Menengok Serangga Sahabat Kita

Kalau tempo hari saya sempat iseng melakukan survei tentang kuliner serangga; di tulisan ini saya akan mencoba memberi alasan mengapa saya suka dengan serangga. Serangga, sekali mendengar kata ini boleh jadi pikiran kita akan tertuju pada sekumpulan hewan menakutkan, hidup di tempat-tempat kotor dan bau sehingga kita pun menjadi jijik dibuatnya. Hei, tunggu dulu! Sebelum kita mengamini pendapat itu, ada baiknya kita tengok sejenak foto-foto ini. Lihat lebih dekat, lebih seksama.

beezelovely insect

honeybeebeetle

Sekarang apa pendapat Rekan semua? Cantik bukan? Jadi istilah “serangga” bukan saja mengacu pada serangga-serangga pembawa bibit penyakit. Sebenarnya manusia mendapat banyak manfaat dari kehadiran serangga, hanya saja kurangnya informasi dan keinginan untuk mempelajari kehidupan serangga sejauh ini menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama tentang serangga.

***

Mengapa (Belajar) Serangga?

Pernahkah pertanyaan ini muncul dalam benak kita? Mengapa serangga perlu dipelajari? Tidakkah rumit mengamati makhluk berukuran mungil ini? Sebagian orang berpendapat demikian, akan tetapi populasi serangga serta peranannya yang sangat besar menggugah sebagian orang untuk menjadi pemerhati serangga. Berminat?

Sebelum berkata “ya”, ada baiknya kita simak beberapa hal kecil yang kadang luput dari fokus pikiran kita. Coba kita perhatikan berapa persen hewan yang terlibat dalam proses penyerbukan? Berapa banyak pula semut yang akan mengerubungi cairan gula yang tumpah di lantai selama 15 menit? Lalu, bila musim hujan tiba berapa banyak kumbang ampal dan laron yang terbang menghiasi langit? Itu baru dilihat dari segi besarnya populasi serangga.

Sekarang bila kita kaitkan dengan kepentingan langsung manusia, pangan dan sandang misalnya. Seberapa sering kita mendengar sekian hektar luasan tenaman budidaya gagal panen akibat “ulah” serangga? Wereng coklat, lalat buah, juga berbagai jenis penggerek dan pemakan daun sering kita dengar menjadi penyebabnya.

Sementara itu, di sisi lain kita mengenal lebah penghasil madu, royal jelly, dan propolis; ulat penghasil bahan sutera; serta tabuhan dan kupu-kupu berwarna-warni yang secara tidak langsung berperan membantu manusia menyerbuki bunga tanaman buahan dan sayuran.

Dari segi kesehatan, kita pun acap kali mendengar serangga vektor (baca: pembawa kuman penyakit) semacam nyamuk, lalat, dan kecoa yang keberadaannya sangat penting karena menyebarkan penyakit penting bahkan mematikan bagi manusia maupun ternak. Aedes aegypti dengan demam berdarah dengue-nya, Anopheles sp. dengan malaria-nya; nyamuk Culex sp. penyebar demam kuning chikunguya; lalat tse-tse Glossina sp. pembawa penyebab penyakit tidur (tripanosomiasis) di Afrika, juga kecoa yang sering disebut sebagai vektor penyakit thypus.

Satu lagi, berapa banyak sampah yang sering kita lihat di pasar, menumpuk begitu tinggi? Berapa banyak pula lalat bangkai dan kumbang yang mengerumun disana? Yang terlintas di benak kita bisa saja hanya jijik, kotor, dan bau. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa mereka berperan dalam pembusukan dan penguraian sampah organik di sekitar kita?

Terakhir kalinya, tahukah kita bahwa serangga yang hidup di air dapat digunakan sebagi bioindikator kualitas air? (Itu pernah saya singgung di sebuah acara dan saya abadikan di sini)

Ya, lepas dari baik-buruknya peran serangga menurut sudut pandang dan kepentingan manusia, kiranya akan jauh lebih bijaksana bila kita mengenal lebih dekat dan mulai mempelajari kehidupan serangga, terutama yang ada di sekitar kita. Bukankah setiap makhluk yang diciptakan Tuhan tidak ada satu pun yang tercipta dengan kesia-siaan?

Melimpahnya populasi serangga telah diteliti pula oleh ahlinya. Para entomolog memperkirakan bahwa dari sekian banyak spesies  hewan yang ada, sekitar ¾ bagian adalah serangga. Seorang ahli serangga, G.F. Barrowclough, dalam tulisannya di bab Systematics, Biodiversity, and Conservation Biology dalam buku yang disunting oleh N. Eldredge, Systematics, Ecology, and the Biodiversity Crisis (1992), menyatakan bahwa populasi serangga setidaknya mencapai 55% dari keseluruhan spesies fauna yang telah teridentifikasi. Mereka menghuni hampir setiap ruang dan memiliki peran penting dalam komunitas biotik di bumi. Nah, dengan demikian kita bisa mulai mengamati bahwa terdapat banyak sekali macam serangga yang hidup di sekitar kita, bahkan di tempat-tempat gelap dan tersembunyi sekalipun.

Ya, itu dia sekian alasan mengapa saya akhirnya menetap pada pilihan dan akhirnya mengambil tugas akhir dengan konsentrasi ilmu serangga. Serangga, banyak orang merasa makhluk yang satu ini “APAAN sih”, tetapi bagi saya yang telah setidaknya mengenal mereka; ada banyak hal yang saya pelajari dalam kehidupan serangga. Hal-hal kecil yang dianggap orang mungkin sepele, tetapi hakikatnya besar. Saya ingat, bahwa saya tidak akan pernah bisa menilai sesuatu dengan bijak bila hanya memandang sekilas apalagi dari hal-hal yang kasat mata. Sesekali saya perlu mengamati, mencermati, dan kadang juga terbawa dalam nuansa…sehingga akhirnya, ooh, seperti itulah hal-hal penting itu terungkap dari indahnya kehidupan sederhana makhluk bernama serangga.

Sumber gambar:

http://i235.photobucket.com/albums/ee56/deborahsigala/Clip%20art/honeybee.jpg

http://i811.photobucket.com/albums/zz31/jhrphotography/beeze1.jpg

http://i652.photobucket.com/albums/uu243/elizabeth-howell/beetle.jpg

http://i1224.photobucket.com/albums/ee365/sbarhaug/insects/e7420198.png.

8 thoughts on “Menengok Serangga Sahabat Kita

    1. Dulu pernah ke KSE di Biologi jaman kuliah, tapi kami di IMHPT juga punya tim kajian macam itu.
      Kalau soal minat ke serangga itu karena konsentrasi penjurusan, Puch.. dan keterusan sampai sekarang :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *