Masih tentang akhir pekan yang terlambat diceritakan.. Kalau di long weekend minggu sebelumnya saya sudah berkangen-kangenan dengan Kinahrejo, rencananya akhir pekan selanjutnya (26 Mei 2012) saya akan ke Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Kaliurang. Rencana sudah disusun. Saya woro-woro di timeline facebook mengajak Puch dan mbak Susi. Hari berganti.. Yang terjadi sungguh di luar perkiraan. Saya gagal menjajal jalur hiking pendek TNGM untuk yang kedua kalinya akhir Mei kemarin. Hmm, itu seperti membaca kembali SMS yang masuk di inbox ponsel pada hari Jumat pagi. Ya, Puch..
Mb phie, mohon maaf sblmnya. Sy dapet jatah kerjaan dadakan bsk pagi, tdk bs ikut naik gunung lg… T.T mgkn lain kali y mb..
25-05-2012, 09.48.01
Ya, sudah lain waktu. Saya pikir saya masih bisa naik ke Kaliurang, eh ternyata… Keesokan harinya, pas hari H, Mbak Susi juga mengundurkan diri karena malam sebelumnya ia tidak nyenyak tidur. Daripada pingsan di tengah perjalanan hiking dan merepotkan saya, ia memilih untuk me-reschedule saja agenda kami. Begitu yang ia katakan di SMS-nya. Okay, fine.. never mind-lah. Oleh karena itu, Sabtu, 26 Mei itu saya undurkan semua agenda dan menggantinya dengan belanja hehe. Ada sisi lain dalam kehidupan seorang Phie yang entah ini bisa dibilang normal atau aneh. 😛 Saya tertarik dengan hal-hal berbau etnik; dan itulah mengapa saya suka menyambangi salah satu tempat di Jl. Kaliurang, Mirota Batik. Sekalian cari kado untuk seorang teman kampung yang malam harinya mengundang kami datang ke acara miladnya ke-18. Kelar belanja, siap-siap untuk melaju lagi ke pinggiran kota Bantul, ya menuju Jogja Expo Center. Saya punya acara nge-date sore itu. Berdua saja, bukankah itu romantis? Hehe dengan siapa dulu? 

Ya, kami berdua mengantri untuk masuk ke sesi I pementasan Musikal Laskar Pelangi (MLP). Hm, habisnya terinspirasi dengan kisah anak-anak Belitong juga karena saya kangen dengan jaman-jaman latihan teater. Sayangnya, belum sampai menggelar pementasan perdana, anggotanya keburu bubar jalan. Sedih.. 😥 Baiklah, bukan waktunya saya terbawa mellow gara-gara gagal mentas bersama teman-teman teater TanpaNama.. saya hanya ingin have fun setelah sepekan penat dengan aktivitas ruang redaksi dan jadwal les. Jadilah, Ning dan saya menikmati setiap liukan antrian penonton yang mengular saking banyaknya yang ingin datang siang itu. Tepat di pintu masuk ruang pameran, setiap pengantri diperiksa. NO CAMERA, NO HANDYCAM.. Jadilah dititipkan semuanya di meja panitia. Untungnya ponsel saya yang dipegang Ning masih boleh masuk. YES..!! 😀 Setidaknya bisa mendokumentasikan meski dengan kualitas just so-so, hmm.. Kami masuk lewat pintu Silver, sesuai tiket. Ya, kocek ini baru mampu berada di tribun Silver, Alhamdulillah.. 🙂 Sebelum masuk, kami dibagikan gelang. Biar panitia lebih mudah mengenali jika nantinya ada penonton yang berulah curang.

Ada peraturan lain. Selain NO CAMERA, NO HANDYCAM.. juga NO FOOD & BEVERAGES. Tapi, ya dasarnya Indonesia.. masih saja banyak yang nakal membawa menyalakan kamera lalu jeprat-jepret di sebelah belakang kami duduk tanpa merasa bersalah. Yang membawa kudapan juga tak kalah banyak.
“Sayang anak.. sayang anak.. Kan kasihan, Mbak kalau anak saya nangis minta minum..” begitu mungkin yang ada di benak para penonton yang mayoritas orang tua dan anak-anak.
Aturan itu dibuat untuk dilanggar ya? *ABAIKAN..!
Setelah masuk beginilah kondisi ruang pementasan dilihat dari tempat kami duduk.

Jauhnyaa..!! Lhaaa.. kan tadi saya sudah katakan, kualitas gambar just so-so, ini dia buktinya 😆 Hm, tapi tenang saja.. saya cukup menikmati pemandangan panggung dari kejauhan juga keriuhan anak-anak di depan kami yang duduk sesekali dan berdiri sesering mungkin 😆 Namanya juga nak-anak *nyuri logatnya Cak Citro Mduro 
***
Jadi apa yang ditampilkan? Semua diawali dengan monolog dari si Ikal, tokoh utama novel Laskar Pelangi. Ia berkisah dengan alur flash back tentang yang terjadi dengan masa kecilnya bersama kesembilan sahabat juga gurunya Bu Muslimah. Dimulai dengan Belitong yang kaya dengan pertambangan. Sayangnya, kesenjangan sosial terjadi di sana. Yang kaya bisa bersekolah di SD PN yang bagus. Sementara anak-anak level bawah (termasuk si Ikal) hanya dapat merasakan sekolah di SD Muhammadiyah yang kala itu kondisinya sangat memprihatinkan, bahkan terancam dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel bila tidak mampu memperoleh 10 orang siswa. Bayangkan saja, untuk mengumpulkan siswa saja sulit. Di hari pembukaan pendaftaran siswa, Bu Muslimah nyaris putus asa. Ia menginginkan 10 orang anak untuk ia bimbing, tapi seorang rekan guru lain malah mengatakan target itu tidak akan terpenuhi. Di detik-detik terakhir, akhirnya berkumpullah 10 orang anak dalam satu kelas.
Suka duka dilalui oleh Bu Muslimah. Di tengah membaranya semangat beliau mengajar kesepuluh anak, si guru rekan kerja memilih mengundurkan diri dari sekolah sederhana itu. Beberapa waktu kemudian disusul dengan meninggalnya sang kepala sekolah, Pak Harfan. Betapa kesedihan itu tertumpah hingga seolah tiada lagi daya beliau untuk melanjutkan idealisme sebagai seorang pendidik. Beliau merasa tidak sanggup lagi berjuang sendirian tanpa kepala sekolah, satu-satunya yang menjadi mitra. Alhasil, anak-anaklah yang bergerak. Mereka bertandang ke rumah Bu Muslimah dan membujuk beliau agar mau mengajar kembali.
Sebuah event lomba cerdas cermat dijadikan pemicu mereka belajar. Setelah berhari-hari mereka berjuang, tibalah pada waktu lomba itu. Di detik-detik terakhir terjadi ketegangan karena jawaban grup SD Muhammadiyah dianggap salah. Maka, dilakukanlah penghitungan ulang. Saya kaget sekaligus kegelian di bagian ini karena saat Lintang menghitung ulang, di panggung muncul sebuah papan tulis raksasa. WOW… 😯 butuh berapa meter persegi ya untuk menyimpan semua properti sebesar itu? ❓
Sebuah kisah lain yang membangun kisah MLP adalah ketika si jenius Lintang memutuskan berhenti sekolah karena ayahnya meninggal saat berlayar. Ia pun menggantikan ayahnya menghidupi kedua adik perempuannya. Di sini saya terbawa lagi.. menyedihkan. Ooh, si perasa mulai beraksi. Beberapa butir air mata tak sanggup terbendung. Untungnya penerangan di bagian tempat duduk dipadamkan saat itu. Segera saja saya mengambil scarf di dalam tas.. hiks.. hiks.. terharu 😥
Di bagian lain saya tergelak oleh karena si Ikal jatuh hati pada seorang gadis Cina bernama Alin. Saya sampai ikut menyanyi..
Siapakah engkau gerangan
Putri dari khayangan
Jemarimu begitu lentik
Hatiku tergelitik
Seperti ada kupu-kupu menari dalam perutku
Aku mendengar suara berdenting, Alin.. Alin.. oh, Alin
Pementasan MLP diakhiri dengan moment karnaval yang diikuti pula oleh SD Muhammadiyah. Kalau SD PN menampilkan drum band, maka kesepuluh Laskar Pelangi ini menampilkan tarian diiringi musik tabuhan rebana hasil olah ide si Mahar yang nyentrik. Happy ending-nya, SD Muhammadiyah berhasil menyabet piala untuk penampilan terbaik.
***
Pementasan ini didukung orkestra garapan Erwin Gutawa. Pantas saja kalau beberapa kali saya berhasil merinding terbawa suasana. Belum lagi koreografinya. Pokoke KEREN.. 😀 Semuanya asli, bukan lip sync. Wah, saya saja dulu pentas wiracarita Harya Penangsang pakai acara krenggosan (= terengah-engah, red.) saat harus menari sambil bernyanyi. Jelas butuh ketahanan tubuh ekstra. Jadi kangen masa-masa itu.. 🙂 Kesimpulannya? Puas bisa menonton MLP sekalipun dari tribun Silver 😆 Kami pun pulang meninggalkan JEC menjelang maghrib. Masih ada agenda seru malam itu: menghadiri undangan ulang tahun Ika. Juga… sebuah agenda di hari berikutnya yang saya pikir luar biasa bagi saya. Rasanya tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi ketika saya membaca sebuah SMS dari Isma, seorang adik angkatan jaman kuliah.
Assw. mengundang tmn2 dlm agenda REPLING brsama lembaga outbond GMTC di jembatan babarsari pd tgl 27 mei jam 8.30,dg kontribusi hny Rp.5000 khusus utk tgl 27. Sgr daftarkan dirimu di 087738172420.SEBARKAN y..
26-05-2012, 09.26.31
Repling? Akankah sama serunya dengan nonton Musikal Laskar Pelangi? Hmm… Biarkan saya bermimpi saja kalau memang saya tak cukup nyali untuk mencobanya
Beruntunglah, saya tidak akan ke sana sendiri. Seorang teman kampung yang telah saya anggap seperti adik sendiri, Fajar, berhasil saya kompori untuk turut serta *hihihi dasar tukang kompor
😆
***
Ahad pagi, 27 Mei 2012
Saya bergegas. Tidak ada acara jogging seperti biasanya. Saya terpaku pada sebuah ingatan jaman saya masih aktif mengikuti latihan Pramuka. Itu duluu sekali, saat masih duduk di bangku sekolah menengah umum. Namun, bagaimanapun untuk urusan repling, ini yang pertama kalinya. Bagaimana ya nanti? Batin saya bertanya-tanya.
Semua terjawab ketika saya merapat ke lokasi yang disebutkan di SMS, Jembatan Babarsari. Sejak dahulu di sinilah para pecinta olah raga high impact macam repling berlatih. Saya bertemu Fajar di lokasi karena ia berangkat langsung dari kampusnya, Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY. Sampai di sana kami berbincang sejenak dan tolah-toleh mencari-cari di mana gerangan teman-teman GMTC berada. Ya, rupanya yang hari itu berlatih repling tidak hanya GMTC, kira-kira ada 3-4 kelompok lain di sepanjang jembatan. Setelah berkiriman SMS dengan Isma dan tahu persis lokasi mereka, kami pun segera bergabung.
Sebelum menjajal nyali, Isma mengenalkan saya dengan Athin, rekan sesama instruktur di GMTC. Lha, si Fajar? Tenang, ia bergabung dengan teman-teman GMTC laki-laki. Mau tahu seperti apa serunya? Saya saja sampai 4 kali mencoba. Weleh.. weleh.. ini pengen atau penasaran? Entahlah.. ada sensasi berbeda dengan pengalaman pertama saya ini. Yang jelas, saya jadi tahu bagaimana standar turun dari atas jembatan dengan tali. Pertama, tali untuk mengaitkan carabiner diposisikan di kedua kaki dan pinggang. Usahakan tidak kendor agar pinggang tidak sakit. Kedua, pasang carabiner pada tali pengait tubuh dengan tali yang digunakan untuk turun. Pasang hingga kencang, lalu kendorkan satu klik. Ingat untuk mengenakan sarung tangan. Setelah siap, yang ketiga adalah ambil posisi di lajur turun. Sebuah karpet merah digunakan untuk membantu kami. Posisi yang pas tangan kanan memegang kendali, sementara tangan kiri berada di depan. Begitu siap instruktur meminta untuk berteriak,
“Lapor.. Palupi Jatuasri siap turun!”
Seketika itu Isma si instruktur memberi aba-aba pada penjaga tali yang berada di bawah jembatan untuk bersiaga. Yang keempat, ini bagian yang seru! Selama menuruni badan jembatan, posisi tubuh diusahakan lurus agar kelak tidak sakit punggung. Dan… begitu kaki hampir mencapai bagian bawah jembatan, posisi tubuh dimiringkan lebih rendah dibanding dasar jembatan. Setelah itu, meluncuuuurrr… hingga menginjak tanah 😀 Hmm, daripada bingung ini dia urut-urutannya.






Hohoho.. kesimpulannya, nonton MLP sama serunya dengan mencoba repling. Kalau saya sampai 4 kali turun jembatan Babarsari.. itu berarti saya memang menikmati desiran adrenalin yang naik turun. Yah, lain kali saya akan bergabung dengan teman-teman GMTC, insyaAllah bila kondisi mengizinkan 😀
salam kenal aja yaaa…:)
salam kenal kembali 🙂
Seru amat se mbaa… ajak2 dung kalo ada seru2an getuu… 😀
Mau, Dant? Kapan-kapan yak, insyaAllah kalau aku diajak temen-temen GMTC dak kabari wis
aku kemarin juga mau nonton itu laskar pelangi.. tapi ga jadi. hehehe
lhaa kenapa ga jadi, Mel? bagus lhoo *ngiming2i 😀
aku laki2 tulen anakku 2! Untuk turun2 pake tali-temali spt itu, wah sorry ya … *Hebat kamu ya 🙂
hehehe.. Kang Ade, makasih sudah mampir 😀
laki-laki tulen? wah, saya tidak berani menyangkal itu 😆 ini sekadar mencoba hal-hal baru yang seru..
IIhhh bikin pingin ikutan deh mbak phie 😀
ke sinilah, Niar.. cihuuy pokoknya
Mengenai MLP …
Saya dengan musiknya keren-keren … sayang saya belum pernah nonton versi lifenya … Dan semua bukan lipsinc … menambah nilai lebih dari pementasan ini …
Mengenai Repling …
Ohhhh tidaaaaakkkk …
ngeliat fotonya saja aku singunen Phie …
(om trainer payah nih !!!)
salam saya Phie …
Salam kenal, Om Nh 🙂
Benar-benar seru, Om nonton MLP live
Haha.. kalau soal repling.. Saya bilangnya, “Iyaaaaaaa….” 😆
Sensasinya itu, Om.. deg deg siirrr 😀
aku kangen sama jembatanya hehehe
Yuuk mariii, ke Babarsari lagi 😀
mbak, minjem potoy pas repling ya,,buat ngiming2i org…:D