Bila kita bicara tentang kegagalan, yang ada selanjutnya adalah aura negatif, disusul dengan galau, gundah, gulana pun meruah menjadi satu *eh π Rasa inilah yang sama ketika saya harus menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak selamanya seperti yang saya inginkan. Hidup tidak selamanya harus berjalan urut dari A hingga Z. Kadangkala hidup harus bermula dari X, melompat ke C, lalu mundur lagi ke P. Ya, begitulah hidup. Sudah menjadi rahasia Sang Maha Dalang, sebagai manusia (baca: wayang) kita semua tinggal melakonkan titahnya.
Jadi, sebenarnya kejadian apa yang menimpa saya? Hm, mungkin Sahabat ada yang masih ingat dengan Captain Cartenz? Ya, dia. Kalau ada yang pernah bertanya atau penasaran mengapa saya tidak pernah lagi menyinggungnya setidaknya sejak empat bulan terakhir itu karena satu kata: gagal. Benar, hubungan kami terpaksa dihentikan. Gagal untuk diteruskan meski telah hampir dua tahun lamanya. Gagal dilanjutkan meski kedua keluarga telah saling mengenal.
Well, memang tidak mudah menghadapinya, terutama di awal-awal kami memutuskan untuk sampai di sini saja. Tepatnya pertengahan Januari lalu, ia memberi saya keputusan yang tidak saja membuat shock, tetapi juga memicu saya nekat ngabur ke ibukota untuk menemuinya, padahal kondisi ibukota kala itu darurat banjir.
Menjalani LDR memang tidak mudah, begitu kata orang. Mungkin karena saya telanjur tumbuh menjadi gadis mandiri, bahkan tanpa ada dia di samping pun tidak saya jadikan masalah. Kalaupun ada masalah–utamanya dari gadis-gadis pengganggu–ia selalu bisa saya percaya, meski hal itu akan menjadi salah satu alasanΒ kami berdebat. Namun, pada akhirnya semua akan berakhir dengan pembicarakan baik-baik.
Sekarang itu semua menjadi masa lalu. Masa lalu yang baru saja melintas demikian apik di kehidupan saya. Masih saya simpan beberapa benda yang ia kirim untuk saya. Terakhir kali, ia mengirim dua buah kain tenun sebagai oleh-oleh perjalanannya melintasi dua negara, Indonesia–Malaysia dalam acara wing day Honda Tiger Club Indonesia (HTCI).
Beberapa bulan berlalu sudah. Saya tidak lupa padanya, tidak pula menyimpan rasa benci apalagi saya sudah dekat dengan keluarganya, terutama keponakan tersayangnya, Nona. Ya, sampai kapanpun silaturahim ini tidak akan putus. Mereka telah menjadi bagian hidup saya dan akan seperti itu seterusnya, insyaAllah.
Tidak ada lagi yang harus saya tangisi. Saya harus bisa. Optimis! Itu adalah sikap yang benar-benar saya genjot beberapa bulan ini. Kalau orang lain bisa menuliskan resolusi ‘menikah’ pada list best wishes tahun ini; tidak dengan saya. Namun, bukan itu permasalahan utamanya. Yang perlu saya lakukan adalah dealing with this problem, NOT for running away. Ya, menghadapinya… bukan menghindari apalagi melarikan diri.
Hal pertama yang saya lakukan setelah menerima kegagalan adalah menangis; hal yang jamak dilakukan oleh perempuan biasa pada umumnya. Jatuh tersungkur itu tidak pernah membahagiakan. Namun, setelah itu, saya merangsek menggedor keberanian diri untuk selalu sibuk. Pagi-pagi sekali berangkat memberi les jam ke nol di Kalasan. Usai les, melaju ke kampus dan berkutat dengan urusan redaksi. Pulang ke rumah dalam keadaan lelah, lalu pergi tidur, meski kadang masih terbangun dengan mata sembap. Semua butuh proses, saya mengerti dan menikmati itu.
Sedikit berbeda ketika tiba akhir pekan. Saya menyibukkan diri bergabung dengan beberapa kegiatan, di antaranya dengan Akademi Berbagi, Sahabat Lingkungan dan Walhi Jogja, mengikuti studium general bimbingan belajar menulis (BBM) buku anak, juga mendaki bersama Forum Muslimah Tangguh (postingan menyusul
). Lelah, tetapi tidak jadi masalah. Ini hanya soal waktu; juga soal menikmati hikmah di balik kegagalan. Kalau Tuhan menginginkan hal semacam ini terjadi, maka saya dan setiap orang harus menerimanya. Dibantu dengan mendengar petuah bijak dari beberapa kawan, senior, dan famili.. alhamdulillah, saya bisa melaluinya.
So? Daripada berlarut bersedih, lebih baik menghibur hati. Seperti yang di bawah ini. Lagu dalam video ini adalah lagu kesukaan saya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Lagu yang dinyanyikan oleh AB Three ini akan membuat pikiran terbuka. Baca, cermati, dan resapi liriknya. Lalu? Tinggal klik tombol play dan … lets get the beat, Everbody! 
*sumber gambar dari sini
jadi semua ini ttg retaknya hubungan?
ttp semangat mbak ^^
bukan retak, lebih tepatnya berakhir dan tidak akan bersambung lagi π
kata ABG jmn skrg move on hhe
Yupe.. Semangat move on! π
Mbak, luar biasa *hugs*
*peluk balik* tengks, Mbak Evi.. SEMANGAT
dalam proses menata hati ya mbak,,,,
semoga segera bisa move on ya mbak….
iya, Mita. aamiin, terima kasih π
sama-sama mbak… π
π
semangat, Mbak Phie
Insya Allah kelak menjadi kenangan yang berharga dan menghargai diri bagaimana untuk bangun dan menyemangati hidup etika terjatuh π
Terima kasih.. SEMANGAT, Mbak Anaz! π
Ya, pengalaman adalah guru terbaik, tentu saja menghadapi kehidupan harus dengan usaha yg teguh. InsyaAllah, semua akan indah pada waktunya π
seneng phie optimis banget hadapi ini …..semangat terus ya
insyaAllah, mohon doanya, Bunda π
*Senyum
Semangat mbaaaa..aku pernah merasakan itu, LDR dan diputusin π
eh, klo mba baca postinganku yg move on dr ben affeck isinya hampir2 samalah dg post mba ini π
bener, mbaa..kita harus optimis. dan tetap bersemangat!
Heihooo, tentu, Mbak Mell.. harus bin kudu alias wajib senyum & semangat! π
Ini saatnya membuktikan ketangguhan, yeay!! π
Ya, move on..
LDR emang tidak enak, pengalaman
π