Di sebalik riuh pasar, ada mereka
perempuan-perempuan perkasa
Demi kepul dapur dan roda rumah tangga
rela menikam penat dan bekerja
Mengamati mereka,
seperti melongok kisah ibunda
tentang sesosok lain perempuan perkasa
Ia penyambung nyawa, penafkah keluarga
saat suaminya hilang kesadaran
kar’na dijegal seterunya
Adalah Nyi Warsilah, namanya
Ahad pahing, hari lahirnya
Konon, leluhur kami beranggapan
lahir di bawah neptu pahing
berarti cukup kuat menyandang penderitaan
Ya, siapa sangka pahing bermakna pahit?
Jalan hidup nan pelik (?)
Juga suratan yang rumit (?)
Hanyalah Gusti Kang Murbeng Dumadi yang Tahu
Liku hidup semacam apa itu
Namun, dari kisahnya di sebalik riuh pasar
ada perjuangan pahit tanpa henti
-Bagaimana bisa?-
1965, anak kelimanya lahir saat suaminya dijegal, di-PKI-kan
Seorang seteru menikam Ki Marsahid, suami tercintanya
Padahal yang ia tahu,
Suaminya baik-baik bekerja di kota,
di sebuah kantor urusan agraria
Usut punya cerita
Ini bukan tak adil urusan kavling tanah negara
Ini urusan politik, kabarnya
Entah, perempuan dusun seperti Nyi Warsilah buta berpolitik
Tak sedikitpun ia tergelitik
Mengurusi persoalan yang sama sekali tak ia pahami
Ataupun membalas perlakuan curang mereka atas sang suami
Gusti Allah memberinya akal untuk menemukan cara
Maka, berupayalah ia
Mengambilalih komando keluarga,
melakukan reka daya bersama keempat anaknya
Sirih, rambutan, kelapa, salam, nangka
Hasil kebun menjadi modalnya
Mengakrabi pekat dini hari kaki Merapi
bukan barang baru lagi
Saban hari menjenguk subuh
Sulit, tapi nyaris tanpa keluh
Mencumbui rinai hujan
sembari memangku barang dagangan
lebih baik baginya
daripada terus-menerus menangisi keadaan suami tercinta
-Ada apa? Ada apa dengan Ki Marsahid?-
Benar kata orang,
Fitnah jauh lebih kejam ketimbang pembunuhan
Kekejamannya tlah membuat Ki Marsahid
Tersungkur kepayahan
Tak lagi bekerja, tak lagi dipercaya
Tak lagi mampu berpikir, hanya diam berkepanjangan
Istri mana yang bakal tahan
Melihat suaminya hampir hilang ingatan?
Oh, Nyi Warsilah…
Betapapun berat, ia bertahan
Ia bawa segalanya ke dalam riuh pasar
Nylamur barang sejenak dari beban
Bukan, bukan ingin menghindar
hanya agar ia pulih saat kembali pulang
dan melanjutkan perjuangan
“Anak-anak dan keluargaku harus tetap utuh, biarpun mereka tlah menganggap kami musuh..”
***
Hm, begitulah..
Sepenggal kisah
pahitnya hidup Nyi Warsilah
Ia perkasa dalam bentuk ejawantahnya
Ia tangguh tanpa mesti banyak mengeluh
Mengeluh, mengapa terlahir sebagai perempuan
Mengeluh, mengapa tersurat dalam rumitnya lakon kehidupan
Ia sosok Kartini bagi kami,
Terutama bagi anak turunnya; bagi cucunya, Phie
-kaki Merapi, 26 April 2012, bakdal Subuh-
catatan:
Kang Murbeng Dumadi = Yang Mahakuasa
Nylamur = mengalihkan fokus pikiran
Tulisan ini diikutsertakan dalam event #BloggerKartinian yang diselenggarakan oleh Mbak Melly
saya jadi inget ibu 🙁
cup..cup..cup.. Puch, sepahit apa pun.. kita bisa ambil hikmahnya. semoga kisah ini bisa lebih menguatkan langkah kita, menjadi perempuan perkasa. SEMANGAT selalu yaa 🙂 [peluk]
waaaahhh terima kasih mba asri udah ikutan kuis di blogku.
puisinya keren.. dan pas untuk menceritakan seorang Kartini 🙂
aku catet yah
kembali kasih, Mb Melly 🙂
senang bisa berpastisipasi 😀
keren mbak… 😀 dan bikin terharu..
sepuluh jempol buat mbak phie..
sepuluh jempol? *gubrak*
kulakan jempol tetangga yak? hehe
makasih, Mel.. 😀
bener tuh mbak phie, fitnah lebih kejam dari pembunuhan 🙁
sedih…………tapi keren mbak nyi nya 😀
kisah nyata jaman revolusi penuh kesedihan, Niar.. tapi itulah yg bisa kita jadikan pelajaran ya 🙂
dah aku harus klik Like dan komen ini sangat keren. Wah ga jadi ikutan #Bloggerkartinian menyerah liahat sanginnya sangat tangguh.
sukses ya mba… 🙂
eh, koq malah mundur gimana sih, Sob?
ini kan ajang buat berpartisipasi. nulis ya nulis aja hehehe.. terima kasih ya, sukses juga buat, Sobat 😀
PHie, mau jempol berapa???
keren euy…
aku nulis pantun aja ahhhh… dikotak komen, hihihi..
Mbak Iyha ikhlasnya kasih saya berapa wis? *malah nawar 😛
Terima kasih, Mbak. Tunggu partisipasi saya ya. Singkatan Kartini sedang dalam penggodhogan hihihi
wuidih….merinding2 bacanya
berkah tinggal di gunung mah inspirasi yg ditimbulkan mencengangkan,,,sukses ya Phi
kisah jaman revolusi fisik.. hm, kisah nyata yang pahit, Mi. sepenggal kisah neneknda memang seperti itu. saya juga nerinding membaca ulang tulisan ini. terima kassih, Mi. sukses selalu buat Mimi 😀
Subhanallah… tangguh banget Nyi 🙂 #saluuut
saluuut.. untuk almarhumah neneknda. Al Fatikhah 3x..
Nyi Warsilah sosok wanita yg patut di tiru ketangguhannya oleh wanita masa kini
termasuk saya, cucunya, Riez 🙂
terima kasih sudah mampir 😀
politik memang kejam,sering mengorbankan pihak-pihak yang tak bersalah
🙂