Dearest Bapak
di sebuah tempat terdamai
Salam takzim dariku, putri sulungmu. Bapak, apa kabar di sana? Kuharap Bapak baik-baik saja. Damai ber-apa-saja sepanjang rehat panjangmu; menikmati hari libur seperti juga aku, hari ini. Tak biasanya memang. Biasanya aku sudah berkejaran dengan jadwal anak-anak bimbingan privat. Kadang, aku heran, Pak. Mengapa masih saja ada anak yang merindukan putrimu ini untuk datang di akhir pekan? Padahal mereka bisa saja bersantai dan membatalkan jadwal dengan alasan menyenangkan semacam pergi berenang, dolan ke rumah paman, atau hiking. Aku akan sangat senang, karena itu berarti aku bisa sejenak mengatur ritme hidup yang seringkali denyutnya membikinku terburu-buru.
Hari ini berbeda, Pak. Ya, tentu. Minggu ini adalah klimaks dari ujian kenaikan kelas. Oleh karenanya, aku bisa lebih santai mengerjakan PR-ku yang masih menumpuk. Di dalam kamar biruku, buku-buku materi ajar dan buku pribadiku perlu dirapikan. Kalau saja Bapak masih di sini, pasti Bapak juga akan bereaksi serupa dengan Ibu, tak pernah suka melihat kamarku berantakan. Ah, ya, aku hanya belum sempat semenjak jadwal kerja disambung dengan privat 7 hari seminggu. Pfiuh … semester ini memang melelahkan, tapi tak berhasil membuatku patah semangat. … dan, yang lebih penting, Sabtu kemarin aku sudah mulai merapikan kamar, sesuai janjiku pada diri sendiri.
Mungkin sifat keras kepalaku yang membuatku bertahan, Pak. Atau, entah, sepertinya didikanmu selama 16 tahun berhasil. Putri sulungmu ini mewarisi kegigihanmu. Aku patut bersyukur kepada Gusti Allah SWT untuk semua itu, juga kepadamu, my beloved Dad. Terima kasih.
Soal lelah itu, aku ingat, Bapak selalu menunjukkan bahwa yang terpenting dari bekerja adalah menjalaninya dengan sukacita, maka lelah di badan takkan pernah mengganggu. Sekarang aku benar-benar merasakannya, sangat menikmatinya malah. Sampai-sampai kadang rumah seperti halte, jika aku ini serupa bus. Ah, betapa kasihannya Ibu, Pak. Kebun dan halaman jadi sahabat terbaik untuk Ibu, jika aku, Ning, dan Di sedang tak berada di rumah. Tapi, usahlah merisaukan kami. Kami semua baik selama hampir 14 tahun kepergianmu; kami saling menjaga, saling menopang.
O ya, Pak, sesekali kusodorkan kepada Ibu buku-buku sekadar pengusir sunyi. Setelah tiga tahun lalu dokter menyatakan Ibu menderita arthritis di sendi lutut kanan, Ibu sudah makin paham. Tak lagi memaksakan diri melakukan aktivitas yang berat-berat di kebun. Ibu makin betah duduk membaca, apa saja. Sejak itu, semangat membaca Ibu jelas terlihat, apalagi kalau ada paket buku untukku, Ibu akan sangat penasaran dan berharap bisa segera ikut membaca.
Ya, membaca. Aku pun patut bersyukur untuk kebiasaan baik yang Bapak kenalkan kepadaku ini, dulu sekali. Aku masih menggemarinya hingga saat ini. Sekali lagi, terima kasih, Pak. Kalau saja Bapak tak mengajakku serta ke Toko Buku Social Agency Gejayan kala itu; entah, bisa jadi sekarang aku takkan senyaman ini duduk menulis.
Membaca membuatku menikmati dunia. Tak peduli meski aku belum pernah sekali pun menikmati seperti apa rasanya naik pesawat terbang, padahal Bapak bekerja di bandara. Tak peduli meski aku belum pernah sekali pun pergi ke luar negeri. Aku masih tetap bisa menengok seperti apa kisah atap dunia di Himalaya; kisah relawan kereta medis di daratan terpencil Siberia; kisah mekarnya bunga-bunga sakura di Jepang, atau tulip di Eropa; serta kisah pilu saudara kita karena kekeringan, busung lapar, dan virus Ebola di Afrika.
Membaca pula yang membuatku selalu ingin membagi, menuliskan, mengabadikannya dalam sebentuk karya. Suatu hari nanti, aku sungguh berharap bisa menelurkan buku yang bermanfaat bagi sesamaku, Pak. Atau setidaknya membagi kisah tentangmu supaya para ayah di luar sana makin sadar pentingnya membaca dan mengajak anak-anak mereka untuk membaca sedini mungkin. Ah, betapa aku ingin mereka memiliki ayah seperti Bapakku—yang disiplin, tapi cukup hangat bagi anak-anaknya.
Pak, sungguh, tiada yang harus kusesali dari kepergianmu untuk selamanya 6 Juli 2000 silam. Ini adalah sebenar-benar skenario besar Gusti Allah SWT, dan adalah benar bahwa kita yang ditunjuk untuk melakoninya.
Aku banyak merenung selepas Bapak pergi. Aku belajar banyak tentang kehilangan, tentang bersabar dan mengikhlaskan. … hingga suatu ketika aku mengamini nasihat seorang karib,
“His soul and spirit will be with you, always. Boleh teringat dan beranjak berdoa. Jangan lagi bersedih…”
Tentu, Pak. Aku takkan bersedih lagi. Takkan kubawa kesedihan dalam butir-butir airmata ketika mengingatmu dalam doaku. Damailah engkau di sana, Pak, di keabadian yang niscaya bagi tiap makhluk-Nya. Happy Father’s Day, Dad.
Salam rindu dari putri sulungmu,
Phie

Terharu.
semoga ayah mbak phie dan keluarga selalu diberikan kesehatan, kesabaran, kekuatan.
Aamiin ya Rabb. Matur nuwun doanya, Om.
sama2 mbak phie,
insyaalah saya akan ke jogja bulan ini mbak, nganter siswa studi wisata.
Alfatihah untuk bapak ya Phie
Terima kasih, Mbak 🙂
Suratnya mengaduk-aduk hatiku mak…aku juga rindu almarhum bapakku
*puk puk puk* semoga alm. Bapak kita selalu dalam rengkuhan Gusti Allah SWT, ya Mak. Aamiin.