Sore itu mata saya terbelalak membaca sebuah SMS darinya.
“Jup, aku pengen nikah..”
What??! 😯 Antara sadar dan tidak, saya menggaruk kepala yang tak gatal, berharap apa yang saya baca beberapa detik sebelumnya adalah adegan sebuah drama. Tapi, kira-kira saya mentas di mana? Kalau ini latihannya, lalu mengapa suara cut sang sutradara tak kunjung terdengar? Hmm, rupanya memang bukan sedang pentas atau latihan, bukan juga mimpi menjelang adzan Maghrib. Yang saya baca adalah sepenggal suara sanubari seorang sobat saya. Meirna, sebut saja begitu.
Beberapa waktu belakangan, sebelum akhirnya mengejutkan saya dengan mengirimkan SMS itu, ia suka curhat ingin menangis. Ah, saya mengerti benar kebiasaan perempuan kebanyakan.. (termasuk saya). Bagi saya pribadi, menangis itu bukan sebuah dosa.
Maka saya tegaskan padanya,
“Menangislah.. tidak ada yang bisa melarangmu menangis..”
Sejak saat itu saya tersadar bahwa kegalauan sedang menyelubungi hatinya. Betapa tidak? Berada dekat dengan beberapa pria sekaligus sementara di sisi lain, ia gelisah dengan hasratnya. Saya ingat benar, wajahnya yang berseri-seri ketika menunjukkan sebuah buku berjudul ‘Kupinang Kau dengan Hamdalah’ pada saya. Oh, mungkinkah ini yang dinamakan dilema pra nikah?
Hmm.. saya berpikir sedikit lebih lama dibanding biasanya agar bisa tetap pada posisi bandar curhat yang netral, lalu..
“Kau tak sedang bercanda kan, Jeng? Jangan sampai itu hanyalah keinginan sesaat..” jawab saya.
Saya hafal dengan perangainya. Gadis Taurus yang kadang suka meletup, apalagi bila ia sedang berada berseberangan dengan saya. Beberapa kali kami pernah terlibat perdebatan sepele dan akhirnya saya yang mengalah. Lain waktu, ia bisa sangat gusar karena kala itu saya lihat ia kadang belum bisa menentukan hal yang mesti diprioritaskan. Ah.. saya tidak suka hal sakral semacam menikah dijadikan bahan candaan.
***
Minggu beranjak berganti bulan. Rupanya kegalauannya kian jadi.. saya kadang heran dengannya. Ia bisa dekat dengan beberapa pria sekaligus, sementara saya tidak. Namun, beruntunglah ia bisa menemukan yang terbaik selepas wisuda Februari 2007. Yang paling serius di antara sekian pria dan tidak mau menunda pernikahan hingga tahun berikutnya akhirnya mengikatkan janji dengan Meir 9 bulan lepas ia wisuda setelah mereka terlibat cinta kilat. Seorang kakak angkatan kami yang jauh-jauh melanjutkan studinya hingga Sizuoka, Jepang diperkenalkan kepada Meir sekitar bulan Mei atau Juni 2007 (saya lupa lupa ingat). Berawal tatap mata, lalu hangat sapa, sampai akhirnya jalan bersama. Hmm.. ya, saya dan 2 orang teman yang kala itu masih penelitian skripsi biasa dijadikan “obat nyamuk” si Meir.. Tapi, pasti dengan senang hati kalau ada imbalan makan malam gratisnya hehehe.. dasar mahasiswa
Aiih, ini namanya suddenly in love. Saya sebagai sahabatnya tentu turut berbahagia. Apalagi saat ia meminta saya menjadi pengiring mempelai, istilah Jawa-nya dhomas. Ya, begitulah.. sahabat saya menikah lantaran cinta kilat.
What a sweet suddenly in love. Thanks, Meir for your inspiration 🙂

nice artikel.. 😀
mbak phie kapan nyusul??
*ngarep undangannya ^^
@Beni: thanks 🙂
@Puch: hehehe.. kapan ya? doakan ya, Puch