Dear Pahlawanku – Terima Kasih, Bung Atas Inspirasimu

Yogyakarta, 10 November 2011

Dear Bung Tomo,

Seolah baru kemarin kami berjalan sembari berbincang menyusuri trotoar kawasan Malioboro. Semarak lagu perjuangan pun sepertinya masih sayup terdengar mengiring langkah Ning dan saya. Ada pameran seni dan hasil kerajinan dalam rangka Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tahun 2011 di Museum Benteng Vredeburg. Mumpung hari itu libur Isra Mi’raj, maka Ezy pun saya lajukan ke pusat kota. Siang itu, kami sepakat untuk mengukur jalan sekitar Yogya nol km. Ya, demi melepas penat hati. Setelah Ezy saya parkir di sebelah timur Taman Pintar, kami pun berjalan menuju lokasi. Bicara soal berkunjung ke museum, barangkali boleh saya dibilang aneh. Lha wong katanya asli pribumi Yogya tapi masuk dan berkeliling Museum Vredeburg saja baru sekali itu. Hmm…

Itulah mengapa, sebelum kami melayangkan pandang ke jejeran stand, lebih dulu kami berkeliling Vredeburg. Bak menemukan kembali oase semangat saat kami menikmati satu per satu diorama yang ada di sana. Hmm.. ya, Yogyakarta bukan hanya kota pelajar seperti yang telah kami paham, tetapi juga kota perjuangan. Kota yang menjadi salah satu saksi bisu tegaknya kemerdekaan Republik Indonesia serta teguhnya perjuangan para patriot pembela seperti juga Bung Tomo dan banyak lagi kusuma bangsa yang tak dapat disebut satu per satu. Ketika hampir setiap sudut Vredeburg telah kami jelajahi, rasanya cukup kiranya kami mendapat suntikan semangat. Saatnya menyambangi stand pameran dan tentunya melihat-lihat ke sana kemari. Beberapa waktu saat langkah kami tiba di sayap selatan, saya terpesona dengan salah satu stand buku lawas. Entahlah, sebagai penikmat kegiatan membaca selalu saja ada alasan tertarik pada tumpukan buku, apalagi buku-buku lawas. Antik, menurut saya. Asyik memindah beberapa buku, tatapan saya beradu dengan sebuah buku bersampul merah dengan foto yang tak asing bagi ingatan saya. Sepertinya saya membaca kembali buku pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) zaman saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ya, itu foto Bung Tomo! Bung Tomo Suamiku. Ah, tanpa banyak ba-bi-bu saya pun meraih dan membaca daftar isinya. Beberapa halaman sempat saya cicipi. Syukurlah, chemistry buku itu klik dengan saya. Tidak mungkin rasanya mengabaikan suara hati. Saya telanjur kesengsem dan ingin memilikinya. Meski dengan merogoh kocek yang tipis di akhir bulan, saya tetap pada pendirian.

Usai memboyong pulang buku itu, malam harinya dengan takjub saya membaca tulisan istri Bung tentang Bung Tomo. Ulasan secara pribadi tentang apa saja yang telah terlalui dalam keseharian sungguh membuat saya tersentuh. Yang selama ini saya ketahui, Bung Tomo adalah manusia hebat yang berhasil mengobarkan api semangat di hari yang kini dijadikan hari pahlawan. Terkesima, itu yang saya rasakan dalam benak ketika membaca saat-saat Bung harus berjuang sendiri; bertahan dengan hanya berbekal kepasrahan telak kepada Ilahi di lereng Gunung Wilis; bertahan demi tekad bulat perjuangan. Bukan hanya itu ternyata. Membaca liku kisah cinta Bung dengan Jeng Sulistina… rasanya saya menemukan romantisme pejuang yang saat ini boleh dibilang sudah menjadi barang langka. Kisah cinta yang kental dengan rasa percaya dan menjaga. Saat jarak bukanlah menjadi penghalang ketulusan kasih dan ketika kepasrahan kepada Ilahi menjadi titik pertemuan termanis. Klasik tetapi sarat makna. Tanpa sadar, saya menggumam berharap suatu hari nanti akan saya temukan cinta sejati setulus dan sedalam cinta Bung Tomo terhadap Jeng Sulistina, perempuan yang akhirnya mendampingi hidup hingga maut menjemputmu tatkala melaksanakan ibadah haji.

Sepuluh November berpuluh tahun lalu Bung Tomo-lah yang berada di baris depan perlawanan. Memegang teguh janji suci perjuangan demi tanah air tercinta. Menggelorakan semangat sekian puluh ribu manusia Indonesia yang enggan hidup di bawah kekuasaan bangsa lain. Rupanya cinta itu tidak hanya terpancar untuk nusa bangsa, tetapi sebagai pandu suci, Bung telah memberi kami semua teladan bagaimana semestinya menjadi sejatinya manusia dan pahlawan dalam kehidupan pribadi. Terima kasih tiada terhingga atas setiap hal yang Bung korbankan demi kami semua yang kini berada di alam merdeka. Perjuangan sungguh belumlah berakhir, meski pidato berapi-api itu telah lama padam oleh waktu. Kini saatnya kami meneruskan semangat dan cintamu kepada negeri dengan melakukan upaya terbaik. Sekali lagi terima kasih, Bung. Merdeka!!

Regards dan salam takzim saya,

Palupi Jatuasri

Terinspirasi oleh:

Bung Tomo Suamiku (muka)
Bung Tomo Suamiku (muka)

“Postingan ini diikutsertakan dalam kontes Dear Pahlawanku 

yang diselenggarakan oleh Lozz, Iyha, dan Puteri

dear-pahlawanku-kontes-banner-300x183

Sponsored by:

Blogcamp|LittleOstore|Tuptoday|Lozzcorner|Rumahtramoiey

14 thoughts on “Dear Pahlawanku – Terima Kasih, Bung Atas Inspirasimu

  1. Bung Tomo salah satu pahlawan Nasional yg sangat berperan besar dalam kemerdekaan tapi perlu diingat masih banyak pahlawan yg terlupakan dan kita tidak boleh melupakan mereka. mari sejenak mengheningkan cipta untuk para pendahulu kita.

    sukses buat kontesnya ya…

  2. Seorang pahlawan yang mampu membangkitkan semangat rakyat, pidatonya membakar, membuat nyali menjadi besar dalam menghadapi penjajah.
    Satu hal yang harus kita tauladani dari bung tomo, bahwa tidak ada kata menyerah untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan.

  3. kakek saya pernah bilang.. jarang ditemui seorang tokoh yang bisa membakar semangat juang macam Bung Tomo..

    matur nuwun mbak Palupi sudah berpertisipasi di gelaran kami.. artikel sudah saya catat sebagai peserta ya 🙂

    1. hai, Mbak Puteri.. lama ga nongol di WeBe.. dak cari-cari eh, nongol di sini 🙂
      kembali kasih, Mbak. Kabar saya baik, Alhamdulillah.. miss u too, Sis 😀
      saya juga makin suka setelah baca buku ini.. hmm, so sweet 🙂

  4. met kenal ya. tinggal di Jogja toh… walaaah, sekota dong. gak ikut komunitas blogger jogja ya? aku tinggal seputaran UGM. Liat namanya di webe…

    1. Salam kenal Mbak Ami.. hehe, iya saya tinggal di Jogja utara, kaki Merapi.
      Saya pengen gabung, tapi caranya gimana ya, Mbak? *maklum rada kuper :mrgreen:

  5. Kesederhanaan, kegigihan dan kecerdasan bung tomo, mengantar kita untuk meraih kemerdekaan. trims telah menambah perbendaharaan bacaan dengan menuliskan kisah beliau..

    ditulis dengan lugas, bercerita dan terasa dekat.. jempol.. 🙂

    -artikel sedang dinilai-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *