Hai, siapa di antara Sahabat yang suka membaca puisi? Hmm, bicara soal membaca puisi, tak lengkap rasanya jika kita hanya mengandalkan suara lantang atau mendayu-dayu.
Setuju?
Oke, lanjut!
Menambahkan musik pengiring saat membaca puisi akan menyempurnakan suasana; kadang juga mendramatisir, sehingga penikmat pun terikut hanyut menikmati puisi yang dibacakan. Tidak hanya saat pentas, saat melakukan rekaman ala profesional padahal amatir, menambahkan musik pengiring yang tepat akan menguatkan kesan dan pesan yang disampaikan.
Genre musik yang dipilih pun bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan jenis puisi yang dibaca. Butuh sense of auditory yang baik untuk memadukan musik-apa-yang-pas dengan puisi-yang-akan-dibaca. Misalnya, puisi bertema nasionalisme/kepahlawanan tentu kurang pas jika dipadukan dengan musik klasik-nya Mozart atau Beethoven. Sebaliknya, puisi bertema cecintaan, yang mellow mendayu tentu tidak pas jika diiringi musik heavy metal. 😀 😀
Tenang, sense of auditory bisa dilatih kok, Sahabat. Jangan khawatir jika pada awal uji coba masih kurang baik. Amini saja pepatah lawas ini,
“Practice makes perfect.”
Semakin sering berlatih menggabungkan musik ke rekaman puisi, makin tinggi juga kelas pencapaian kita. Mengapa bisa begitu? Karena secara tidak langsung, proses latihan ini akan mengasah kemampuan. Percaya, deh! 😉
Pengalaman saya menambahkan musik pengiring puisi dimulai bulan Agustus lalu. Yes, I am newbie. Sahabat tentu masih ingat dengan tulisan saya yang berbau tutorial ala kadarnya tentang format rekaman, kan? Setelah berhasil merekam suara untuk dilombakan, saya jadi ketagihan merekam suara. Sebenarnya sekadar meramaikan portfolio puisi saja. Sudah ada Larik Syair yang saya gunakan untuk menyimpan karya secara tertulis; alangkah baiknya jika saya juga punya portfolio audio-nya di SoundCloud, hehehe. Ini sebenarnya maruk atau ga gampang puas? Mungkin dua-duanya, ya? #eh 😛
Demi memenuhi ketagihan tersebut, saya pun merekam kembali suara saya, lalu menggabungkan hasil rekaman dengan musik pengiring. Tak cukup sekali rekam, kadang dua atau tiga kali baru bisa bagus. Sambil merekam suara, seperti biasa, saya mengumpulkan second opinion soal cara merekam yang lebih ringkas, sekaligus menggabungkan rekaman suara dengan musik pengiring tanpa banyak ribet, tanpa harus punya studio rekaman sendiri. 😆 Kapan-kapan ingin juga saya bagi tutorial sederhana tersebut untuk Sahabat semua. Tunggu yang sabar, ya! 😉
Oke, kembali ke tema. Tiap orang punya kesukaan tersendiri dalam memilih musik pengiring puisi. Saya sendiri lebih suka menggunakan musik instrumen saja, dengan tujuan agar puisi yang saya baca tidak saingan dengan vokal si penyanyi. Namun demikian, bukan berarti tidak mungkin menggunakan lagu biasa sebagai iringan; itu kembali pada selera masing-masing. Yang terpenting, fokus harus tetap pada suara si pembaca puisi. Kehadiran musik digunakan sebagai penguat, sebagai penyempurna.
Soal jenis instrumen, ada cukup banyak ragam alat musik yang bisa dilirik. Ada piano, gitar akustik, biola, cello, rebab, kecapi, sitar, harpa, flute, saxophone, seruling/recorder, harmonika, akordion, gamelan, atau alat musik melodi lainnya.
Lalu bagaimana jika tidak punya kemampuan memainkan alat musik melodi?
Saya hanya bisa memainkan recorder, itu pun tidak mahir. Sempat belajar memainkan gitar beberapa tahun lalu, tapi terpaksa berhenti karena si gitar dipinjam oleh teman adik ragil saya dan sayang sekali gitar tersebut tidak dikembalikan oleh si peminjam. *so sad! 🙁 Pun di sisi lain, untuk melakukan perekaman instrumen musik memerlukan keterampilan dan perangkat rekam yang lebih canggih. Memangnya saya punya studio rekaman? *mikir ❓
Jadi, apa yang bisa dilakukan?
Koleksi musik relaksasi untuk yoga bisa digunakan juga untuk pengiring puisi, lho, Sahabat. Atau coba Googling, ada banyak contoh musik instrumen hasil karya musisi seperti Kenny G., Vivaldi, Beethoven, Brian Crain, Richard Clayderman atau bahkan musisi lokal, bisa kita jadikan sebagai pengiring. Bila sudah diperoleh musik yang sekiranya pas, lalu padukan. Asah terus level sense of auditory dan kreativitas kita. O ya, satu hal penting lagi: jangan berhenti hanya karena minim fasilitas. Kalau mereka di luar sana bisa berkarya di bidang auditory art, mengapa kita tidak? Sepakat? 😉

wah saya suka banget kak puisi, apalagi yang isi nya tentang cinta 😀
ikutan lomba yuk di blog dicuekin.com 😀
wah saya suka banget kak puisi, apalagi yang isi nya tentang cinta 😀
ikutan lomba yuk di blog dicuekin.com 😀 😀