My Beloved Ezy

Ezy? Ya, Ezy. Perkenalkan ialah Ezy, sahabatku. Bukan manusia, bukan pula binatang peliharaan. Dialah Ezy, kuda besiku. Panjang cerita hingga ia menemani hari-hariku sampai detik ini. Dulu Ia berasal dari kota yang ramai, Jakarta, tepatnya Salemba, Jakarta Pusat. Pemiliknya yang kala itu masih berstatus mahasiswa memindahtangankan Ezy kepada Paklik Hari, adik ragil ibu yang kini tinggal di Jaka Sampurna, Bekasi. Ezy lahir tahun 1997, dari sebuah perusahaan motor terkemuka, Honda. Sebagai motor yang lahir dengan tipe Astrea Grand C-100, Ezy termasuk yang tangguh. Iya, kala itu, saat kali pertamanya ia diboyong ke Jogja setahun setelah ia lahir, 1998.

Pertama kali kulihat penampilannya, wuah..garang! (kaya apa ya? macan kali, hehe :P) Hmm, dan waktu itu namanya belum sekeren sekarang, hihi :D, B 5220 XA. Si Xaxa, kala itu belumlah akrab denganku. Ya, itu karena setelah ia hijrah ke kota kelahiranku, bapak (alm.) yang menggunakannya untuk transportasi sehari hari rumah-kantor PP hingga 2 tahun kemudian, 2000.

my beloved EzySelepas kepergian bapak untuk selamanya, ibu pun mengamanahiku untuk mengendarai motor beliau. Sebuah awal yang sulit harus kutempuh bersamanya. Kalau di tahun pertama SMU bapaklah yang dengan sabar mengantar-jemputku, tahun keduaku aku harus melakukan semuanya sendiri. Dari yang tadinya suka sekali merengek minta ini dan itu, menjadi yang suka mondar-mandir sendiri. Seperti kata pepatah, bisa karena biasa. Hanya, kadang aku yang masih belia kurang sabar dan sering kali bertanya-tanya sendiri.

“Apa enaknya begini? Mengapa Tuhan tak adil padaku? Mengapa tak diberikan-NYA kepadaku kesempatan agar Bapak bisa melihatku berjuang? Mengapa Tuhan tak izinkan Bapak bertahan lebih lama lagi?” pikirku kala itu.

Beribu pertanyaan “mengapa” urung terjawab karena lama-kelamaan aku lelah. Lebih baik menjalaninya tanpa banyak ba-bi-bu, aku capai harus berpikir dan menjawab satu per satu pertanyaan itu. Akhirnya, aku pun berdamai. Jadilah Xaxa yang menemani hari-hari sekolahku. Tidak ada lagi bapak yang menyunggingkan senyumnya setelah aku turun dari boncengan dan mohon pamit. Everything’s changed!

Namun, kesendirian yang kupikir dan kutanyakan pada Tuhan rupanya salah kumengerti. Kepergian bapak memang membuat segalanya berubah, tetapi ada hikmah di sebaliknya. Bersama Xaxa, kujalani hari-hari lebih mandiri. Miriplah seperti setrikaan, hehe :D. Ikut ekskul seni drama-lah, KIR-lah, PMR-lah.. Kusibukkan diriku, dan Xaxa-lah yang setia mengantarku tanpa mengeluh sedikit pun. Bahkan, banyak sekali cerita semasa SMU yang kami alami bersama. Mulai dari berangkat olah raga lepas subuh hari, hingga kemalaman gara-gara lembur makalah lomba karya ilmiah remaja. Ck..ck..ck.. rupanya aku belajar. Perlahan tapi pasti menjadi tangguh bersama sahabatku ini.

Lepas kelulusan, makin banyak hal yang kami lalui bersama. Apalagi saat di tahun kedua kuliah aku direkrut menjadi tutoress di dua buah lembaga bimbingan sekaligus. Setidaknya kala itu empat kali dalam seminggu kuajak ia mengukur jalan ke rumah dua orang siswaku. Hmm, lain waktu aku akan berkisah tentang suka dukaku melalui perjalanan panjang untuk mendapatkan pengalaman menjadi guru yang baik. Tunggu tanggal mainnya.. (ciee.. :D)

Ok, di tahun kedua kuliah itu pun sesuatu terjadi. Apa itu? Xaxa akan hijrah sepenuhnya ke Jogja. Ya, ia akan dimutasikan dari Jakarta ke kabupaten tempatku berdomisili, Sleman. Kalau sebelumnya dengan plat Jakarta, sekalipun ia habis-habisan menempuh perjalanan di Jogja, pajak tahunannya akan tetap masuk ke Jakarta. Hmm, kalau dipikir-pikir itu tidak adil untuk Jogja. Iya, menggunakan fasilitas jalan berarti berkontribusi merusak jalan. Sementara pajak tahunan malah masuk ke daerah lain, coba pikir apa itu adil? Dan lagi, mengingat akan lebih mudah bagiku untuk mengurus perpanjangan STNK setiap tahunnya, maka Paklik menyegerakan proses mutasi. Untunglah, Paklik sudah menguruskan pencabutan berkas di Jakarta. Nah lhooo.. tinggallah aku yang kala itu masih mahasiswa hampir tingkat dua menjajal kemampuan masuk ke “sarang” polisi.. Kira-kira berani nggak ya?

Siapa takut? Tentu, berani! Liburan semester pendek pertamaku yang jatuh di tahun 2003 kulalui dengan banyak hal menantang. Salah satunya, ya itu tadi. Mengakrabkan diri dengan penghuni lingkungan yang mayoritas pria. Ah, dengan modal cuek bebek aku sanggupi tantangan Paklik Hari. Dan.., inilah pengalaman pertamaku menghabiskan waktu terlama di kantor Polres Sleman dan kantor samsat. Kalau kutotal, hmm.. ada sekitar 15 hari alias 1/2 bulan aku mondar-mandir polres-samsat-polres. Entahlah, aku yang memang antusias menulis catatan harian tak luput menyertakan kisah mutasi motorku hingga total dana yang dikeluarkan. Hehe, menyenangkan! 🙂

Akhirnya, per 4 Juli 2003 Xaxa pun resmi berganti kependudukan dan nama, AB 5534 EZ. Sejak saat itulah namanya berubah menjadi Ezy (diambil dari 2 huruf seri yang nangkring di plat nopol, EZ). Entahlah, suka saja menjuluki barang-barang yang kumiliki dengan sebutan berbau maskulin :D.

Hmm, lalu bagaimana kisah seru selanjutnya? Ezy adalah sahabat yang baik, ya seperti yang sudah kukatakan.. kecuali saat hujan turun. (Lhoo?) Bingung? Sini-sini biar kuceritakan. Ezy tipe motor anti-air. Bukan, bukan waterproof; ia tidak betah berlama-lama basah kuyup terutama kehujanan. Kalau sampai dipaksakan, hmm.. jangan harap ia mau membawaku pulang lebih cepat. Ngambeg sih iya! Pfiuh.. memang harus ekstra sabar berpartner dengannya. Itu kalau hari sedang hujan. Lain lagi ceritanya bila hari sedang cerah. Jangan tanya, ia akan melaju kencang. Wush..wush..wush..!! Becak aja kalah! hehehe 😀

Bicara soal menjelajah, Ezy-lah yang paling setia kuajak serta. Dari mulai perjalanan kerja lapangan di Tempel (rumah-tempat KL PP kutempuh setiap hari selama 1 bulan penuh) liburan semester pendek tahun 2005; perjalanan menuju Deles Indah, Klaten PP awal September 2005; perjalanan selama KKN Peduli Gempa Yogya-Jateng Juni-Agustus 2006; serta survei komoditas dan pengambilan sampel penelitian S1 di 5 daerah dengan ketinggian berbeda di Yogyakarta (rute Ngipiksari, Kaliurang hingga Depok, Parangtritis PP) selama 5 minggu berturut November-Desember 2006. Perjalanan panjang yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan, apalagi bila tak ada masalah pun dengan Ezy.

Namun, jangan tanya bila ia sedang ngambeg? Hohoho.. bisa pusing dibuatnya. Pernah satu ketika ia hanya mau dilajukan sekencang kayuhan sepeda onthel, bahkan lebih lambat. Bayangkan, betapa pegalnya duduk lama di atas jok. Waktu tempuh rumah-kampus yang biasanya 20 menit bisa jadi 45 menit bahkan 1 jam. Alamaaak!

Ya, itu terjadi selepas lulus kuliah, sekitar seminggu setelah hari wisudaku, 20 November 2007. Bisa jadi, Ezy memang telanjur kepayahan menjalani hari-hari sok sibuk bersamaku. Apalagi, belum jadi lulus aku sudah ditawari untuk membantu pengujian riset disertasi seorang dosen Universitas Negeri Semarang yang sedang mengambil studi S3 di HPT UGM (Ir. Dyah Rini Indriyanti, M.P., akrab kusapa Bu Dyah)..alhasil, tidak ada jeda istirahat barang sehari pun bagi Ezy yang kala itu sudah berumur 10 tahun. Hmm, susah juga.. dapat kerjaan tapi koq si partner ini ga bisa diajak kerja sama. Aku pun yang habis-habisan kala itu (belum balik modal gara-gara bayar biaya penelitian dan wisuda hehe :P), belum bisa membawanya segera ke bengkel. Oh, poor Ezy..hiks 🙁 Tapi, syukurlah aku masih bisa bertahan sampai kucuran dana mengalir lagi. Ugh, leganya.. rasanya bak menemukan oase di tengah teriknya padang pasir (ceileee..) Alhamdulillah ya Rabb.. 😀

Lucu lagi ceritanya kalau Ezy terpaksa “kupaksa” melaju di tengah hujan. Hohoho, beberapa orang teman kampus pernah mengalami kejadian konyol ini bersamaku. Yang paling sering tentu adik ragilku, Di. Ya, aku punya kewajiban mengantar ke dan menjemputnya dari sekolah. Maklumlah, motor cuma dua. Ezy kubawa, satunya lagi dibawa adik perempuanku, Ning. Jadilah, jatah antar-jemput dibagi-bagi, kadang tanpa jadwal yang jelas. Yang payah kalau aku kebagian jadwal menjemput sore. Sore di Jogja sepanjang musim hujan hampir bisa dipastikan hujan bakal jatuh.. Olala, Ezy pun bakal ngambeg dengan suksesnya. Mogok lagi.. mogok lagi.. ngambeg niyee 😀
So, ini dia beberapa tips yang biasa kulakukan kalau Ezy hampir ngambeg. Sederhana saja:

1. Kalau hujan rintik masih bisa diterobos?
Ezy akan kulajukan perlahan -gigi 1 atau 2 saja-

2. Kalau hujannya sedang [ini hanya bisa pakai feeling, hehe :)] sementara Ezy mulai tersengal-sengal tak karuan..? Aku akan meneriakinya dengan semangat, “Go Ezy, Go Ezy, Goooooo…!!!”

3. Kalau hujan deras apalagi pakai angin?
Mending berhenti deh, menepi ke bangunan yang aman. Lebih asyik lagi kalau mandegnya pas di warung makan. Dingin-dingin makan yang hangat-hangat..Siiiip!

NB: Jangan pernah mencoba tips kedua pada motor Anda bila tidak ingin dianggap mirip orang aneh atau gila, hihi 😛

Yaah, begitulah Ezy sahabatku.. Duniaku sungguh takkan pernah seberwarna ini tanpa kehadirannya. Jadi, kalau sampai ada yang memintaku menjualnya suatu hari nanti? Oh, betapa sedihnya. Semoga tidak akan pernah terjadi.. Amiin..

Special for Ezy:
Thanks a lot for our endless friendship, for every single kilometer we made so far.. Thanks
😀

-Bulaksumur, 15 Juli 2010-

my beloved EZy
for my beloved EZy

28 thoughts on “My Beloved Ezy

    1. Ga jadi Sa, hihi 😛 Habis tema yang tadi.. sempit benar. Tulisanku jadi kelihatan “terlalu RAMPING” makanya batal deh.. urung..! 😀
      Ezy? Dia seh masih jomblo, kaya yang punya.. 8)

        1. promosi? boleh, Sa hehe.. 😀
          btw, pasar mana yang mau nampung orang kaya Phie?
          hoho, jangan promosi ke pasar hewan lho, ntar yang datang si mbek & si moo.. kan berabe 🙂

    1. Amiiin yaa Robbal’alamiin..
      Iya makasih, Ezy akan selalu saya jaga bagaimana pun keadaannya saat ini. Yup, sahabat sejati ada di kala suka maupun duka.

        1. waduuh… pliz, aja lebay 🙂 nanti si Naga Bonar teriak lagi,
          “Apa kata orang-orang Jogja?!”

          Jalani hidup penuh rahmat & berkah ini sebaik-baiknya saja, Sa.. nanti juga bakal ketemu yang terbaik; yakin deh sama Allah.. ya khan? 😀

          Ok, deh.. dak tunggu juga postinganmu yang teraktual. Jadi bisa mampir lagi ke blogmu.

  1. hahaha.. hidupmu aq nilai emang berwarna dengan adanya ezy..
    apalagi dengan adanya tips kedua itu wkwkwkwkwk.. haduh makasih buatQ ketawa sepagi ini..
    salam buat ezy nya.. go go go ezy.. ^ ^v

    salam
    kanvasmaya

    1. Beneran Puch, hahaha, 😀 lha ya gimana.. wong sering berhasil tuh! Hmm, jadi ingat buku karangan Dr Masaru Emoto soal air..benda mati yang ternyata punya “jiwa”. Dak pikir Ezy pun sama, ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
      Jadi kalau sahabat sedang butuh dukungan, spesial buat Ezy, ya penyemangatnya semacam itu, hehe 🙂

  2. kisah kita mirip mba..motor q namanya supri,diambil dr merk supra (peninggalan almh.ibu juga)
    walaupun udah dibeliin baru sm kakak q,tapi aku tetep milih si supri.. 😀

  3. ibarat sepasg kekasih…ezy ni setia bgt ya bubu………aq jg punya kayak ezy..dulu menemaniku sekolah dr kelas SMA..tp setahun ini udh pindah tangan sama kakak ponakanq :'(

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *