Klanduhan & Dilema Diaper (1)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Setengah delapan pagi, Ning dan saya merapat di tebing kali Klanduhan. Seperangkul tikar kotor harus kami cuci. Ya, lebaran sebentar lagi, sudah menjadi kebiasaan kami untuk menggelar tikar di rumah menyambut tamu, sanak kerabat yang datang di hari yang sangat dinantikan itu. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya ibu turut serta. Namun, karena kondisi beliau belum memungkinkan karena cidera akibat terpeleset beberapa hari sebelumnya, maka kamilah yang mengambil alih pekerjaan itu.

Bicara soal Klanduhan, saya pernah beberapa kali menyinggungnya di tulisan saya sebelumnya. Klanduhan, kali yang memberi saya beberapa inspirasi sejak masa kanak-kanak. Maklumlah saya dulu bocah petualang (itu terasa hingga sekarang) dan salah satu tempat favorit saya adalah kali ini. Lama sekali rasanya tidak menyambangi Klanduhan. Sejak rencana penghijauan, penanaman bibit, hingga inspeksi yang tertunda karena kesibukan saya di kampus cukup menyita waktu. Hampir tiap hari pulang sore bahkan malam, pfiuuh.. Alhamdulillaah.

Sabtu pagi itu rasanya seperti nostalgia setelah setahun lalu mencuci tikar, kami pun kembali. Tenang saja, tidak ada sabun yang kami bawa. Toh tikar-tikar tersebut hanya kotor oleh debu, bukan najis.. jadi mencucinya dengan cara menyikat, insyaAllah sudah dapat menjamin tikar-tikar tersebut bersih kembali.

***

Butuh perjuangan ekstra untuk sampai ke tepian kali. Kami harus menuruni tebing curam tepat di belakang rumah mbah Manto Suroyo. Hehe, bolehlah untuk latihan hiking. Sesampainya kami di tepian.. wah, rupanya kami dapat teman. Bu Marsih dan kedua putri kecilnya, Putri dan Fitri, sudah siap sedia merendam tikar juga.. tapi, eh.. mengapa mereka bertiga tidak lekas mencuci? Mereka malah berkumpul mengerumun sesuatu di atas bebatuan. Asyik sekali! Rupanya, mereka sedang asyik menangkap udang. Ah ya, asyik memang melihat udang-udang main petak umpet. Meski saya hampir tak pernah berani menangkap udang yang besar, takut dengan capitnya.

“Wah, ada saingan nih! Hehehe..” teriak saya dari kejauhan.

“Eh.. mbak Jatu, mbak Ning ta? Tumben..” sahut Bu Marsih

“Inggih, Bulik.. mumpung libur!” jawab kami sembari berjalan menuju aliran Klanduhan yang saat ini tak sederas masa lalu.

diaperKami pun memulai aktivitas mencuci setelah merendam tikar. Enam gulung tikar dibagi berdua, adil sesuai dengan kekuatan. Pagi-pagi merasakan cerahnya cuaca dan dinginnya air Klanduhan, siapa yang tak keasyikan. Sembari mencuci, Ning dan saya mengobrol tentang masa lalu, masa kanak-kanak kami bersama Klanduhan hingga sekitar setengah jam kemudian seorang ibu, tetangga kami juga, turun bersama putri balitanya membawa seember penuh cucian. Klanduhan memang sejak dulu menjadi pemenuh hasrat MCK bagi beberapa keluarga yang tinggal di sekitar tebing. Setelah peradaban makin berkembang, mungkin hanya (maaf) buang hajat yang sedikit berkurang.. Namun.., yang saya jumpai pagi itu membuat saya tercengang.

“Mbak, ternyata benar ya yang Mbak bilang soal disposable itu..,” kata Ning sambil memandang jauh ke depan.

Saya yang berdiri membelakangi pemandangan yang ia saksikan tidak ngeh sama sekali,

“Maksudnya?”

“Itu.. arah jam 6!” jawab Ning sambil terus memandangi sesuatu di belakang punggung saya.

Saya pun membalikkan badan. Ibu yang tadinya jongkok mencuci di situ sudah tidak ada, begitu pula dengan anak balitanya. Yang saya temui adalah disposable diaper alias popok sekali pakai bertebaran di badan kali. Tidak tanggung-tanggung, 10 buah sekaligus!

O ooow..! Bibir saya membulat bak kue cemplon.

***

-bersambung-

sumber gambar: http://health.howstuffworks.com/skin-care/information/health-factors/cloth-diapers-better.htm

Tag , , ,

13 thoughts on “Klanduhan & Dilema Diaper (1)

    1. Benar, Pak Mars.. semestinya mereka tahu harus bagaimana membuang sampah tersebut, bukan malah mengorbankan sungai untuk memenuhi hasrat mereka 🙁

    1. eh, Mbak Put 🙂
      Alhamdulillah, kabar baik dari kaki Merapi.
      Mohon maaf lahir bathin juga, Mbakyu. Semoga tahun depan kita masih diperkenankan bersua kembali dengan Ramadhan. Aamiin

      hehe, kemarin udah bewe ke rumah mayanya Mbak. insyaAllah sedang dipersiapkan tulisannya. Tunggu tanggal mainnya :mrgreen:

  1. membaca postingan ini, saya jadi teringat dengan sebuah puisi saya berikut:

    SEHARI SAJA

    walau sehari saja aku menjadi sungai
    sepanjang dada ini terasa tak lagi beruang
    batu dan pasir betapa berhimpitan
    dalam cairan limbah yang kian menghitam

    ikan-ikan yang berenang di air mataku
    lihatlah, bersusah payah bertahan
    dari aroma busuk yang berhamburan
    di antara kaleng bekas dan plastik
    yang berserakan, timbul dan tenggelam

    walau sehari saja aku menjadi sungai
    sepanjang ususku terasa dialiri tembaga
    yang membara di pertambangan celaka
    tak sekadar mual atau ingin memuntah
    sungguh nyeri melilit tiada lagi tara

    Bumidamai, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *