Bicara Kerja dan Persiapan Pensiun, yuk!

Seberapa lama manusia kuat bekerja mencari nafkah?

Hmm, kalau pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya; jawaban saya adalah selama saya mampu dan mau, saya akan tetap bekerja. Kata hati memang seperti itu; tetapi bagaimanapun sebagai manusia biasa, saya harus menyadari batas kekuatan tubuh. Suatu ketika saya akan sampai di titik pemberhentian karena berbagai faktor.

Saya sendiri mulai mengenal dunia kerja sejak berusia 19 tahun. Kala itu saya duduk di bangku kuliah semester ketiga. Sejak dua tahun sebelumnya, saya memang berkeinginan untuk kuliah sambil bekerja. Beruntung rasanya saat medio 2003 saya direkrut sebagai tutor privat oleh dua lembaga bimbingan belajar. Nominal honor yang saya terima kala itu tidak bisa dibilang banyak, tetapi ahamdulillah … setidaknya cukup untuk menutup biaya harian, seperti uang transport dan uang saku.

Sejak memutuskan bekerja, saya mengharuskan diri untuk lebih cermat membagi waktu. Kapan harus kuliah, praktikum, berorganisasi, bekerja, dan menekuni hobi; semua harus disesuaikan dan tidak boleh ada yang tumpang tindih. Ya, begitulah, semua dimulai dari nol. Perlahan tapi pasti, saya belajar cara bekerja profesional. Meski kerja sambilan, lumayan membuat saya mengerti bahwa bekerja itu tidak semudah yang sebelumnya saya bayangkan. Awalnya sulit, tetapi pelan-pelan saya terbiasa juga.

Nah, setelah mengerti bahwa bekerja itu gampang-gampang susah; saya tentu tidak bisa memungkiri bahwa apa yang saya dapat sekarang bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan masa kini. Saya juga harus berpikir tentang masa depan. Masih ada beberapa impian yang belum terlaksana; satu di antaranya adalah hidup sehat-sejahtera di masa pensiun.

Pensiun? Usia saat ini 30 tahun, tidakkah terlalu dini membicarakan masa pensiun?

Tidak. Menurut saya, sama sekali tidak. Pensiun itu sejalan dengan usia, tidak ada yang bisa menolak menjadi tua. Iya, kan? Siapa pun, dengan jenis profesi apa pun, di jenjang karier seperti apa pun; akan mencapai masa pensiun. Mau tak mau, suka tak suka. Justru karena saya masih memiliki 25 tahun lagi (dilihat dari batas usia pensiun pekerja pada umumnya), saya bisa mempersiapkan pensiun dengan lebih cermat dan santai. Ibarat kata seorang atlet lari, saya tentu tidak mampu menempuh jarak 25 tahun dengan cara sprint (lari cepat). Jantung dan paru-paru saya bisa jebol dibuatnya. Jadi, saya memilih untuk ber-marathon.

Mengapa demikian?

Mempersiapkan pensiun bukan hal sepele, apalagi jika dikaitkan dengan keterbatasan pendapatan. Beberapa teman sejawat pernah mengeluh soal penghasilan mereka yang kecil. Alih-alih cukup untuk hidup, menabung saja tidak bisa, yang ada utang menumpuk. Sedih kalau ada yang curhat (lagi) kepada saya dengan nada serupa. *mengelus dada* Padahal kalau mereka tahu caranya, hidup sehat-sejahtera di masa pensiun bukan soal nominal pendapatan saat ini. Ini lebih tentang seni mengatur dan mengendalikan diri.

Jadi, apa yang sejauh ini telah saya lakukan demi ber-marathon menjelang masa pensiun nanti?

Ada beberapa hal yang telah dan sedang saya siapkan, di antaranya:

1. Diversifikasi penghasilan

Saya memilih untuk tidak mengandalkan penghasilan dari satu pintu. Pada jam kantor, saya adalah seorang redaktur pelaksana di sebuah redaksi jurnal ilmiah. Selepas jam kantor, saya adalah seorang tutor privat siswa usia SD—SMP. Waktu luang saya gunakan untuk menekuni hobi yang berpotensi menghasilkan: membaca, menulis, dan blogging.

2. Hidup dengan separuh penghasilan

Hidup saya bukan saja untuk hari ini. Demikian pula dengan penghasilan yang saya peroleh. Setelah diambil zakat 2,5%; 50% dari total penghasilan asal redaksi saya gunakan untuk biaya hidup. Khusus untuk penghasilan asal privat, selain diambil untuk zakat dan biaya hidup, saya sisihkan lagi 10% untuk pengembangan sanggar belajar, sebuah impian lain di masa depan.

3. Menabung dan berinvestasi

Setelah melalui pemotongan (seperti yang saya sebut di poin 2), per bulannya sisa penghasilan saya akan masuk ke rekening tabungan. Dari tabungan induk tersebut, sebagian saya biarkan mengendap sementara; sebagian uang secara autodebet mengalir ke dua buah tabungan impian yang berjangka waktu satu tahun; sebagian lagi secara berkala saya transfer ke rekening autoinvest reksadana saham syariah. Kedua tabungan impian di atas saya gunakan untuk membayar premi asuransi kesehatan-jiwa dan persiapan dana darurat. Sementara itu, rekening reksadana saya gunakan sebagai dana pensiun.

Green-walls-energy-savings_002credit

Mengapa harus berinvestasi untuk dana pensiun? Karena menabung saja tidak cukup. Kita semua pasti ingat dengan kenaikan harga, atau istilah kerennya inflasi. Tahun 2013 lalu, menurut catatan Badan Pusat Statistik, Indonesia mengalami inflasi 8,38%. Itu artinya, terjadi kenaikan harga sebesar Rp83,80. Itu saja hanya berselisih waktu satu tahun. Bagaimana dengan 25 tahun yang akan datang? Yang jelas, mengandalkan tabungan saja tidak cukup. Untuk mempersiapkan dana pensiun diperlukan instrumen investasi yang memiliki imbal balik rata-rata di atas laju inflasi.

Selain dengan cara berinvestasi reksadana saham, dana pensiun dapat juga disiapkan dengan program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Beberapa bank membuka progam ini. Saya tidak akan menyebutkan di sini, silakan Googling saja kalau ada di antara Sahabat yang tertarik. 😉

O ya, penting untuk mencermati di instrumen mana DPLK akan ditempatkan. Masing-masing lembaga keuangan memiliki kebijakan tersendiri, tapi kebanyakan DPLK ditempatkan di instrumen yang konservatif dengan imbal balik sedikit di atas deposito, seperti misalnya reksadana pasar uang. Coba deh baca tulisan Bang Aidil Akbar soal dana pensiun dan DPLK.

4. Menjaga kesehatan dan menikmati hidup

Kesehatan adalah aset tak ternilai. Selama kondisi saya sehat, saya bisa bekerja dengan optimal. Menjaga kesehatan bagi saya sama pentingnya dengan memposisikan pikiran tetap seimbang. Seringkali beban pekerjaan memicu stress. Kalau kondisi pikiran sudah lelah, meski tubuh fit, tetap saja saya merasa tak sehat. Oleh karena itu, saya mulai tekun berlatih gerakan-gerakan hatha yoga, salah satu cabang yoga yang berfokus pada latihan membangun kekuatan fisik dan mental.

gentlehatha2_yogadownloadcredit

***

Berurusan dengan uang memang hal sensitif, tapi bukan berarti dengan pendapatan terbatas kita tak bisa melakoni marathon menuju masa pensiun. Mempertahankan kondisi tubuh juga sama pentingnya dengan persiapan dana karena tujuan pensiun dalam kondisi sejahtera sejatinya takkan lengkap tanpa kondisi tubuh yang sehat, iya, kan? Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat dan … yuuk, mempersiapkan pensiun sejak dini! 😉

0 thoughts on “Bicara Kerja dan Persiapan Pensiun, yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *