Seperti Bunda Sumiyati, Bersyukurlah..

♫ Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah..

Tetap jalani hidup ini dan melakukan yang terbaik.. 

Larik syair D’Massive di atas sepertinya menggambarkan benar apa yang dirasakan oleh Bunda Sumiyati Sapriasih, seorang bunda blogger yang tergabung dalam komunitas Kumpulan Emak2 Blogger (KEB) dan Warung Blogger. Bulan ini beliau mengadakan event giveaway, sebagai bentuk syukur kepada Yang Mahakuasa, Allah SWT. Membaca apa yang telah beliau tulis selama kurun waktu empat bulan ini, membuat saya merasa saya masih harus mengejar ketertinggalan. Semangat beliau untuk tetap menulis itu…., saya juga harus bisa. Salah satu tulisan beliau yang memikat hati adalah Bersyukur Menjadi Diri Sendiri. Inti tulisan ini mengingatkan saya bahwa betapa bahagianya menjadi diri sendiri seperti apa pun yang saat ini kita terima. Bersyukur di kala senang maupun di kala sedih dan susah.

Bersyukur bagi saya serupa menghaturkan segala penghormatan kepada Yang Mahakuasa atas segala hal yang telah, sedang, dan akan terjadi nanti. Ya, itu seperti juga menilik kembali apa yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada saya, Phie, seorang gadis biasa dari kaki Merapi. Saya lebih suka disebut gadis desa, wong ndesa.. sebutan yang bagi banyak orang (mungkin) terkesan level bawah. Ah, sudah.. Kalau pun saya orang desa, itu tidak akan menghalangi saya beriman-bertaqwa kepada-Nya. Nyatanya keyakinan yang saya anut tidak memberi batasan bahwa Tuhan Yang Mahadaya itu hanya untuk orang kota, dan bukan untuk orang desa. Tidak pula menghentikan saya untuk berbakti kepada orang tua, menyayangi kedua adik saya, berbagi dengan sesama. Kalau pun saya (masih) tinggal di sebuah rumah sederhana di kaki gunung, insyaAllah itu tidak akan membentengi ruang gerak saya untuk tetap tersenyum lebar. Tidak akan merintangi saya menyapa pagi, melantunkan kidung syukur di antara hijaunya alam pedesaan. Kalaupun sampai saat ini saya masih setia berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan bantuan les privat dengan motor jadul keluaran tahun 90-an, itu tidak akan membuat saya berhenti. Tidak pula berhenti menjelajah, bertualang, dan melihat-mendengar-merasakan hal-hal baru lalu menuliskannya sebagai sebuah prasasti kehidupan.

Bukankah hidup ini teramat singkat untuk dilewatkan begitu saja? Terlampau indah untuk dibiarkan tanpa kesan, tanpa memberi manfaat kepada sesama? Ah.. semoga keinginan sederhana ini tetap membuat saya bertahan menjadi seorang biasa dari kaki gunung, tidak lebih-tidak kurang. Aamiin ya Rabb.. Terima kasih Bunda Sumiyati, terima kasih telah membuat saya dan banyak orang lain menengok kembali apa-apa yang telah dikaruniakan Tuhan untuk kita, seperti apapun keadaannya. Tentulah itu karena sebuah keyakinan bahwa..

♫ Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya..

Bagi hamba-Nya yang tabah dan tak kenal putus asa.. 

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Blog Review bulan Maret 2012 yang diselenggarakan oleh Bunda Sumiyati Sapriasih

23 thoughts on “Seperti Bunda Sumiyati, Bersyukurlah..

  1. Betul mbak Jatu …wong urip kepenak ki nek iso mensyukuri apa yang sudah diberikanNya …Bukan hanya sekedar “syukur”, tapi syukur beneran …kalo boleh memilih, tep luwih kepenak urip neng ndeso. balik lagi ke kampung candi … mo masak tinggak petik, mw buah, tinggal ambil, mw ikan, tinggal ambil. hehe….daripada di Jakarta seperti sekarang …hehe, ya itu tadi, namanya tugas, namanya udah diberi amanah … dijalani dan disyukuri …

    1. Terima kasih sudah berkunjung lagi, Mbak 🙂
      Ya, seperti itulah.. menerima apa yang telah diberikan. Kalau kata leluhur kita, “tansah narima ing pandum” dibarengi dengan upaya terus-menerus, insyaAllah pintu rejeki kan selalu terbuka 🙂

  2. jangan menyerah… jangan menyerah… <–lanjutin lagunye 😀 xixii

    kalo kite kagak bersyukur, kgak bise dibayangin dah azab nyang bakal kite terime.. iy.. ngeri.. 🙂

    mba Phie bersyukurkan kenal ame Nay..:D hohohooo

    1. hmm, Nay mah lagi seneng-senengnya nyanyi nih.. kan jadi ketularan masuk di postingan :mrgreen:
      yup, benar, Nay.. kalau kita ga bersyukur sama Gusti Allah SWT, waah.. berabe kita nanti, ga mau ah digolongkan jadi hamba yang sombong 😥

      kenal sama Nay? oh, tentu saja.. ingat ini selalu ya, Nay: Mengenalmu adalah sebuah kesyukuran.
      CHEERS…!! 😀

    1. Terima kasih telah berkunjung, Pakde 🙂
      InsyaAllah, selalu belajar untuk menjadi hamba yang baik.
      Salam hangat dari kaki Merapi 🙂

  3. Mbak pikkkk itu official soundtrack penelitianku lhooo ;p
    hup hup hup akhirnya blogku resmi launching nihh, mampir ya mbakkk #tpbelumadaapa2nya -_-“

    1. Wahahaha… selamat ya, OSTmu terpilih menjadi pembuka & penutup tulisan untuk giveaway ini.
      Eh, Non gimana kalau ikutan juga giveawaynya Bunda Sumiyati.. kan bisa nambah rame blogmu *ngompori :mrgreen:

      1. Wuahh jangan menyinggung visitor blogku mbak T_T belum ada 100 nih pdhl udah 4 hari umurnya hukss -_-”
        iya sih mbak pingin ikutan, tp aku blm punya passion buat lomba. Nggak pernah menang sihh @_@

      2. Wah.. maaf ya, ga maksud menyinggungmu, Din. Yang semangat nulisnya. Aku dulu 4 hari saja ga nyampai puluhan. Yang penting jaga konsistensi nulis *maunya sih gitu, tapi yg satu ini aku juga susah, Din 🙁

  4. Memang sudah seharusnya yang namana bersyukur tetap harus tetap kita ucapkan lewat mulut dan kita iya kan lewat hati. Apapun bentuknya, karena dengan bersyukur itu kita bisa menikmati apa yang telah kita dapat menjadi lebih afdol lagi 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  5. Saya ikut memetik pelajaran dari Bunda Sumiyati ya, Mbak Phie. Benar sekali, dengan bersyukur kita menjadi bahagia. Semoga sukses ya, Mbak.

    Ohya, Mbak, saya juga mengadakan giveaway betapa senangnya ngeblog. Ikut ya, Mbak. Info selengkapnya silakan dilihat di blog saya. Makasih….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *