Manusia Sambal

Manusia Sambal, begitulah saya menjulukinya. Nama lengkapnya Aleryovan Nahli Erlangga, tapi kami di HPT 2002 akrab memanggilnya Nahli, Ale, atau Alul saja. Maklum, selama hampir lima tahun perkuliahan, ia hanya memakai nama tengahnya. Entah, demi apa dia menyembunyikan nama lengkapnya. Konon katanya, ia telah diberi mandat oleh seseorang untuk menyimpan baik-baik nama awal dan akhirnya. Entahlah …. ๐Ÿ˜

Oke, kembali ke tema, sesuai dengan julukan โ€œmanusia sambalโ€ tersebut, dia memiliki kebiasaan aneh (dilihat dari sudut pandang saya sebagai manusia yang gak begitu doyan pedas ๐Ÿ˜› ). Ya, mau terlihat normal bagaimana, kalau makan soto semangkuk saja sambal yang diambil bisa 4–5 sendok makan?! ๐Ÿ˜ฏ Wah, itu sih namanya makan sambal lauk soto! ๐Ÿ˜† *peace, Lul! ๐Ÿ˜›

Alhasil, saya hanya bisa geleng kepala melihat Ale beraksi ketika kami keluar makan siang rame-rame.

sambal cobek (sumber: Wikipedia)
sambal cobek (sumber: Wikipedia)

O ya, kenapa tiba-tiba saya bikin postingan tentang Ale, si Manusia Sambal? Karena saya baru saja mampir dari blog sebelah. Di sana saya membaca sebuah artikel tentang sambal, eh maksud saya makanan pedas, dan rupanya itu membangkitkan ingatan saya terhadap teman kuliah saya ini.

Nah, menurut yang saya baca, orang-orang yang suka dengan makanan pedas bisa dibilang beruntung dari sisi kesehatan. Mengapa demikian? Karena ada beberapa hal baik dari mengonsumsi makanan pedas. Ingin tahu detailnya, Sahabat? Selengkapnya silakan ditilik di Tujuh Fakta Penting Bagi Penyuka Pedas.

Ya, mau dikata apa, masing-masing orang punya kebiasaan makan tersendiri, termasuk juga teman saya, si Manusia Sambal. Selagi makanan pedas itu tak memberi efek samping, utamanya terhadap saluran pencernaan, sih, saya pikir tak perlu berkomentar yang gimanagimana, selain (mungkin) aneh #eh. *lari sebelum dipentung Ale ๐Ÿ˜›

0 thoughts on “Manusia Sambal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *