Viva Homoptera!

“…Nama kelompokku
Kelompok Homoptera
Yang selalu penuh canda tawa
Ale, Fari, Jupik, dan Anti
Walau empat kami slalu kompak
…”

Lagu kelompok ini begitu lekat dalam ingatanku manakala kami bertemu dalam malam keakraban di Agrowisata Salak Pondoh, Turi tahun 2002 silam. Tak terasa 6 tahun berlalu sudah. Sekilas menilik kisah masa lalu kami, mari dimulakan dengan Bismillah..
Next step? Get closer with us 8)

Ale, si ragil dari sekian banyak bersaudara ini berasal dari Pangkalanbun, Kalimantan. Awal aku mengenalnya tak ada kesan sama sekali, keep silent please! Bagiku si pendiam yang selalu bertopi dengan gaya jalannya yang khas ini, tak ada istimewanya (oops, sorry! :D).
Tak seperti kalimat iklan Axe, ”Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah Anda!”
He’s just an ordinary person like me and the others. Ya, awalnya memang begitu tapi, who knows si pribumi Tanah Borneo ini jauh dari kesan pertamaku. Si Pendiam rupanya doyan ngomong juga, apalagi kalau sudah speaking English. Bla..bla..bla.. Nice speaking partner! Belum lagi dengan kebiasaannya tertawa, panjang nian! Apa maneh yen “disenggaki”, wis ra sida mari le ngguyu! Tahu-tahu sakit perutlah dia ‘dikerjain’ teman-teman.

Selain doyan ketawa, dia juga doyan nulis. Konon kabarnya, beberapa ide cerita trilogi telah ia siapkan. Sayangnya ia masih menunggu fasilitas laptop mampir di hidupnya,

”Tunggu sajalah, kalau sudah dapat laptop tu cerita pasti kelar, segera!” katanya.

Maklumlah, meski tulisan tangannya cukup artistik tapi jangan tanya soal nulis di buku, males pisan euy!

Oya, ngomong soal doyan, ia juga doyan bener makan sambal. Semangkuk soto saja yang mampir bisa 5 sendok makan penuh sambal, bahkan lebih!

”GILA, ini orang!!” pikirku sesaat setelah melihat sendiri adegan per adegannya.

Makan nasi, apa makan sambal lauk nasi? Hihiii.. kagak deh makasih! Tapi, ada satu makanan yang ia tak suka sama sekali: EMPING melinjo. Padahal di rumahku suguhan itu selalu muncul, ya hasil kebun keluargaku khan salah satunya melinjo. Pernah satu ketika, ia memaksakan makan.

”Kapok deh!” katanya, ”lidahku gatal nih jadinya!”

Yang jelas, bukan salah melinjonya.. ada yang keliru mungkin dengan lidah Ale. Hehe.. 😀

Farikhati, si ceriwis ya wiis ini asli kota Tembakau, Temanggung. Sedari awal kenal, dia memang sudah ceriwis, suka ngomong dengan aksennya yang unik + kemayu dan suara melengking. Pantaslah kalau teman-teman menjulukinya ’microphone’. Satu hal yang takkan bisa kulupakan adalah ekspresinya saat tertawa. Kedua bola matanya bakal tersembunyi, yang tinggal kelopak mata yang mengatup..dan merem deh! Kata orang Jawa, ”gari sak jliritan!”

Meski tubuhnya mungil, bukan berarti tak banyak aktivitas. Kecil-kecil cabe rawit. Aku ingat benar beberapa kali ada event ia maju sebagai penanggung jawab konsumsi. Bersamaku pula ia pernah menyusuri lorong-lorong pasar Kranggan: cari snack! Belum lagi aktivitasnya sebagai BuKom HMI Pertanian, I give her two thumbs!

Nah, yang perlu dicatat adalah rekornya yang satu ini. Di HPT angkatan 2002, ia-lah yang paling awal menikah, tepat di bulan Desember 2005 silam. Hebatnya, kami tak pernah tahu kalau dia akan menikah. Dua-tiga hari sebelum hari H, barulah ia mengaku.

”Teman-teman, datang ya ke nikahanku, hehe..”pintanya kala itu.

Surprise!!! Ia berhasil membuat kami terbengong-bengong.. Haaa?! Nikah? Sama siapa?! Yang mana sih orangnya? Rasa penasaran pun menggejolak di benak kami, hingga akhirnya ’memaksa’ kami datang ke acara akad nikahnya nun jauh di lereng gunung. Thanks berat ya, Ri.. akhirnya aku bisa menikmati udara Temanggung untuk kali pertamanya.

Jupik.. itu aku. Nama julukan yang ’aneh’ inilah wujud sayang mereka kepadaku. Padahal di rumah nama panggilanku Jatu, eh ya sudah.. anggap saja nambah koleksi nama aliasku, hehe :D. Mau cerita apa ya soal diriku? Ah, teman-teman juga pasti tahu bagaimana Jupik yang suka sekali pasang senyum lebar setiap kali kamera stand by, CHEESE..sampai-sampai seorang dosen di jurusanku, Pak Arif Wibowo, menjulukiku ’Mingkem Sewu’ saat memergoki gayaku berfoto. Hahaha 😀

Anti, lengkapnya Siswanti.. tapi beberapa kawan memanggilnya Setro. Waduh, koq ra nyambung yaa? 😛
Di awal perkenalan, aku hanya tahu gadis mungil ini punya kakak yang juga berkuliah di Fak Pertanian; dulu lulusan SMU Muhammadiyah II Yogya. Seingatku ia juga sempat merasakan padatnya kota Jakarta sebelum akhirnya terdampar bersama kami di pilihan kedua/ketiga SPMB, HPT UGM. Walhasil, ia juga pernah mengatakan ’kecemplung’ di HPT saat malam keakraban itu. Meski pun beberapa senior sempat protes dengan istilah tersebut, perlahan tapi pasti rasa sayang itu pun tumbuh. Dan, itulah menyebabkan kami tetap tinggal dan lulus sebagai Sarjana Pertanian.
Kembali ke Anti, hehe.. ga mau kalah sama Tukul Arwana! Hmm, ia bisa memainkan gitar, alat musik yang sedari dulu bikin aku mupeng..pengen bisa. Di acara keakraban itu, ia pula yang mengiringi kami, kelompok Homoptera, menyanyikan lagu KLA Project, Yogyakarta. Ah, senangnya bisa bernyanyi seperti malam itu.. kapan lagi ya?

Humh, itulah sekilas kenangan kelompok Homoptera berikut sepenggal kisah empat orang anggotanya. Viva Homoptera! 😀

-Karangsari, 12 Desember 2009-

2 thoughts on “Viva Homoptera!

  1. Keren banget tulisan kamu Chyie, kamu mang punya bakat menulis. gaya bahasamu aja dah seperti seorang penulis berpengalaman (pengalaman nulis surat cinta ya hehehe). Apa yang kamu tulis tentang aLuL juga mengena banget. Mungkin itu karena kamu salah satu sahabat aLuL yang tahu banget aLuL ya Chyie… Really, I was so impresssed reading this article and I am, I will, and always hehehe… Ur writing always give me inspiration. Know why? cz u write with heart. U gave a soul in every single word of them. As if I can feel what u felt at the moment u wrote it…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *