Akhir pekan, SENDIRI. Entahlah, bagi saya saat seperti itu tidak selalu identik dengan sedih, murung, patah semangat, atau sekian perasaan tak nyaman lainnya. Sendiri bagi saya merupakan saat merenung terbaik, saat mawas diri terindah. Seperti yang semalam saya alami. Penggalan percakapan santai dengan Fikar (lebih akrab disapa Ikang) sepanjang perjalanan pulang les terngiang-ngiang di telinga.
Penulis: Phie
Pasukan Kuning nan Istimewa
Akhir pekan di minggu pertama bulan Desember ini, langit Jogja sering sekali mendung. Seperti juga jelang sore ini, titik hujan tiba-tiba terdengar menabuhi barisan genting rumah. Dengan sigap saya pun keluar menuju sumur, mengangkati jemuran. Hm, masih basah tapi terpaksa harus diangkat. Lepas kewajiban, pandangan mata saya pun beradu dengan dua kotak berisi makhluk-makhluk mungil.
Kisah di Balik Gambar: Suddenly in Love
Sore itu mata saya terbelalak membaca sebuah SMS darinya. “Jup, aku pengen nikah..” What??! 😯 Antara sadar dan tidak, saya menggaruk kepala yang tak gatal, berharap apa yang saya baca beberapa detik sebelumnya adalah adegan sebuah drama. Tapi, kira-kira saya mentas di mana? Kalau ini latihannya, lalu mengapa suara cut sang sutradara tak kunjung terdengar?
Dear Pahlawanku – Terima Kasih, Bung Atas Inspirasimu
Yogyakarta, 10 November 2011 Dear Bung Tomo, Seolah baru kemarin kami berjalan sembari berbincang menyusuri trotoar kawasan Malioboro. Semarak lagu perjuangan pun sepertinya masih sayup terdengar mengiring langkah Ning dan saya. Ada pameran seni dan hasil kerajinan dalam rangka Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tahun 2011 di Museum Benteng Vredeburg. Mumpung hari itu libur Isra Mi’raj,