Di Sebalik Hangatnya Rumah dan Keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Seperti halnya yang tersurat dalam penggalan lirik lagu Keluarga Cemara di atas, rumah dan keluarga juga menjadi hal yang penting di Sleman. Konon, untuk membangun sebuah rumah, harus dimulai dari melihat jenis tanah. Ada setidaknya 14 jenis tanah baik dan 9 lainnya yang dinilai kurang baik untuk ditinggali. Mengapa ada sekian banyak jenisnya? Karena menurut ilmu titen leluhur, jenis tanah yang akan dibangun rumah di atasnya juga dapat memberi pengaruh terhadap kelangsungan hidup keluarga yang tinggal di rumah tersebut.

Setelah memilih tanah, si empu yang bermaksud membangun rumah atau bangunan diperbolehkan membuat sumur. Jadi, sumur lebih dulu dibuat sebelum bangunan rumah berdiri. Begitu sumur selesai, barulah memasang pondasi bangunan.

Untuk memulai memasang pondasi, ada ritual yang biasanya dilakukan sebagai syarat. Semacam uluk salam dan permintaan izin kepada badan alus yang sebelumnya telah tinggal lebih dulu di tanah tersebut. Mengapa begitu? Karena berlaku kepercayaan bahwa tiap tempat ada makhluk tak kasat mata yang menghuni. Jadi, sudah selayaknya si empu calon rumah melakukan kula nuwun sebelum membangun kediamannya. Dalam prosesi memulai pasang pondasi ini, seorang Pak Kaum dipercaya memimpin doa sekaligus meletakkan batu pertama.

prosesi pasang pondasi
prosesi pasang pondasi

Mengapa membangun rumah saja sebegitu njimet-nya, ya? Entah, tetapi menurut saya pribadi, inti dari upacara doa tersebut tidak menyimpang dari norma agama. Upaya tersebut semacam laku pasrah kepada Yang Maha Esa, berikut permohonan agar kelak rumah yang dibangun (tentunya, termasuk juga keluarga yang berdiam di dalamnya), senantiasa mendapat keberkahan, keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan. Setelah rumah selesai dibangun, biasanya akan ada lagi selamatan sebagai wujud syukur. Bisa berupa pengajian dan kenduri.

Lalu, seperti apa warga Sleman memandang penting sebuah keluarga?

Salah satu contoh, saya ambilkan dari keluarga besar kami: Tedjodisastro. Saban tahunnya kami berusaha untuk bisa berkumpul untuk nyekar leluhur. Fyi, nyekar diambil dari kata sekar (= bunga, Jawa). Menabur bunga adalah salah satu ritual yang dilakukan. Biasanya nyekar secara besar-besaran dilakukan pada bulan Sya’ban (Ruwah), berbarengan dengan aktivitas nyadran.

nyekar keluarga Tedjodisastro

Bukan hanya ritual semata, bagi keluarga besar kami, bulan Ruwah juga menjadi bulan berkumpul bagi keluarga. Maklumlah, ongkos mudik jelang Idul Fitri pastinya jauh lebih mahal ketimbang bulan lain. Itulah sebabnya, bulan Ruwah digunakan sebagai alternatif waktu pulang kampung.

Moment kumpul keluarga seperti ini tentunya akan menjadi tali pengerat kekerabatan. Hal ini tentu saja sesuai falsafah Jawa, menempatkan kekerabatan dan silaturahmi sebagai harta tak ternilai, sebagaimana termaktub dalam bahasa kias, ”Mangan ora mangan kumpul”.

0 thoughts on “Di Sebalik Hangatnya Rumah dan Keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *