Oleh-Oleh #NgabuburitASIk: ASI dalam Perspektif Islam dan Medis (bagian 1)

Meski postingan ini boleh dibilang late post (karena acara sudah berlalu sekira empat bulan lalu), tetapi ilmunya, saya pikir, tidak akan basi. Yang jelas, mengisi waktu jelang buka puasa dengan tambahan ilmu bagi seorang emak wannabe seperti saya adalah keberuntungan tersendiri. Alhamdulillah. 😀

sebelum acara talkshow AIMI dibuka
sebelum acara talkshow AIMI dibuka

Jadi, apa oleh-oleh #NgabuburitASIk yang mengambil topik “ASI dalam Perspektif Islam dan Medis” persembahan AIMI Jogja? Berikut ini saya rangkumkan materi acara yang diselenggarakan di Auditorim RS Jogja International Hospital, 28 Juni 2015 lalu. Keep reading, ya! 😉

***

Auditorium RS JIH telah ramai saat kami masuk. Sore itu saya datang berdua dengan Ning, adik saya. Tak lama setelah kami datang acara talkshow pun dimulai. Ketiga pemateri yang mengisi cara yaitu Hj. Eny Harjianti (konsultan keluarga), dr. Riska Novriana, dan Francisca Maria (Bun Cis) dari AIMI Jogja.

talkshow AIMI Jogja
ketiga pemateri talkshow #NgabuburitASIk AIMI Jogja (dari kanan ke kiri: Bunda Cisca, Hj. Eny, MC, dan dr. Riska)

Sesi pertama diawali oleh Hj. Eny Harjianti. Beliau membuka topik ‘ASI dalam Perspektif Islam’ dengan dalil yang melandasi pemberian ASI: surat Al Baqarah ayat 233.

Al Baqarah ayat 233
credit

Berdasar dalil tersebut, beliau menyatakan bahwa para ibu hendaknya menyusui anaknya selama dua tahun. Hal ini merupakan bentuk imbauan Dzat Yang Menciptakan, maka jika tidak dilakukan bisa dibilang manusia juga yang rugi. Beliau juga menambahkan bahwa menyusui merupakan kewajiban moralitas ibu terhadap anak. Jika ibu mampu menyusui, tetapi tidak melaksanakan, maka dapat dikatakan si ibu berbuat zalim terhadap anaknya.

Ayat tersebut tidak hanya berfokus terhadap ibu, tetapi juga si ayah dari bayi sebagai pemberi nafkah. Sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan proses menyusui adalah sepenuhnya tanggung jawab kedua orangtua dari si bayi dan tidak bisa dibebankan hanya kepada si ibu.

Jika ibu tidak mampu menyusui bayinya, sebaiknya diganti dengan ibu susu. Hal ini telah diteladankan pula pada zaman Rasulullah SAW. Setelah Siti Aminah (ibunda Rasulullah SAW) meninggal, beliau disusukan kepada ibu susu; salah satunya Halimatussa’diyah.

Hj. Eny juga menekankan bahwa memberi ASI adalah jalur penanaman pendidikan akidah, sehingga  ada aturan khusus terkait pemilihan ibu susu. Apa itu? Dilarang untuk menyusukan bayi seorang muslim kepada wanita Nasrani, Yahudi, dan pezina.

Sesi kedua dengan topik ‘ASI dalam Perspektif Medis’ disampaikan oleh dr. Riska Novriana. Dokter sekaligus konselor ASI ini menyampaikan beberapa alasan mengapa ASI dan menyusui itu PENTING.

#NgabuburitASIk AIMI Jogja
dr. Riska in action

Setidaknya ada beberapa alasan medis mengapa ASI penting bagi anak, di antaranya:

  1. ASI mengandung zat gizi lengkap
  2. ASI mudah dicerna dan diserap secara efisien (secara genetik pas dengan anak)
  3. ASI melindungi terhadap infeksi. Sebagai contoh, jika si ibu sakit flu, akan dibentuk antibodi sehingga antibodi tersebut masuk ke tubuh bayi yang disusui.

Menyusui penting karena:

  1. membantu bonding dan perkembangan anak
  2. membantu menunda kehamilan baru
  3. melindungi kesehatan ibu
  4. biaya lebih rendah dibanding bila mengonsumsi susu formula

ASI memiliki laktosa tinggi, protein rendah; digunakan untuk pembentukan sel-sel baru, 35% kasein ASI lebih mudah dicerna daripada kasein susu formula. Kasein susu formula lebih sulit dicerna (butuh sekitar 14 hari untuk keluar dari proses pencernaan). Selain itu, ASI tinggi vitamin C dan zat besi.

dr. Riska juga menyampaikan tentang komposisi ASI berdasar tahapan, anatomi payudara, dan hormon penting pada saat menyusui.

Komposisi ASI berdasar tahapan yaitu:

  1. Susu awal/kolostrum berwarna kekuning-kuningan dan kental.
  2. ASI bening: usia 2 minggu, tinggi protein
  3. ASI pekat: lebih dari 2 minggu, tinggi lemak

Sementara itu, ASI jika dikaitkan dengan anatomi payudara ternyata tidak ada beda signifikan. Menurut paparan dr. Riska, payudara kecil atau besar, yang membedakan hanya jaringan lemaknya, sementara sel-sel penghasil ASI-nya sama banyak.

Untuk hormon yang penting saat menyusui, ada dua yang terpenting yaitu prolaktin dan oksitosin.

Prolaktin merupakan hormon yang gampang diperintah untuk memproduksi ASI. Hormon ini diproduksi pada malam hari. Sementara, oksitosin merupakan hormon yang sangat terpengaruh emosi. Fungsinya membuka pintu “gudang susu”. Itulah mengapa sangat penting untuk menjaga emosi ibu menyusui agar stabil, sehingga dapat menyusui bayinya dengan lancar.

Materi terakhir dari dr. Riska adalah mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD terkait dengan keberhasilan menyusu. Selain itu, juga terbukti mengurangi kematian/mortalitas bayi s.d. 22%.

Namun demikian, di lapangan masih terdapat kasus-kasus gagal IMD. Hal ini dapat terjadi karena lubang hidung bayi tertutup payudara ibu, atau bayi tergelincir saat merayap ke puting payudara ibu. Inilah mengapa selama proses IMD, si ibu harus ditemani, oleh suami atau keluarga terdekat.

Hal yang paling makjleb, disampaikan di akhir materi dr. Riska, bahwa gagal menyusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama bayi, 99% terjadi karena kurangnya pengetahuan dan kurang istiqomah.

Nah nah nah, menyusui memang butuh effort yang besar. Itu sebabnya saya butuh banyak belajar sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. 😀

(bersambung)

Catatan: sesi ketiga dan diskusi menyusul, ya. 😉

5 thoughts on “Oleh-Oleh #NgabuburitASIk: ASI dalam Perspektif Islam dan Medis (bagian 1)

  1. Baru tahu kalau seorang ibu seharusnya menyusui bayinya sampai 2 tahun. thanks ya.

    Jadi yang gagal IMD itu hampir semuanya karena kurang pengetahuan dan istiqomah, duhh

  2. bener banget mba..setuju dengan asi nomor 1 untuk anak-anak alhamdulillah 2 putra saya asi semua walau yang pertama campur dengan formula karena ibunya mengajar..tapi tetap tidak putus sampe punya adik lagi ^^ makasih sharenya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *