Sehari Tanpa Ezy (1): Kelimpungan

Kamis pagi, 16 Februari 2012.

Jam dinding di kamar saya telah menunjuk pukul 07.58. Hayoo, saatnya bergegas meninggalkan kaki Merapi menuju kampus. Rencana saya Kamis sore saya akan membawa Ezy ke Prima Motor. Setelah Sabtu, 11 Februari lalu saya membawanya perawatan rutin, saya merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi stang-nya. Semua terasakan sejak hari Senin, 13 Februari. Saya berpikir mungkin saja karena pas hari Sabtu itu bagian depan dashboard dibuka untuk mengganti lampu kota kiri-kanan dan teknisinya kurang memperhatikan kekencangan mur-bautnya. Sementara hari itu jadwal benar-benar padat. Sepulang ngantor, saya masih ada dua sesi jadwal les privat. Itu terjadi setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Ya, berkutat dengan kegiatan mengajar hingga saya setidaknya berada di rumah kembali setelah pukul 20.00. Hm, kadang merasa lelah, tetapi saya telah dititipi amanah membimbing beberapa siswa semester ini. Jadi, Bismillah saja.. saya berharap diberikan kekuatan dan kesehatan sehingga bisa menemani Nasir, Ikang, dan Bagas belajar seperti apa pun kegiatan saya di kampus.

Ezy perawatan
Ezy perawatan di Prima Motor (11 Feb 2012)

mandi ya, Zy biar tambah tampan :D
mandi ya, Zy biar tambah tampan 😀

Hari Senin dan Rabu saya memang harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari kampus menuju Griya Purwo Asri, Kalasan menemui Ikang. Dengan kondisi stang seperti itu, sedikit goyang, hm.. saya tidak punya firasat semacam stang patah di tengah jalan, semua berjalan lancar dan mudah selaras dengan niat saya pergi mengajar, Alhamdulillah.

***

Namun tidak demikian yang terjadi di Kamis pagi kemarin. Saya harus bergegas, dan ketika saya mengeluarkan Ezy dari kandangnya, sampai di halaman depan tiba-tiba saya oleng. Mesin Ezy sudah menyala dan tahu-tahu stang seperti kehilangan keseimbangan. Gussrraaak!! 😯 Saya tersungkur. Untung tidak sampai menimpa tanaman ibu. Saya meringis dan menggumam, bertanya pada Ezy,

“Hey, Buddy.. what’s up wih you?”

Perlahan stangnya saya raih, tapi melihat dan merasakan kondisinya yang kawir-kawir (baca: seperti hampir putus) dan ringkih itu saya urung menarik stang Ezy. Segera saja saya memegang bagian tangki dan mendorongnya hingga tegap kembali. OMG. Olinya berceceran.. 😯

Saya tak bisa menunggu terlalu lama. Segera saja menemui ibu yang juga dibuat kaget melihat kondisi Ezy. Tidak mungkin rasanya mengendarai Ezy ke Prima Motor yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah. Motor Ning pun juga sedang senasib, beberapa hari sudah Qyu menginap di bengkel Pak Moh Eko untuk cek mesin. Untung. Bu Marsih yang sedang mengendarai motor Yamaha matic-nya tiba-tiba berhenti di pojokan rumah. Karena saya tak punya pilihan lain, saya pun meminjam motor beliau untuk lapor ke bengkel terdekat. Hm, motor matic? Sejak dulu saya selalu beranggapan mengendarai motor matic tidak seseru motor dengan kopling. Kalau hanya gas-rem-gas-rem begitu mana seru? Ternyata saya keliru, butuh teknik yang sama sekali berbeda untuk mengendarai motor matic. Ya setidaknya saya dibuat bingung sesaat dan itu membuat motor berjalan dengan tersengal-sengal. :mrgreen:

Perlahan saya pun melaju menuju gang depan. Ya, menemui Lik Mudakir, pemilik sebuah bengkel yang masih tetangga saya sendiri. Sayangnya, saat saya tiba di depan bengkel ia tidak ada di sana.

“Lagi pulang, sebentar kok, Mbak..” begitu kata seorang lelaki muda.

Sepertinya ia teman si pemilik bengkel. Akhirnya saya meninggalkan pesan agar Lik Mudakir mampir ke rumah nengok sepeda motor saya yang stangnya rusak.

Sesampainya di rumah, sebenarnya mau laporan sama ibu, eh saya malah disuruh putar balik untuk menengok ke rumah si pemilik bengkel.

“Cari sampai ketemu, biar motormu segera diperbaiki..”

“Siiaap, Bos!”

Pokoknya kalau ibu sudah seperti itu, saya ga bisa apa-apa selain sendika dhawuh. :mrgreen:

Saya gas-rem sepeda motor pinjaman itu ke barat menuju rumah Lik Mud, sapaan akrab kami untuk si pemilik bengkel. Sesampainya di sana, lhoo.. lha koq rumahnya sepi? Beberapa kali saya uluk salam tidak ada yang menjawab. Dan hingga ke sekian kalinya.. muncullah seorang perempuan berusia sekitar 60-an tahun dari samping rumah. Saya tersenyum dan menyapa beliau,

“Nuwun, Mbah.. Badhe kepanggih Lik Mudakir, wonten? Sanjange kala wau wangsul, nggih?”

“Lhoo, kayane mau ki wis pamit menyang mbengkel ki, Ndhuk.. rak iya ta, Pak?”

Seorang pria, ya saya kenal benar. Beliau Mbah Iman kakung, suami dari perempuan yang saya ajak bicara tadi muncul dari belakang rumah. Sepertinya sedang sibuk dengan seekor lembu piaraan beliau.

“Paling metu tuku onderdil rak an, sedhela..”

Ya, saya mengerti. Saya hanya perlu memastikan dan mendapatkan alasan tepat untuk diungkapkan kepada ibunda tersayang. Yeaah.. dan saya baru saja mendapatkannya! Sesegera mungkin saya mohon diri dari kediaman Mbah Iman. Goo..! Saya melaju ke bengkel kembali. Eh, rupanya orang yang saya cari belum sampai di bengkel juga. Ya sudah, pulang saja setelah meyakinkan kembali mas-mas yang tadi menunggu bengkel. Hmm, sepertinya hari itu saya memang harus rela meninggalkan Ezy dan berangkat-pulang dengan angkot. Apa yang saya dapat setelah di rumah? Ok alasan saya memang diterima.., tapi….

“Ngojek saja sana, Mbak..” kata ibu.

No motorcycle for today? Ooh, Mom.. 🙁 Hm ya, rasanya saya akan sangat kagok bila sehari saja tak memegang kendali motor.. hehe, susah kalau sudah soulmate-an sama motor. Padahal hari makin siang. Saya juga harus memenuhi janji untuk mengantarkan kuitansi pembayaran jurnal kepada salah seorang dosen Fakultas Biologi. hmm, tanpa Ezy bagaimanapun akan sedikit membuat aktivitas saya timpang. Untungnya saya tidak ada jadwal les hari itu.

Langkah saya harus tetap semangat, meski sebenarnya tidak.. tapi saya pikir sehari pergi-pulang naik kendaraan umum tidak ada salahnya. Saya menyemangati diri sendiri. Helm sudah siap saya tanggalkan ketika seseorang bersuara..

“Makai motor Bulik saja, Mbak Jatu, ya? Ndak lagi dipakai sama Syifa kok..”

Rupanya Bu Yuyun, tetangga kami. Hei, saya baru saja mendengar kata motor? Hm, senang.. langsung saya iya-kan. Otomatis langkah saya menuju teras terhenti. Balik kanan maju jalan! Saya menuju ke rumah Bu Yuyun, mengekor langkah beliau.

“Bener nih, Bulik lagi ndak dipakai? Sekalian STNK-nya, Bulik.”

“Iya, nganggur kok hari ini. STNK ada di sini, Non.”

Saya tersenyum dan segera berpamitan.

“Matur nuwun.. Pareng, Bulik.”

“Hati-hati ya. Ra sah kesusu.. ora selak dianggo…”

Saya mampir rumah dulu. Ga afdhol kalau ndak salim sama ibu.

Tahu siapa yang datang sesaat sebelum saya siap berangkat? Lik Mud! Akhirnya datang juga.. ia datang bersama seorang temannya. Eh, itu kan mas-mas yang di bengkel tadi. Setelah mereka turun dari motor, sejenak saya jelaskan perihal yang menimpa Ezy.

“Lik, nyuwun tulung nggih..”

“Ana apa ta?” Sambutnya sedikit penasaran.

“Nika lho stang-e..”

Langkah kaki kami menuju Ezy. Segera saja Lik Mud memeriksa kondisi Ezy. Selepasnya langsung dikendarailah si Ezy perlahan menuju ke bengkelnya. Hmm, saya mendapatkan pelajaran berharga hari itu. Kadang kala saya suka tidak memperhatikan Ezy, hanya karena saya terlampau sibuk beraktivitas. Padahal keselamatan di jalan sangat penting untuk diperhatikan. Maaf ya, Zy.. kalau kadang saya begitu cuek berdalih tidak sempat.. hm, saya ditegur dan sungguh saya masih sangat beruntung tidak tersungkur di jalan karena kondisi Ezy yang kian tua. Juga.. saya beruntung karena masih banyak orang di sekitar saya yang teramat perhatian, bahkan memberi saya pinjaman motor agar aktivitas saya tidak terganggu meski tanpa Ezy. Terima kasih ya, Allah 🙂

***

Ezy my Dear,
Baik-baik di bengkel ya. Semoga stang-mu lekas sembuh..

-bersambung-

Tag , ,

4 thoughts on “Sehari Tanpa Ezy (1): Kelimpungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *