Si Merah dan Dua Dasawarsa Kami

Saya sering memberi nama barang-barang pribadi dengan warnanya, termasuk si Merah: mushaf pertama saya. Tak terasa tahun ini Merah telah bersama saya selama 20 tahun. Angka yang tidak pernah saya duga jauh sebelumnya ketika saya meminta Ibu membelikan mushaf di sebuah lapak buku di Pasar Pakem. Entah, tidak ada angin pun hujan, kala itu pandangan

Manusia Sambal

Manusia Sambal, begitulah saya menjulukinya. Nama lengkapnya Aleryovan Nahli Erlangga, tapi kami di HPT 2002 akrab memanggilnya Nahli, Ale, atau Alul saja. Maklum, selama hampir lima tahun perkuliahan, ia hanya memakai nama tengahnya. Entah, demi apa dia menyembunyikan nama lengkapnya. Konon katanya, ia telah diberi mandat oleh seseorang untuk menyimpan baik-baik nama awal dan akhirnya.

Antara 'Berkeliling Dunia' dan 'Membelah Atom'

Berada di dekat anak-anak sering menorehkan cerita seru dan lucu. Seperti beberapa waktu lalu saat saya berkesempatan menemani Bintang dan Dana belajar. Meski usianya berbeda, (Dana duduk di bangku kelas 8, sementara Bintang duduk di kelas 6), dari pengamatan selama ini, saya menjumpai beberapa kemiripan dari mereka: anak laki-laki, sulung, suka ngobrol (baca: talkative), berimajinasi,

Mengintip Keseriusan Dana dan Irma

Belajar supaya ilmu nyantol  itu sederhana modalnya, niat dan serius. Seperti juga dua orang siswa saya berikut ini, Dana dan Irma. Mereka sama-sama duduk di bangku SMP kelas VII, meski berbeda sekolah. Perhatikan ya, masing-masing punya gaya keseriusan tersendiri saat mengerjakan soal-soal Matematika, mata pelajaran yang (bagi sebagian anak) menjemukan. Dana serius dengan soal-soal tentang