar, Glagaharjo, Cangkringan hampir tengah hari
Arloji Citizen saya hampir menunjuk pk 11.30. Lepas merapat, kami menyusuri lokasi. Sepanjang langkah terayun, saya hanya bisa terdiam, menguatkan hati. Ngancar. Nama itu tidak asing bagi ingatan saya. Nama sebuah dusun yang tiba-tiba menjadi headline surat kabar harian Kedaulatan Rakyat saat erupsi Merapi 2010 memuncak. Seluruh wilayah dusun Ngancar habis diterpa awan panas. Dan, hari itu kami berdua menjadi orang kesekian yang menjadi saksi kebesaran Allahu Rabbi. Sementara Mbak Vira menjelajah, saya larut dalam perasaan saya sendiri yang entah.. bercampur karena saya melihat hal yang belum pernah saya temui. Inilah pemandangan yang berhasil menggetarkan hati saya.




***
Menyusuri Ngancar nan sepi membuat saya tak bisa berucap apa-apa selain Subhanallaah. Saya tak pernah melihat Merapi semurka ini. Semua diluluhlantakkan, ditimbun, hingga nyaris tiada lagi bekas kehidupan. Lengang, ada yang kosong di antara rasa takjub saya. Saya seolah sedang berjalan di sebuah negeri antah berantah. Seperti menziarahi sebuah dunia baru. Asing. Namun, saya menjadi semakin mengerti bahwa saya dan makhluk lain, tidak ada apa-apanya. Semuanya sangat kecil di mata Allah dan bila Allah SWT telah berkehendak, kun.. fa yakun.. maka terjadilah apa yang semestinya terjadi.
Terima kasih, Merapi atas segala pengarahmu. Pengarah bagi kami agar tetap tunduk dalam kesyukuran, apa pun yang telah dan sedang terjadi.
[slideshow]
hmmmm kenangan bersamamu jupi……semuanya gak bisa terlupa…..waktu kita ke tempat itu pertama kali…baru rasanya tersadar…kuasanya Allah tidak ada yang bisa menghalangi…..terima kasih buat semua perjalanan bersamamu jupi…banyak yang bisa kudapat dari obrolan sambil lalu kita…….thanks my friend….
Oh, Mbak Vira.. 🙂
Terima kasih sudah mampir ke sini. Ya, begitulah.. that what friends are for.
Aku juga dapat banyak hal dari kebersamaan kita, thank you so much, Sist.. 🙂 [hug]