Kisah Dapur Yu Pulen: Tantangan Bikin Mandai

Mandai? Sekali mendengar kata ‘mandai’, pikiran ngaco saya tertuju ke: Mandai, Tuesdai, Wednesdai … hahaha, ya ampun! 😆

Jadi, apa sih sebenarnya ‘mandai’ itu? Mandai adalah nama menu makanan khas Kalimantan Selatan; makanya, wajar kalau saya yang orang Jawa merasa asing, lalu mulai lebay ngaco. *membela diri 😛 *

Pertama kalinya saya tahu mandai dari seorang sahabat jaman kuliah dulu. Namanya Ale. Iya, akhir pekan lalu ia bertandang ke rumah bersama Maylia dan Adhyatma. Katanya, mumpung sedang di Jogja mainlah dia ke rumah. Sembari kami ngobrol ngalor-ngidul, bernostalgila … terseliplah sebuah cerita unik antara orang Banjar, buah cempedak, dan mandai. Yang jelas, ini bukan karena ada kisah cinta segitiga. *eh 😛 Ini karena mereka membawa kulit cempedak bersama mereka. Beneran, ini kurang kerjaan namanya. Ckckckck…

Ok, menyarikan kisah Ale, mandai dibuat dari kulit cempedak dan (katanya) ketertarikan orang Banjar terhadap kulit cempedak lebih tinggi dibanding buahnya sendiri. Lho, bukannya buah cempedak itu jauh lebih enak daripada kulitnya? Kenapa yang dicari justru kulit cempedak? Aneh, kan? ❓ 

Rupanya, orang Banjar punya kebiasaan membuat olahan kulit cempedak, yang kemudian disebutlah dengan nama ‘mandai’ itu tadi. Cara bikinnya pun sangat sederhana. Saking sederhananya, mereka sampai meminta saya untuk mencoba membuat mandai. Woooh, how dare you are, Guys! 👿 *ngacungin talenan*

and then, bolehlah dibilang ini sebuah tantangan; bisa juga salah satu efek samping bersahabat dengan orang Banjar. 😆 Okay, dengan ini saya terima tantangan bikin mandai! :mrgreen:

***

Sebelum memulai, sebagai newbie (lagi-lagi), saya membutuhkan tutorial membuat mandai. Browsing sana-sini dan akhirnya saya bisa juga membikin mandai. Penasaran bagaimana caranya? Yuk, ikut saya ke dapur Yu Pulen! 😉

Bahan dan alat yang diperlukan adalah air (untuk mencuci kulit cempedak), air hangat, garam secukupnya, pisau, dan stoples bersih.

Cara membuat:

  1. Kupas bagian luar kulit cempedak yang berwarna hijau, potong selebar tiga/empat ruas jari, lalu cuci bersih. Tiriskan.
  2. Masukkan potongan kulit cempedak ke dalam stoples bersih.
  3. Taburi garam secukupnya.
  4. Tuangkan air hangat ke dalam stoples. Pastikan keseluruhan kulit cempedak terendam.
  5. Diamkan dalam stoples tertutup.
cara membuat mandai
cara membuat mandai

Mudah sekali, kan? 😉

Kata Ale, mandai bisa awet hingga setahun/dua tahun, lho. Pastinya karena efek garam sebagai pengawet alami. Nanti kalau mau diolah, tinggal ambil secukupnya dan cuci bersih. Bisa digoreng, bisa dibuat sayur mandai, dsb. Hmm, jadi gak sabar menunggu hasilnya. Seperti apa, ya, rasa mandai? Katanya sih enak, di lidah orang Banjar.. hahaha. Well, let’s see … apa rasanya juga akan nyantol di lidah orang Jawa seperti saya? Akhir pekan ini, saya akan tahu. 😉

Adakah di antara Sahabat yang pernah mencoba bikin mandai atau mencicipi olahan mandai? Boleh dong saya dibagi kisahnya. 😀

0 thoughts on “Kisah Dapur Yu Pulen: Tantangan Bikin Mandai

  1. Mandai ini enak banget, anak kalimantan kalo merantau pas pulang lagi ke kalimantan makanan yang paling di cari dulu pasti mandai, rasanya mengalahkan daging ayam dan daging sapi. ini nggak cuma di Banjar aja. Di Samarinda, Kutai, daerah Kaltim yang lain juga ada, kalo ada yang mau nyicipin ntar kalo pulkam dibawain. hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *