Sewindu Sudah

Dimulakan dengan syukur yang tiada terkira, Alhamdulillahi Rabbil’alamiin. Bulan ke delapan delapan tahun (baca: sewindu) yang lalu, saya mulai menapakkan kaki ke sebuah dunia yang hampir tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Memulai segalanya dari nol, layaknya kalimat iklan Pertamina dan saya mengabadikannya di sini. Bolehlah pada awalnya dikatakan kecemplung, tetapi dalam proses kecemplung itu saya menikmati banyak sekali hal-hal tak terlupakan bersama mereka yang sangat manis, siapa mereka? Mereka siswa-siswi saya, mereka mengingatkan saya pada sebuah lagu, Lilin Kecil.

♫ ..oh, mana kala..

mentari tua lelah berpijar..

oh, mana kala..

bulan nan genit enggan tersenyum

berkerut-kerut tiada berseri

tersendat-sendat merayap dalam kegelapan

hitam kini, hitam nanti

gelap ini akankah berganti

dan kau lilin-lilin kecil

sanggupkah kau mengganti

sanggupkah kau memberi

seberkas cahaya

dan kau lilin-lilin kecil

sanggupkah kau berpijar

sanggupkah kau menyengat

seisi dunia.. ♫

Sewindu sudah. Bukan waktu yang cukup singkat. Sewindu ini tanpa terasa mengalir begitu saja. Rasanya baru kemarin menerima tawaran menjadi tutoress di Paramitra Mulia dan @lce; rasanya juga baru kemarin mengobrol dengan Mbak Siti Muawanah, Mbak Sri Ambarwati, dan Mbak Sulis.. Menemui si kecil Arif di sebuah kampung yang akses jalannya bak rempeyek.. Menggonceng Mbak Ambar ke rumah siswa pertama saya di @lce yang ternyata adik rival sekelas saya zaman SD dan SMP.. Menikmati honor pertama yang per pertemuannya kurang dari Rp 10.000,00.. Menikmati rasa kantuk menggelayut karena jadwal les hampir bertumpuk dengan jadwal kuliah dan praktikum. Mencicipi CLBK (baca: cinta lama belum kelar) dengan seseorang dari masa lalu berikut akrab dengan orang tuanya gara-gara keseringan mengobrol tetapi sayangnya harus berakhir dengan patah hati berkepanjangan selama 2 tahun.. *aiih.. :mrgreen:.. Mengikhlaskan berpisah dan menjadi freelance tutoress setelah 2,5 tahun di bawah naungan lembaga.. Mendapat bingkisan tahunan saat lebaran dari orang tua siswa selama hampir 5 tahun berturut..parcel, baju, kerudung Merasakan dikalahkan oleh si imut Dhea dalam hitung mencongak karena ternyata siswa saya ini ikut les sempoa kala itu.. ahahaha *tepukjidat.com.. Merasakan ditampik oleh si kecil Susilo yang moody benar anaknya, *hmm.. makasih ya, Mbak jadi belajar lebih sabar.. Dan juga, merasakan kesal yang sangat karena tas saya dipipisi oleh kucing piaraan orang tua Fikri *aarrgghh… 😯

Sewindu sudah saya belajar memahami bagaimana semestinya menjadi pendamping belajar anak yang baik. Belajar membangun suasana yang akrab setiap kali bertemu dengan mereka seperti apa pun kondisi emosi saya. Belajar menjadi pendengar yang baik atas hampir segala hal yang mereka keluhkan tentang pelajaran dan sekolah. Entah gurunya yang killer-lah, yang terlalu cuek-lah, yang hanya memfokuskan kemajuan kelas hanya dari anak-anak yang di atas rata-rata.. hingga berbagai polah mereka di kegiatan luar sekolah. Asyik sekali mendengar mereka berkisah tentang kegemaran masing-masing. sehingga lambat laun mereka menganggap saya seperti kakak sendiri. Akibatnya? Tak jarang jadwal les kelar pun masih disusul dengan sesi curhat. Alamaaak.. :mrgreen:

Ingin tahu sedikit apa yang saya ingat dari perbincangan dengan beberapa dari mereka? Seperti ini di antaranya:

Susilo. Si pendiam yang moody. Seniman tulen. Hobinya menggambar, melukis, dan mendalang.

Yahya. Si (rada) ceriwis yang kritis. Gitaris StayCool Band yang hobi ngutak-atik motor dan bercita-cita menjadi insinyur teknik mesin.

Ana. Si hitam manis yang hobi main basket dan menjadi pemain inti di sekolahnya.

Dhea. Si ceria yang hobi menulis, ngebet banget punya buku karya sendiri. Begitu hampir kelar tulisannya, kenalan dengan penulis lalu muter-muter jogja untuk menawarkan tulisan ke penerbit padahal waktu itu Dhea masih duduk di kelas 2 SMP!

Ira. Si mungil berkacamata yang hobi taekwondo. Pernah saya diajak latihan bareng. Wah..wah.. saya maunya latihan aikido saja, kangen lama ga pernah latihan lagi 😀

Aji dan Anggit. Sama-sama kalem saat belajar bersama. Hobi mereka bermain sepak bola. Aji bahkan termasuk di antara 4 orang wakil dari DIY dalam penyaringan Liga U-14 di Jakarta tahun 2010.

Nisa. Si ragil yang tomboy dan hobi karate. Heeiiiyaaahh…!!

Achliz. Si tengahan yang hobi ngebut dan tabuh rebana.. Sekali orang bertemu dengannya belum tentu mereka tahu bagaimana karakternya karena ia rada pemalu.

Ah, mereka.. Mengingat mereka satu demi satu membuat saya tersenyum sendiri. Kedekatan saya dengan mereka, hmm.. itulah istimewanya menjadi seorang tutoress. Mungkin itu pula yang membuat beberapa siswa merasa kerasan lalu kembali minta saya dampingi. Sedih terasakan bila saya terpaksa menolak permintaan mereka, itu semata karena keterbatasan. Pekerjaan utama saya di redaksi selama hampir 1,5 tahun ini cukup menyita energi dan pikiran, belum lagi kapasitas alias daya dukung otak. Fokus pikiran saya stel hingga level SMP, sehingga kalau tidak benar-benar terpaksa, saya tidak akan menerima siswa SMA. Kesedihan serupa pernah saya rasakan tiga tahun lalu, 2008 bukan tahun keberuntungan saya. Ya, 50% dari siswa yang saya dampingi gagal dalam ujian nasional. Hm, saya telah berusaha dan berdoa sebaik-baiknya.. tetapi untung tak dapat diraih, ya sudah.. saya pun mendapat kesempatan belajar mengikhlaskan keadaan. Tiada seorang pun menginginkan hal ini terjadi. Lagi pula, gagal ujian bukan segalanya. Pemerintah masih menyediakan jalur Paket B bagi siswa yang gagal UN 2008. Dan, sepengetahuan saya, mereka tahun ini memulai tahun ajaran baru di perguruan tinggi, Alhamdulillaah

Sewindu sudah saya menikmati indahnya berbagi. Saya tidak punya banyak kepandaian, tapi semoga saja ilmu yang saya peroleh yang jumlahnya sangat sedikit ini bisa terus mengalir membersamai mereka, lilin-lilin kecil yang manis. Saya dulu orang pertama yang paling bangga pamer ke teman-teman karena di HPT angkatan 2002, saya satu-satunya yang memiliki banyak anak sebelum menikah :mrgreen: Sekarang pun kebanggaan itu akan saya bawa dan menjadikannya cambuk agar saya tak lekas puas. Terus berusaha memberikan yang terbaik, seperti yang dipesankan ayah.

***

Untuk kalian yang teristimewa di hati.

Terima kasih telah memberi kesempatan Mbak untuk mendewasa bersama kalian. Walaupun kebersamaan kita hanya sementara, Mbak bahagia bisa menjadi bagian hidup kalian. Meski sepenggal tiada mengapa, kalian tetap akan menjadi bintang di langit yang luas.. Tetaplah berbinar memberikan berkas-berkas cahaya terbaik bagi kehidupan

Arif Tri Sadewa

Susilo Dwi Prasetyo

Febrika

Muhammad Ikhwan Pamungkas

Christina Tiyah Ayu

Yuniar Kristianto

Emmarezsa Yudheaningrum

Hadi Prasetyo Herlambang

Dwi Cahyo Herlambang

Azizah Kurniasih

Yahya Syafiyuddin Hilmi

Putri Perdana

Dina Setyaningrum

Shifa Fauziah Yundi

Nisa Friskana Yundi

Fikri Nurhayat

Yesi Puspita Sari

Septiyana Wulandari

Akhmad Syukri

Dwie Achliz Her Priyanto

Syahputra Maulana

Alfira Sinta Ratnaningrum

Irayan Saputri

Rico Ongky Wibowo

Aji Fajar Setiawan

Anugrah Anggit Sarlin Dani Arsa

Pasha Aditya Nugraha

Nasir Mutaqin

2 thoughts on “Sewindu Sudah

    1. Aamiin ya Rabb.. matur nuwun, Pak 🙂
      Semoga segala do’a di bulan Ramadhan ini diperkenankan, segera.
      Sukses juga untuk Pak Alam 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *