Meja Kerja?

Suatu pagi (lupa tanggalnya, maaf..) saya mengintip sejenak Yahoo! Hm, biasalah update wawasan.. lalu tertarik pada sebuah tulisan (lebih tepatnya kumpulan gambar dalam galeri) bertema meja kerja. Ada yang tertarik? Klik link sebelah sini. WOW… saya tertegun. Rapi dan keren sekali ya. Pengen! πŸ˜€ Hm, saya sepertinya punya juga gambar meja kerja. Boleh iseng sore-sore saat saya sedang mengintip calon postingan, saya jepret-lah itu menurut angle yang saya mau. Ya, sekalipun lebih sempit sih, tapi bolehlah saya jadikan postingan hihihi :mrgreen:

Mau tahu seperti apa? Voila..!! :mrgreen:

meja kerja redaksi Phie
meja kerja redaksiΒ 

Pada foto tersebut telah saya lengkapi dengan beberapa angka. Bisa dilirik lebih dekat atau scroll tetikus maju mundur sambil tekan tombol “Ctrl” pada keyboard sampai bertemu fokus yang nyaman. Baik kita mulai! Ada angka 1 di sana. Ya, tepat di kanan atas dekat dengan jam hijau. Lihat itu? Foto duet dengan gaya konyol :mrgreen:. Saya berdua dengan partner lawas saya, May. Foto itu kami ambil di tahun 2008 saat kami berlibur ke Rembang, kota kelahiran May, tepatnya di bawah kanopi hutan Mantingan. Entahlah, apa yang ada di pikiran May sehingga ia memasang foto itu di antara sekian banyak foto yang kami ambil kala itu. Hm, kalau orang kebanyakan yang dipajang kan suami/istrinya, kekasihnya, keluarganya, piaraannya.. lha ini malah majang foto gaya ga jelas πŸ˜† Ya, biar ingat kalau kerja manteng di depan komputer itu memang tidak boleh sampai lupa untuk rileks dan santai.. jangan lupa pula senam wajah dan banyak senyum lebar supaya awet muda πŸ˜€

Nomor 2.. Nah, lihat ya! Boleh buka blog saat jam kerja berakhir? Tidak selalu seperti itu sih. Saya bekerja tanpa diawasi langsung oleh para tetua redaksi, jadi boleh online kapan saja asal ingat waktu dan target pencapaian. Kadang kala saat saya jenuh dengan kesibukan layout naskah, saya bisa online seharian dan bewe ke mana pun saya mau. Duuh, maruk! πŸ˜› Atau malah, tidak sama sekali menyentuh blog dan aktif menjaring pelanggan di facebook. Bisa? Oh, mengapa TIDAK? Sebagai redaktur sekaligus pelaksana harian, saya juga bertugas menawarkan jurnal. Bahasa ringkasnya jualan, meski redaksi jurnal ilmiah di bawah institusi perguruan tinggi itu lingkupnya terbatas, tidak semacam majalah remaja, tapi tetap harus punya pelanggan. Eh, ini tadi ngomong soal jam kerja tapi kenapa jadi melenceng ke mana-mana? ❓

Lanjut ke nomor 3. Posisi 3 ada di antara lembar-lembar kecil yang menempel di PC si Putih. Ya, kartu nama dan ke semuanya itu adalah bukti dan saksi bisu usaha tim pelaksana harian dua tahun lalu saat diminta untuk survei, menghubungi percetakan yang bagus. Pengalaman adalah guru berharga. Redaksi pun belajar dari pengalaman masa lalu. Berpartner dengan sebuah percetakan yang (ternyata di kelak kemudian hari) kurang bertanggung jawab atas hasil cetak jurnal tentulah mengecewakan.Β Lagi-lagi itulah yangΒ saya lihat dari catatan sejarah sebelum saya bergabung di redaksi.Β Dari situlah kemudian tenaga kami pun dikerahkan untuk mendapatkan partner percetakan yang baik.

Selanjutnya angka 4.. Nah, lihat itu “kuping kertas” berwarna jingga yang nyaman menghias monitor si Putih? Ada banyak hal yang saya tulis dan tempel di sana. Mulai dari daftar Dewan Redaksi plus siapa saja yang harus diundang dalam rapat. Lalu, segala macam informasi yang harus siap sedia seperti nomor rekening untuk transfer pembayaran para pelanggan jurnal, nomor fax jurusan (saya suka berhitung tapi kalau soal menghafal angka saya sedikit payah hehe ), urutan tata letak bab, sub bab, dan catatan penting saat saya me-layout, hingga PR redaksi yang urgent.. pfiuh! πŸ˜₯

Yang terakhir tentu nomor 5. Ada di tengah monitor.. Tahu itu apa? Calon postingan saya di blog ini tentu. Kembali lagi dengan hobi saya menulis apa saja termasuk mengutak atik gambar. Kalau saya tidak sreg dengan ukuran gambar yang sudah saya set medium, saya bisa berlama-lama melakukan finishing dan meng-klak-klik bagian Visual dan HTML. Pokoke sampai saya puas, barulah saya posting. πŸ˜†

Ya, inilah sepenggal kisah dari balik meja kerja redaksi yang sedikit terisolir dari keramaian. Sekalipun saya sedang mengatakan diri rehat dari dunia maya dan me-nonaktifkan akun facebook untuk sementara waktu, saya tidak ingin berhenti menulis. Biar saja tetap nge-blog, tetap menulis. Urusan social networking, bukan masalah besar. Nanti kalau level cinta saya (pada dunia social networking) meningkat, tentu saya akan kembali menuliskan status di timeline fb. :mrgreen: Saat ini saya sedang menikmati kecintaan saya pada dunia nyata, itu saja. Apalagi besok long weekend ya? Huaahm.. betapa saya akan menikmatinya tanpa berkoar-koar kepada sahabat dunia maya. Lepas dari.. entah, berapa banyak sahabat yang merasa kehilangan. Itu sama sekali tidak ingin saya pikirkan. Saya sedang ingin seperti ini dan itu sangat cukup bagi saya sekarang. That’s all..

15 thoughts on “Meja Kerja?

    1. hehehe, itu sudah dirapikan, Pak Alam. yang di meja belakang berantakan pakai banget πŸ˜›
      lha iya, wong isinya tumpukan jurnal sekian tahun πŸ˜€

        1. huhuhu… saya pikir *garuk kepala*
          lihat gravatarnya, Kungfu Panda kan laki-laki ya? *beralasan* :mrgreen:

          terima kasih ya sudah singgah di SPP, Dan πŸ˜€
          sekarang ingat deh, bukan Mas tapi Jeung hehe πŸ™‚

          1. sami-sami, mbak…
            saya mikir, kapan ya punya meja kerja sendiri? maksudnya bukan yang di rumah, tapi yang di kantor. :). sukses untuk mbak Phie πŸ˜€

  1. bagus banget work station-nya. Warna-warna pas difoto bagus. Sayang sekali, monitor putihnya harus terkotori oleh kehadiran kuping-kuping kertas itu. Apa tidak ada cara lain ya untuk menempelkan kertas2 itu? Ditempel di langit-langit ruangan sepertinya masuk juga tuh hahahay πŸ˜€

    1. wah, kalau di langit-langit kejauhan dunk, Mas.. bisa merem melek melihatnya :mrgreen:
      btw, terima kasih ya sudah berkenan mampir di SPP πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *