“sebuah renungan untuk diri sendiri, tamparlah wajahmu sendiri, Phie.. sebelum menampar wajah orang lain”
Dear Klanduhan,
Apa kabarmu saat ini? Maaf, belum lagi sempat ku menyambangimu. Menilik kembali masa kecilku. Bersamamu, bergumul setengah hari di antara gemericik aliranmu. Berlompatan di antara bebatuan sembari tertawa-tawa melihat teman-teman berkejaran. Membongkar bebatuan dan mengintip berapa banyak udang di sebaliknya. Terjun dari tingginya tanggul bendungan dan berenang gaya batu. Berbasahan hingga sore menjelang.
Ah, tahukah? Betapa aku merindukan masa-masa itu. Merindukan kembali jernih airmu yang mengalir menyempurnakan hari-hariku di kaki Merapi. Namun, mengapa sekarang keadaanmu berubah seperti ini? Sampah plastik bertebaran di sepanjang aliranmu. Kaulihat di ujung sana? Bendungan tempatku sering bermain tidak lagi mengalir sederas dulu. Bahkan, kadang kering tertinggal batu-batu. Lebih ke utara lagi, di sana.. di bawah jembatan Ngangkruk, bisakah kaulihat? Sampah menggunung di bantaran timur. Baunya menyengat, tak lagi membuat pemandangan aliranmu memikat. Malang nian engkau, Klanduhan.
Tahukah kau? Ada rasa trenyuh yang berdesakan di sini, di kedalaman hatiku. Sulit sungguh kuhindari. Hingga kadang sesekali terbawa ke alam mimpi. Klanduhan, kudengar kau menangis.
Semua itu seolah menamparku. Apa yang sudah kuperbuat untukmu? Apa bukti aku menyayangimu? Sudahkah aku peduli?
Inocarpus yang kuburu hingga Tijayan, Klaten? Maafkan, aku kurang berfokus pada pembibitannya. Pada awalnya semangat itu menggelora.. tetapi sayang, karena keegoisan dan kesibukan urusanku sendiri, terlalu banyak dari mereka yang mati. Mereka yang tinggal tersisa, memenuhi harapanku sesaat.
Proposal penghijauan yang kuajukan ke forum Kadang Anem IX? Maafkan, betapa aku bersalah menelantarkan itu semua. Menggagasnya, tapi setengah hati bertanggung jawab untuk menindaklanjuti. Berkoar-koar di forum dengan penuh semangat, tapi kenyataannya barang 70% pun belum berkomitmen ke sana. Terkatung-katung di jalan sekadar menjadi bunga rencana.
Hm, beberapa bulan kemudian ketika semangatku meninggi. Kubawa kembali wacana penghijauan itu ke forum pemuda. Aku bicara menginginkan yang terbaik. Secercah harapan kulihat berbinar cemerlang kala forum menyetujui dilaksanakannya program ini. Inocarpus yang tersisa di bawah rindang kanopi pohon jambu di sudut rumah akan bergabung dengan aliranmu, Klanduhanku. Aku girang. Bertanya sana-sini bagaimana sebaiknya meng-handle teknis penanaman di daerah aliran sungaimu.
Seminggu, dua minggu.. Sebulan.. Inocarpus kita bertahan. Ah, tapi salahku sendiri tak memilih orang mengkoordinasi, sementara aku sibuk hilir mudik bak setrika jalan tanpa henti. Inocarpus kita mati, dear Klanduhan. Sedih, tapi menyesal sungguh tiada guna. Ini salahku, salahku bukan?!
Lalu, tahukah engkau.. Setelah sekian lama kupendam pikiran ini. Kemarin sore seseorang menyalakan kembali niatku. Ia berbisik padaku..
Bukalah mata hati kita
Bayangkan masa depan dunia
Bersatu rasa untuk melangkah
Demi meraih harapan
Dunia yang indah
Aku mengerti, sekadar trenyuh takkan membuat aliranmu kembali jernih. Takkan membuat kemarau ini berhenti menguras gemericikmu. Takkan menghilangkan segala tumpukan sampah plastik, popok bayi, dan pembalut yang mengotorimu. Semestinya aku lebih sabar dan keras hati menjalani tekad ini. Tapi aku takkan pernah bisa sendiri. Berharap mereka mau memberiku bantuan untuk melanjutkan ide ini kembali. Bersama-sama memberi yang terbaik untukmu, Klanduhan.. agar semua ini tak lagi sekadar bunga rencana. Aku berharap, semoga..
Bayangkanlah kita semua
berjalan bersama
menuju hidup damai sejahtera
Sempatkanlah untuk melihat
di sekitar kita
Ada kesenjangan antara manusia
Lihat sekitar kita ..
(Sekitar Kita – Krakatau Band)
*terinspirasi oleh “sentilan” Mak Mira Sahid (@ayankmira), Makmin grup facebook Kelompok Emak2 Blogger
ndak perlu menampar wajah mbak, yg perlu hanya introspeksi dan juga melakuka hasil introspeksi ^^
terima kasih, Mas Imam.
saya sedang perlu didukung 🙂
Klanduhan itu letaknya dimana to mbak?
di kampungku, Puch
kalau Puch naik ke Kaliurang, pas melintasi Jl Kaliurang km 12,5 (jembatan Buk Bengkong) sebelum Indomaret km 13, nah itu Klanduhan
weh, deket rumahnya temenku itu berarti
Memang di mananya, Puch? Hm, jangan-jangan tetanggaku ❓
hmmm…. kayaknya tak hanya klanduhan yah… hampir smua bagian dunia di Indonesia terkhusus, banyak yang tak terawat seperti dulu. kita terlalu mementingkan pribadi, hingga tak sempat atau menyempatkan diri berinteraksi dengan alam 🙁
saya hanya bisa melakukan hal kecil tanpa arti, dg doa mengiringi smoga akan bertambah orang yang baik hati seperti mbak Phi 😀
Ah iya Ri.. meski sudah terbiasa dengan itu semua, tapi tetap saja ada yang ngganjel di hati ta?
Masih berusaha lebih baik lagi, Ri. Nyatanya di atas langit masih ada langit. Aamiin.. Semoga ya 🙂