Yang Nyantol di Pos Cinta

Apa jadinya jika saya mengikut tantangan menulis surat cinta selama 30 hari berturut? Lepas dari seperti apa pendapat orang; bagi saya, itu hal yang menyenangkan. Itu juga berarti, saya bisa menyampaikan hal-hal yang lebih pribadi dengan cara lain dari biasanya. Awalnya saya ragu, mau mengirim surat untuk siapa? Kekasih saja tidak punya. “Ah, sebagai gantinya, orang-orang di sekitar saya kan banyak,” begitu saya pikir. Lagipula, bukankah cinta itu sesuatu yang universal? Jangan cuma dibagi dengan kekasih saja donk! :mrgreen:

Oke, jadilah per 1 Februari, saya memulai jatuh bangun menulis surat cinta. *tsaah

Nah, karena jika saya menjelaskan semua surat cinta tersebut satu per satu di sini, bisa membikin pegal jari-jari tangan 😛 ; maka akan saya cuplik saja beberapa surat yang terpilih dan berhasil nyantol di Pos Cinta.

Yang pertama adalah surat hari ke-16 berjudul Untuk Para Penjaga. Surat ini saya bingkiskan untuk pepohonan yang ada di sekitar rumah dan pekarangan. Mereka sangat berjasa bagi kami. Silakan diintip di link berikut:

Yang kedua, surat hari ke-17 berjudul Selarik Kabar untuk Nana. Surat ini saya bingkiskan untuk Nana, adik ragil Captain Cartenz yang sudah saya anggap seperti adik saya juga. Beberapa waktu sebelumnya ia mengirim SMS, bertanya kabar saya sekeluarga. Mungkin ia sedikit cemas karena melihat pemberitaan soal abu vulkanik yang menyelimuti Jogja. Silakan diintip di link berikut:

Yang ketiga, surat hari ke-18 berjudul Jika Bisa Bertemu. Surat ini adalah surat yang ditentukan temanya oleh Bosse Pos Cinta. Intinya, seluruh peserta #30HariMenulisSuratCinta diwajibkan menulis surat untuk para tukang pos, khusus untuk hari itu. Saya bingung pada awalnya harus menulis untuk siapa. Saya kan tidak kenal, kecuali dua akun: @sunoesche dan @dausgonia. Ya, sudahlah, daripada susah-susah mikir, saya tulis saja untuk @dausgonia (tukang pos saya). Silakan diintip di link berikut:

Yang keempat surat hari ke-19 berjudul Mampirlah Lagi Nanti. Surat ini saya bingkiskan untuk hujan. Sebuah kelegaan yang teramat karena hujan telah turun dan membawa debu-debu vulkanik Kelud dari atas pepohonan. Silakan diintip di link berikut:

Yang kelima surat hari ke-23 berjudul Salam dari Indonesia. Surat ini saya bingkiskan untuk mbak Susi Melina, kakak angkatan saya yang sedang menjalani student exchange program doktoral di Berlin, Jerman. Ah, kangen berat saya seolah terobati kala mbak Susi mengirim sebuah foto. Apa itu? Langit senja musim dingin di Berlin! Sukaaa! 😀

langit musim dingin Berlin

O ya, untuk surat silakan diintip di link berikut:

Yang keenam, sekaligus terakhir … surat hari ke-25 berjudul Gegara Emoticon. Surat ini saya bingkiskan untuk @rarabidja. Memang hari ke-25 adalah hari bertema. Hari itu setiap peserta diwajibkan menulis surat untuk peserta lain. Nah, karena saya hampir tidak pernah blogwalking ke blog peserta 😛 , kecuali satu peserta (ya @rarabidja itu); maka daripada susah, mending saya buat surat untuk dia. :mrgreen: Yang lebih menyenangkan, surat tersebut terpilih untuk tayang di Pos Cinta! Ah, senangnya!

Sebagai balasan, Rara mengirimkan sebuah surat untuk saya. Hei, saya mendapat tambahan saudara lagi dari Makassar. Alhamdulillah. 🙂

Overall, itulah pengalaman saya mengikuti #30HariMenulisSuratCinta 2014. Kalau dihitung, 6 dari 30 surat artinya 20%. Sebesar itulah proporsi tulisan saya yang nyantol di Pos Cinta. Lumayanlah, cukup membuat saya lebih konsisten menulis. Meski tidak semuanya bergaya puitis seperti saat menjabani tantangan #30HariNonStopNgeblog tahun lalu, saya puas bisa melampaui event ini tanpa bolong seharipun. Alhamdulillah. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *