Baca puisi? Iya, ini tentu menjadi semacam nostalgia. Hmm, dulu saat saya duduk di bangku SD Inpres Candirejo, beberapa kali saya mewakili sekolah untuk lomba baca puisi; pernah juga mengikuti lomba baca puisi di tingkat kampung, biasalah lomba 17-an. 😉 Setelah melewati masa-masa itu, di SMP level saya hanya mampu bertahan di skala sekolah (baca: pembaca doa); terutama saat OSIS kepengurusan 1997—1998 diberi mandat untuk menjadi petugas upacara. Meski terdengar nothing so special dengan kegiatan ini, ada sebuah kenangan yang tidak pernah saya lupa.
Pagi itu digelar upacara perpisahan dengan kepala sekolah kami, Ibu Murdiyati, B.A. Beliau sudah masuk masa pensiun, jadi tak bisa lagi mengajar di sekolah kami. Oh, so sad. 😥 Fyi, Ibu Murdiyati adalah guru Matematika saat saya duduk di bangku kelas 1. Seminggu sebelum acara, saya sudah diburu-buru latihan di Ruang BK. Lhoo? Bukan diberi hukuman lho. Ibu Sularsih, guru BK kami, ‘menculik’ saya dan beberapa pengurus OSIS untuk membicarakan upacara perpisahan tersebut (termasuk latihan baca doa—yang disampaikan seperti membaca puisi) di ruang BK. Karena saya terbiasa berlatih sendirian di depan cermin; maka latihan di ruang BK itu hanya penuh guyon. Pfft… 🙁 tapi, syukur alhamdulillah, saat hari H urusan saya berlangsung sangat lancar, bahkan bonus banjir airmata.
Banjir airmata? Ya. Entah, dalam penghayatan doa pagi itu, saya merasakan betapa sedih berpisah dengan guru Matematika pertama saya di SMPN 3 Ngaglik. Dari beliau saya mengenal himpunan, melukis diagram Venn, mengenal anu alias variabel, menggambar himpunan penyelesaian dalam bentuk garis bilangan, juga menentukan jurusan tiga angka. Ah, betapa kenangan Ibu Murdiyati itu juga teringat oleh saya tiap kali belajar Matematika bersama siswa/siswi SMP kelas VII.
Usai moment paling menguras airmata di SMP itu, saya tidak menemukan acara baca puisi serupa yang membutuhkan penghayatan penuh. Di SMA pun tidak. Baru setelah saya lulus kuliah, kesempatan itu kembali datang. Saya menawarkan diri membacakan Surat untuk Guru karya Prof. Triwibowo Yuwono (dekan Fak. Pertanian UGM kala itu) di acara Dies Natalis FP UGM ke-63 tahun 2009 bertajuk Guru & Sesepuh in Memorium, sebuah acara yang dikhususkan untuk para sesepuh, pensiunan baik pegawai maupun dosen FP. Ah, ya, alangkah saya merasa terhormat untuk melakukan hal tersebut. Unforgettable moment. 🙂
Moment baca puisi selanjutnya kembali datang setahun kemudian, tepatnya akhir September 2010. Waktu itu saya sudah berpindah ‘habitat’ dari Lab. Entomologi Dasar ke ruang Redaksi Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia (JPTI). Berbeda dengan acara Guru & Sesepuh in Memorium, dalam kesempatan tersebut saya diminta membacakan sebuah puisi karya sesepuh dunia Ilmu Serangga (baca: Entomologi) Indonesia dalam acara pembukaan Seminar Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) yang bertepatan pula dengan ulang tahun PEI ke-40. Saya pikir acara sedemikian serius itu akan cair jika ada sesuatu yang segar dan menghibur. Maka, dari bendel puisi yang disodorkan oleh Dr. Nugroho S.P., saya memilih sebuah puisi berjudul Cerita Lalat dan Presiden. Saat tampil pun, saya bergaya rada konyol: berdandan ala nenek-nenek. Tentu saja, itu menarik perhatian orang-orang yang datang. Lha, gimana enggak, mana ada nenek-nenek berkebaya nyasar di tengah acara resmi begitu, sih? Hehehe, saya jadi tertawa kalau ingat acara itu. 😆
Jadi, setelah sekian lama tak terdengar membaca puisi …? Well, saya tidak benar-benar berhenti menikmati puisi sebenarnya. Memiliki portfolio online semacam Larik Syair membuat saya setidaknya tetap menelurkan karya. Bukan saja membaca, melainkan menulis puisi. Bekerja di balik layar, entah … itu selangkah lebih maju, menurut saya. Cuma, kalau ada kesempatan lagi, saya masih akan menggunakannya. Seperti ketika beberapa hari lalu saya menemukan pengumuman macam begini di TL twitter. Lomba baca puisi Heartline FM? Direkam? Berhadiah pula? Olala, betapa menggoda iman! 😀
Wah udh buanyakk bgt nih yg kirim voice utk ikutan lomba baca puisi NKRI. Bagaimana dgn kamu? info klik di –> http://t.co/UrnyT1npE2
— Heartline100.6 FM (@Heartline1006FM) August 4, 2014
*lalu berpikir*
Hmm, kira-kira saya masih bisa nggak, ya membawakan puisi? Terakhir kalinya tampil sudah 4 tahun lalu.
Hmm, kira-kira bakal sebersih apa rekaman suara saya dengan ponsel seadanya? *lirik si Sam*
Hmm, kira-kira bakal sejelas apa artikulasi saya, mengingat sudah sangat jarang saya berlatih?
….
Ada banyak sekali faktor pembatas yang bikin saya nyaris keder, tapi justru itu yang menantang. Maka, bismillah … pada tanggal 6 Agustus petang (H-1 dari tenggat lomba), saya pun berhasil mengirim voice berupa rekaman baca puisi ke alamat e-mail panitia. Apapun hasilnya nanti, saya pikir bukan fokus utama; yang terpenting saya berusaha sebaik-baiknya, … dan, inilah dia Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini karya Taufik Ismail 🙂
sudah lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget
iyaaa hehehe 😀