Membaca Sherlock Holmes
Baru-baru ini saya memulai kembali petualangan membaca novel detektif asal Inggris, Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Saya menikmati segala hal berbau Sherlock Holmes awalnya justru dari film, baru kemudian membaca versi novelnya (online). Benar, terbalik; tetapi begitulah yang terjadi. Entah. Yang pasti, saya perlu berterima kasih diberi “kesempatan” untuk lepas dari ponsel android hampir sebulan terakhir dan kembali menggunakan ponsel jadul (yang meski bukan android, Alhamdulillah-nya telah berteknologi internet Edge).
Nama situs ini Sherlock Holmes (Beta). Sudah berupa terjemahan dalam bahasa Indonesia, jadi tidak akan terlalu sulit untuk memahami cerita. Saya membaca juga versi asli dalam bahasa Inggris (dari situs lain), tetapi karena banyak istilah yang agak memusingkan; saya tinggal sejenak untuk menikmati versi terjemahannya. Saya perlu have fun, bukan justru menambah stres. 😛

Jadi, novel online ini bisa diakses selagi kita memiliki akses internet? Setidaknya untuk ponsel berteknologi 2G sudah, saya belum membuktikan dengan ponsel berbasis GPRS.
O ya, saya pernah juga mengunduh novel ini dari sebuah aplikasi pustaka Oodles. Hanya karena ponsel android saya masih di bengkel, saya belum sempat menyelesaikannya. Aplikasi ini hanya menyediakan e-book dalam versi aslinya bahasa asing (setahu saya, bahasa Inggris). Sejauh pengalaman saya dengan Oodles, e-book yang telah diunduh bisa dibaca saat ponsel sama sekali tidak terkoneksi internet. Saya sendiri biasanya membaca dalam kondisi ponsel air plane mode on untuk menghemat baterai.
Menonton Sherlock Holmes: Antara Klasik dan Kekinian

Jadi, apa yang terjadi setelah menonton Series 1 (2010), Series 2 (2012), sampai Series 3 (2014) secara berurutan?
Saya akui, saya terpesona dengan kemampuan akting Benedict Cumberbatch—alasan ini juga yang membuat saya mengikuti film lain yang dia bintangi. Saya melihat gaya yang benar-benar berbeda, teknologi terutama … dan itu menjadi sentuhan baru yang menyegarkan. Sherlock klasik menggunakan telegram untuk komunikasi cepat; Sherlock kekinian menggunakan ponsel pintar. dr. Watson klasik menggunakan mesin ketik untuk mengabadikan petualangan bersama partnernya; dr. Watson kekinian menggunakan blog. Era berubah, tetapi inti cerita tidak jauh bergeser dari patron. Salut dengan pendalaman peran dan pengembangan ide cerita di versi kekinian.
Mengalihkan pandang saya ke masa kini, tidak begitu saja membuat saya lupa akan lanjutan kisah petualangan Robert Downey Jr. dan Jude Law. Sherlock Holmes: A Game of Shadows dirilis tahun 2011, tetapi baru bisa saya nikmati beberapa tahun kemudian. *ouch, ketinggalan sekali, but it’s fine hahaha.

Dalam film kedua tersebut, banyak laga yang lebih sering muncul, ada pula perjalanan seru antarkota—antarnegara (Inggris, Perancis, Jerman, Swiss). Meskipun sosok Moriarty (musuh Sherlock Holmes) digambarkan jauh berbeda dengan versi kekinian, saya tetap melihat sisi jahatnya. Kalau boleh saya tambahkan “sangat”, sehingga menjadi “sangat jahat” karena memang dialah otak di balik “permainan” yang disebut di dalam judul film ini.
Moriarty di depan publik dikenal sebagai seorang ilmuwan berwibawa dan cinta damai; tetapi siapa yang tahu bahwa sisi lain hidupnya sangat gelap. Ia memiliki perusahaan senjata di Jerman, menjadi sponsor terorisme dan perang di berbagai belahan dunia, lalu dengan santai menghimpun uang penjualan senjata ke dalam kantong pribadinya. Betapa keji! Pantas saja jika Holmes dkk mati-matian menghentikan kejahatan Moriarty.
Well, seperti film sebelumnya, akhir cerita film kedua ini menjadi penuh tanda tanya (meski awalnya membikin sedih lantaran adegan adu tinju yang berakhir dengan lompatan duet Holmes-Moriaty ke dalam air terjun Reichenbach, Swiss). Saya pikir akan sampai di situ saja petualangan Robert Downey Jr.-Jude Law, sampai saya melihat sesosok pria dalam balutan kostum kamuflase muncul dari sofa. Itu Holmes dengan kostum kembang-kembang menyerupai motif sofa. Ya ampun!  Benar, saya tergelak di akhir cerita, tentu saja masih dengan harapan segera menonton lanjutan film ini. Kapan? Saya sendiri sejauh ini masih terus mencari tahu. Kabarnya 2020, tapi entahlah.
Film Sherlock Holmes dari Masa ke Masa
Banyak sekali ternyata. Berdasar pencarian saya, tahun tertua 1921 dan yang terbaru mungkin baru Series 4 BBC Sherlock, ya. Kalau ada yang ingin menambahkan, silakan lhoo… nanti akan saya update postingan ini dengan senang hati.
Tahun 1962 Sherlock Holmes and the Deadly Necklace (diperankan oleh Christopher Lee and Thorley Walters)
Spesial – Sherlock Holmes versi animasi:
Sherlock Holmes and the Valley of Fear
Sherlock Holmes and the Sign of Four
Sherlock Holmes in the 22nd Century:
1-1) The Fall and Rise of Sherlock Holmes
1-2) The Crime Machine
1-3) The Hounds of The Baskervilles
1-4) The Adventure of The Empty House
1-5) The Crooked Man
1-6) The Adventure of The Deranged Detective
1-7) The Adventure of the Sussex Vampire Lot
1-8) The Scales of Justice
1-9) The Resident Patient
1-10) The Sign of Four
1-11) The Adventure of the Dancing Men
1-12) The Musgrave Ritual
1-13) The Adventure of the Blue Carbuncle
1-14) Silver Blaze
1-15) The Five Orange Pips
1-16) The Red-Headed League
1-17) The Man with the Twisted Lip
Sherlock Holmes in the 22nd Century:
2-1) The Secret Safe
2-2) The Adventure of the Second Stain
2-3) The Adventure of the Engineer’s Thumnb
2-4) The Gloria Scott
2-5) The Adventure of the Six Napoleons
2-6) The Adventure of the Creeping Man
2-7) The Adventure of the Beryl Board
2-8) The Adventure of the Mazarin Chip
2-9) Century A Case of Identity
Okay, then… Happy watching, Pals. 😉