Warna-warni Bulan Juli

Juli. Tiap kali bulan ini tiba, rasa hati saya benar-benar penuh. Bulan ini adalah bulan kelahiran Ibu dan Bapak (alm.). Kata mereka, Ibu saya Cancer dan Bapak adalah Leo. Cukup tahu saja. Juli juga identik dengan kewajiban melunasi pajak motor. Ya, tanggal jatuh tempo di STNK Ezy adalah 4 Juli. Artinya maksimal di tanggal itu saya harus melunasi kewajiban pajak, entah itu pajak tahunan ataupun pajak lima tahunan (ganti plat dan STNK). Terlambat satu hari saja, nominal pajak akan berubah karena ada denda dihitung per hari.

Btw, tak terasa tahun ini adalah tahun ke-17 dari kelahiran Ezy. Saya baru ngeh saat kemarin tanggal 3 Juli melunasi pajaknya di kantor samsat Sleman. Seperti biasanya, sejak Ezy dimutasikan dari catatan pajak Jakarta tahun 2003 silam, ia sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya. Ke manapun saya pergi, hampir selalu ada Ezy. Ada banyak kisah: susah, senang, konyol, yang kami jalani selama 17 tahun ini. Happy belated birthday, Ezy. ๐Ÿ™‚

Ezy
Ezy

Tiga tahun pertama (1997โ€”2000) kehadiran Ezy di Jogja, kisah itu tersempurnakan oleh Bapak. Ezy adalah pemberian Paklik Hari untuk kami dan Bapak-lah yang menggunakan Ezy untuk transport ke/dari kantor. Kala itu saya masih duduk di bangku SMP, belum punya SIM. Bapak-Ibu belum mengizinkan saya mengendarai motor di jalan raya. Latihan mengendara boleh, tapi cukup dengan motor kami yang lain: Honda Astrea 800.

Pada Juli 1999, saya mulai bisa berkisah lebih banyak soal Ezy. Kala itu Bapaklah yang menjadi โ€˜tukang ojekโ€™ setia buat putri sulungnya ini. Kala itu saya berhasil diterima di sebuah SMA negeri di kota Jogja. Kami berangkat pk. 06.00 karena jarak rumah-sekolah-kantor Bapak cukup jauh. Rumah di Jl. Kaliurang km 12,5 (Sleman); sekolah di Jl. Sagan 1(kota Jogja); kantor Bapak di Jl. Gedongkuning (Banguntapan, Bantul).

Seminggu pertama membonceng beliau tanpa jaket, bisa dibayangkan apa yang terjadi? Saya masuk angin! *duuh! Lalu, kisah kami pun tambah berwarna dengan kehadiran si sweater cokelat dan minyak kayu putih. Iya, solusi kedua yang ditawarkan Ibu tersebut menjadi bagian saya sampai sekarang. Saya tak bisa lepas dari minyak kayu putih! Psst, sudah tak terhitung berapa kali saya dibilang bayi gede gegara masih saja memakai minyak kayu putih sehabis mandi. Lha, biar saja, daripada saya masuk angin? ๐Ÿ˜›

Selain kisah soal masuk angin, sweater, dan minyak kayu putih; saya juga punya kenangan tak begitu baik soal kamus Bahasa Inggris. Waktu itu perjalanan kami berdua sudah sampai di boulevard UGM. Eh, tanpa sadar kamus yang saya pegang jatuh. Bapak terpaksa menepikan motor dan berhenti. Sementara saya berlari berniat mengambil si kamus yang jatuh tadi. Tahukah, beberapa meter di hadapan saya melintas sebuah mobil. Yang bikin sedih, kamus saya dilindas begitu saja. Padahal kamus itu baru, belum ada seminggu dibelikan oleh Bapak. Ah, sedihnya …. ๐Ÿ˜ฅ

Masih banyak kenangan yang demikian membekas tentang Bapak. Sayangnya, hanya setahun beliau menjadi โ€˜tukang ojekโ€™ andalan saya. Diabetes melitus yang beliau sandang sejak 1994 menjalar hingga ke liver. Ya, Gusti Allah punya jalan terbaik bagi Bapak. Sudahlah, daripada beliau tersiksa dengan semua itu, tak ada pilihan lain bagi kami, selain mengikhlaskan kepergian beliau untuk selamanya pada 6 Juli 2000. Lagi-lagi di bulan Juli.

Semenjak itu, Ezy diamanahkan kepada saya. Kata Ibu, saya harus bisa tanpa Bapak: tangguh dan mandiri. Harus bisa menyelesaikan sekolah di SMA yang tinggal 2 tahun lagi. Perjuangan memang butuh pengorbanan. Akhirnya, bisa sampai sekarang malah Ezy jadi bagian yang tidak bisa lepas dari hidup saya. Sudah semacam soulmate mungkin hehehe.

โ€œAneh, soulmate kok motor. Mbok ya, manusia, cowok gitu.โ€

Mungkin itu yang tiap kali terlintas di benak Ibu saat saya pamit ke bengkel untuk cek dan servis Ezy, hehehe. Ya, apa boleh buat, saya belum bertemu dengan soulmate sebenarnya.

Maunya sih pendaki, biar saya diajak trekking. Sebenarnya ada alasan khusus, para pendaki adalah orang-orang yang tabah, tangguh, punya visi ke depan, dan daya survive-nya tinggi.

Maunya sih petualang, biar saya diajak berkeliling dan belajar hal-hal baru. Kehidupan yang full rutinitas itu membosankan. Jadi, kalau ada hal baru yang bisa dipelajari, life will never flat.

Maunya sih yang nyambung diajak ngobrol, biar kalau nanti saya sudah tak cantik lagi kami masih bisa bertahan karena eratnya persahabatan.

Itu sederhana, kan? Seperti saya dan Ezy. Hahaha, lagi-lagi. ๐Ÿ˜›

Well, Juli sampai kapanpun akan tetap berwarna-warni, setidaknya di hati seorang Phie. ๐Ÿ˜‰

0 thoughts on “Warna-warni Bulan Juli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *