Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudera
Bersama teman bertualang
Sepenggal syair OST Ninja Hatori di atas sepertinya menjadi lagu yang pas menemani perjalanan saya dan si Hitam. Semenjak kehadirannya pertengahan tahun 2012, hari-hari makin berwarna karena dia sangat nyaman dipakai. Kini, ke manapun saya pergi dolan, ia selalu saya pakai. Baiklah, saya akan mulai berkisah bagaimana bisa si Hitam menjadi barang kesayangan seperti sekarang.
Pertemuan saya dan Aka berawal dari sebuah pemberitahuan seorang anggota Forum Muslimah Tangguh (FMT), Isma. Ini soal acara jelajah wisata, di mana lagi kalau bukan Merapi tercinta #tsaah
Seminggu sebelumnya, setelah melakukan pembayaran pendaftaran peserta trekking secara kolektif bersama anggota tim FMT, saya pun pergi ke sebuah toko di bilangan Jl. Prof. Yohanes, Sagan. Nama tokonya, Duarte. Ingat benar waktu itu sore. Sepulang dari redaksi saya sempatkan mampir ke toko perlengkapan kegiatan outdoor tersebut.
Bersama Ezy, saya melaju menembus jalanan yang lumayan padat. Sesampainya di sana, hmm.. mulailah mata saya melakukan seleksi. Melirik kanan-kiri, mana saja yang sekiranya pas dengan kocek. Saya beradu cepat dengan seorang laki-laki muda. Ya, tidak ada model khusus perempuan, jadilah… siapa cepat, dia dapat. Tak lebih dari 5 menit saya pun terpikat oleh sebuah sandal gunung berwarna hitam berukuran 40 merek akasaka. Langsung saja, saya ambil dan mencobanya. Solnya tebal, lumayan mantap untuk berjalan. Cuma, ada satu catatan: sedikit lebih panjang untuk kaki saya.
O ya, apa kabar rival saya? Si pemuda tadi sekilas memperhatikan saya yang berjalan mematut diri. Mungkin sekadar ingin meyakinkan bahwa ia tidak bermimpi melihat perempuan mungil berkerudung dengan rok panjang di sebelahnya membeli sebuah sandal gunung. 😆 Saya sih cuek saja. Kebiasaan! 
Setelah saya rasa pas, akhirnya saya membulatkan niat untuk bertanya kepada seorang pramuniaga.
“Mas, yang ukuran lebih kecil dari ini, masih ada?”
“Oh, sebentar ya, Mbak..”
Beberapa menit kemudian pramuniaga tersebut membawa stok untuk saya.
“Ini ukuran paling kecil, Mbak.”
“Berapa, Mas?”
“39”
“Oke, saya coba, boleh?”
“Silakan, Mbak..”
Lalu, mulailah saya memakainya lalu berlenggak-lenggok, mengepas. Paaas! Di kocek, di kaki, dan di hati #eaaa 😆
“Mas, saya jadi beli yang ini ya”
***
Wajah saya sumringah sore itu. Senang punya kawan baru sepasang sandal gunung. Seminggu kemudian, saya nganyari dan mengajak Aka menjelajah lereng Merapi. Acara yang digagas oleh Departemen Pariwisata Kabupaten Sleman ini berlangsung pada hari Ahad tanggal 24 Juni 2012, bertajuk “Ekspedisi Lereng Merapi”. Hm, keren ya? Sekeren jalur jelajahnya yang menurut panitia sepanjang 8 km, setidaknya. Setelah saya pikir dan rasakan sendiri jalur Gardu Pandang—Jl. Boyong—Kaliurang selatan—Kaliurang timur—Bukit Pronojiwo/Taman Nasional Gunung Merapi—Telaga Putri—Gardu Pandang itu kok ya lebih dari 8 km ya. Ahahaha alhamdulillah, gempor juga kedua kaki! *buru-buru oles krim Coun**pain*

Penjelajahan pertama Aka tersebut berlanjut di tahun berikutnya, 2013. Februari, saya mengajaknya mbolang ke lereng Menoreh bersama teman-teman Sahabat Lingkungan dan Walhi Jogja. Akhir Maret lalu saya mengajak serta Aka setengah hari mendaki bukit Turgo bersama teman-teman FMT. Tentunya di sela-sela waktu penjelajahan ia masih setia juga menemani saya mengendarai Ezy ke rumah siswa. Akhir pekan ini? InsyaAllah, Sabtu, 1 Juni, saya diajak seorang sahabat lawas mbolang ke Kinahrejo, Cangkringan untuk ke sekian kali. Pokoknya kalau sudah mbolang bersama Aka, wiiis.. mantap! 
*Diikutsertakan dalam Giveaway Wedges, Kaos, dan Buku di www.argalitha.blogspot.com
Melihat sepak terjang si AKA dan empunya, pasti menang nih GA nya…keren. petualanganya….
Hehehe, Mbak Lies bisa saja 😳 Aamiin..
Ayoo, kita pakai sandal gunung trus lari ke hutan, Mbak! 😀 #eh
iya mbak jarang2 ada cewek berkerudung beli sandal outdoor gitu..hehe
keren dah..
hehe iya ya? kalau FMT pada ngumpul hampir semuanya pakai sandal gunung begitu
mau donk AKA nya..
aku mau mbolang, ajakkin donk phie ke gunung 😀
Ayoo, donk Teh.. mainlah ke kaki Merapi 😀
Nanti kita ke gunung bareng2 😀
mbolang terus yaa mbak, mbok niar diajakin dong 😀
Makanya ke Jogja jangan cuma sehari, Be.. 😛
kayak tau si AKA… Ehm … owww, bener, yangkemarin dipake kan? 😀
Terimakasih udah ikutan Mbakkk ^^
Hihihi.. yang empu gawe merapat!
Pastilah Tha ingat, yang kupakai waktu nggoncengkan dirimu ke kopdar TDA itu 😆
Sami-sami ya, sukses untuk GA-nya, Tha 😀
dahsyat dah mbak yang satu ini, aktivitasnya segudang…
sering banget mbolang,, iiihhh bikin ngiri…
Puch juga daahsyaatt!! 😀
Kapan-kapan kalau FMT ada acara, ikut lagi ya biar bisa mbolang rame-rame 😀
si aka keliatannya ringkih tapi itu yg enak buat naik gunung ya..
kalau sepatu kets boleh nggak?
Tadinya saya juga agak ragu, Bun maubeli sandal gunung, tetapi setelah mendengar testimoni teman2 yg sudah lebih dulu berpengalaman..lalu saya mencobanya sendiri, si sandal Wiro Sableng itu cukup tangguh diajak menjelajah.
Sepatu kets boleh, Bun.. cuma gak bisa sembarang pilih. Kalau yg sept Aka atau sepatu daki memang sudah didesain khusus utk outdoor activity, insyaAllah aman & nyaman. Nyoba yuuk, Bunda! 😀
walopun sdkt lebih panjang tapi terbukti tangguh, ya 🙂
Iya, Mbak.. kelihatannya seperti itu kalau saya foto dlm kondisi kaki selonjor. Kalau sudah dipakai buat jalan baru terlihat, paaasss!! 😀
Sukses ngontesnya Phi 🙂
terima kasih, Mbak Ika 😀