“Mbak Jat, ayoo.. maem sik!” Ning, adik pertama saya berteriak dari ruang makan. Tampaknya ia sudah bersiap bangun lebih pagi. Kaki Merapi memang sedang lebih dingin setelah semalam diguyur hujan. Lepas sholat Subuh, saya masih asyik di kamar. Membalas beberapa SMS ucapan, di antaranya dari Captain. Tahun lalu, ia menelepon.. tahun ini, semua seolah lebih
Penulis: Phie
Lukisan Langit untuk Er
“Coba lihat itu.. Di sana!” teriakku. “Iya, itu bagus seperti gajah. Yang itu.. lihat!” jawabmu. “Iya.. itu seperti hamparan bunga kol. Hahaha..” Er.. Aku terngiang suara tawa dan celotehan kita. Ketika tanganku menunjuk ke atas, ke arah gumpalan awan yang selalu kita puja. Ingatkah dengan pohon kersen di samping rumahku? Dari sana biasanya kita akan
Selamat Berbahagia, Nan..
Dear, Nan.. Mengenalmu adalah sebuah kesyukuran. Kalimat pertama ini tak bermaksud melebih-lebihkan. Ya, kau tentu tahu seperti apa aku dan bagaimana caraku memelihara persahabatan kita. Kau yang dulu, pertama kalinya bertemu di depan ruang akademik saat gedung fakultas kita masih di Sekip awal tahun ajaran 2002. Banyak sekali hal yang kuterima darimu, sosok mungil yang
Rembang, Menelusur Jejak Kartini
Kalau ada yang bertanya, “Siapa yang belum kenal dengan Rembang?”, sebelum empat tahun lalu, saya termasuk orang yang harus mengacungkan jari. Saya mengakui bahwa saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Padahal sudah sejak lama saya berkeinginan singgah di kota ini. Semenjak menemukan sebuah buku yang terselip di salah satu rak di toko buku